Teman Yang Bermuka Dua

Teman Yang Bermuka Dua
Mengumpulkan keberanian


__ADS_3

pada malam hari ringgo menemui kedua orang tuanya, dengan penuh keberanian dan kepercayaan dirinya dia mendatangi kedua orang tuannya. ''pak, ma( sapa Ringgo) duduk melantai mendekati kedua orang tuannya, "iya na ada apa(sapa mama Ringgo)


dengan muka yang sendu dan lesu Ringgo ingin mengatakan maksudnya, tetapi bagaikan ada batu yang memenuhi kedua kerongkongannya sehingga dia tidak dapat mengatakan dan hanya terbata bata " pak, ma, Ringgo ing..gin......,


"ada apa nak, jawab bapak Ringgo yang sedang duduk memperhatikan anaknya yang ingin mengatakan sesuatu, iya kamu bilang saja nak apa yang ingin kamu katakan, timpal mamanya ringgo.


dengan perasaan gugup Ringgo mengumpulkan keberanian yang dia miliki untuk mengatakan sesuatu kepada kedua orang tuannya, dan dia diam beberapa detik untuk memulai pembicaraannya dan setelah dia merasa bahwa dia akan bilang kepada kedua orang tuannya bahwa dia ingin sekolah di kota supaya nantinya dia dapat sambil bekerja dan melanjutkan kuliah, dan semua yang dilaluinya nanti tidak akan membebani kedua orang tua nya.


berapa detik kemudian Ringgo mengatakan maksudnya dengan penuh keberanian, " pak, ma saya ingin kuliah di kota", sebelum kalimatnya berakhir " bapak tidak setuju kamu sekolah di kota nak, karena kamu tahu kalo bapak mu ini tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan kuliah mu, apalagi di kota banyak biaya yang kamu perlukan, biaya makan tempat tinggal dan biaya untuk kuliah mu gimana bapak harus mencukupinya, sedangkan hasil sawah kita semakin hari semakin menurun, untuk makan saja kita kekurangan nak, apalagi kalo kamu kuliah ucap bapak ringgo.


"tapi pak Ringgo kan bisa sambil kerja di sana untuk membiayai hidup Ringgo ucap Ringgo, "udahlah na kita bisa makan tidur dan kamu bisa tamat SMA juga udah syukur, kamu sendiri tahu gimana, sebentar lagi adikmu masuk SMP juga perlu biaya. pakai apa bapak dan mama bayar masuk kalian, ucap mama Ringgo. tampak sedih di raut wajah Ringgo karena tidak disetujui niat nya untuk melanjutkan kuliahnya.

__ADS_1


dan Ringgo masih bersikukuh dengan membulatkan tekadnya untuk melanjutkan kuliahnya dan dia tetap ingin kuliah, meski dia tahu bahwa kedua orang tuannya tidak mampu dan tidak mempunyai biaya untuk dia melanjutkan kuliahnya.


tampak kesedihan dari raut wajah anak tertuanya yang membuat kedua orang tua Ringgo tidak tega melihat muka anak kesayangan nya tersebut.


dan untuk memecah keheningan yang terjadi beberapa menit bapak Ringgo menyuruh anak nya tersebut untuk segera beristirahat karena malam sudah menunjukan pukul 21.00 dan rasa lelah juga terpancarkan dari raut wajah bapaknya Ringgo karena setiap hari bapaknya ke sawah menggarap sawah mereka, sawah tersebut merupakan satu-satunya mata pencarian bapak ringgo.


"sudah lah na mending kamu tidur dan besok bantu bapak di sawah ucap bapaknya, kedua orang tua Ringgo pun pergi ke kamarnya dan diikuti Ringgo. didalam kamar kedua orang tua nya Ringgo memikirkan apa yang di katakan anak nya tersebut, "gimana ni Bu ucap bapaknya Ringgo, apa kita jual aja sawah milik kita supaya kita bisa memberikan uang kepada Ringgo supaya dia bisa melanjutkan kuliahnya di kota ya Bu, "kalo kita jual sawah makan apa lagi kita pak jawab ibu nya Ringgo, sedangkan kita hanya punya sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup kita pak ucap ibunya Ringgo.


"iya pak ibu pun sedih lihat muka si Ringgo, tapi mau gimana. kalo jual sawah bapak kerja apa lagi dan pakai apa bapak beli perlengkapan rumah, untuk makan dan kehidupan kita sehari-hari pak. " bapak juga bingung Bu jawab bapaknya Ringgo, sudah lah pak mending bapak tidur, bapak juga capek kan seharian ke sawah tadi ucap ibunya Ringgo, " iya Bu bapak sanggat capek, tangan dan kaki bapak pegal, nyangkul siang tadi jawab bapaknya Ringgo, " sini ibu pijit biar enakan badan bapak ucap ibunya Ringgo, sambil memijit suaminya ibu Ringgo memikirkan keinginan anak nya tersebut.


tidak berapa lama terdengarlah suara ngorok dari bapaknya Ringgo who..ho..ho..wus..wu..s.. dan ibunya Ringgo pun menyudahi pijitan nya, dan dia bangun dari tempat tidurnya menatapi kotak kecil yang ada di dalam lemarinya memandangi benda kecil yang mengkilat tersebut.

__ADS_1


apa aku harus jual cincin pernikahan ku ini, untuk anak ku melanjutkan kuliahnya, ucap mamanya Ringgo dalam hatinya, tapi inikan cincin pernikahan ku sama mas Lukman, dan hanya ini benda serta harta yang kami punya,


ibunya Ringgo pun menyimpan benda tersebut kedalam kotak yang dimana tempat dia mengambil barang tersebut, dengan membulatkan hatinya untuk menjual cincin pernikahannya tersebut supaya dia mempunyai uang untuk di berikan pada anak nya tersebut,


dan dia pun kembali ke tempat tidur nya untuk tidur, tetapi sangat susah sekali untuk dia memejamkan matanya dan dia memikirkan keinginan dari anaknya tersebut karena dia tahu bahwa sejak dari kecil Ringgo sanggat ingin melanjutkan kuliahnya di kota.


flasback


"ma nanti kalo Ringgo sudah selesai SMP Ringgo mau lanjut SMA ma soalnya Ringgo akan kuliah supaya nanti Ringgo bisa bekerja di kantor dan dapat uang yang banyak supaya bisa bawa bapak dan mama liburan kayak di film-film ya ma. " iya nak kamu sekolah yang rajin yah supaya kamu bisa lanjut sekolah di SMA jawab mamanya Ringgo,


"kalo Ringgo sudah kerja Ringgo akan beli mobil, rumah dan tv ucap Ringgo kecil, dan mamanya diam melihat tingkah anak nya tersebut, dan terharu.

__ADS_1


Dan semenjak saat itu mamanya Ringgo selalu menyisihkan uang yang di berikan oleh bapaknya Ringgo untuk di tabung supaya kedepannya di bisa membantu suaminya membiayai kebutuhan sekolah anaknya, dan tanpa sepengetahuan suaminya, tampak kesedihan yang terpancar saat dia mengingat ucapan anak nya tersebut dan sering dia menitikkan air mata, karena dia tahu bahwa dengan kondisinya seperti ini mana mungkin mereka akan memenuhi mimpi anaknya tersebut, meski selama ini dia menabung dan hampir tidak pernah dia dengan suaminya untuk membeli baju atau pun celana untuk kebutuhan mereka, dia terus menabung. tanpa rasa lelah mereka tetap tersenyum


__ADS_2