Teman Yang Bermuka Dua

Teman Yang Bermuka Dua
Gelisah


__ADS_3

bapak nya terus menyantap makanan yang di bawakan oleh ringga seakan akan dia sangat lapar, padahal dia sangat tidak nafsu makan, melihat hal tersebut membuat perasaan Ringgo menjadi sedikit lega, meski banyak yang di pikir kan nya mengenai kesehatan bapak nya, dia tidak mau terjadi sesuatu kepada bapak nya, apalagi nanti nya ketika dia kuliah di kota, siapa yang akan membantu mama nya di kampung jika hal yang tidak di ingin kan terjadi kepada ayah nya, hal tersebut membuat Ringgo cemas untuk memikirkan nya, bapaknya Ringgo melihat kecemasan yang tampak di raut wajah anak nya tersebut, tetapi dia selalu ceria seakan akan tidak ada nya penyakit di dalam tubuh nya, dia membuat seakan akan dia baik baik saja supaya kedua anak nya tersebut tidak memikirkan yang aneh aneh tentang diri nya


pak Lukman selesai makan dan menyimpan rantang yang di bawakan oleh ringga tadi di atas lemari di samping tempat tidur nya " pak Lukman gimana perasaan nya, sebentar saya periksa ucap pak mantri, gimana pak apa masih ada yang sakit, terima kasih pak mantri, " tidak ada lagi yang sakit pak" , " nanti sore pak Lukman bisa keluar dari ruang perawatan setelah infus nya habis dan ini obat untuk pak Lukman, siapa tahu terjadi pusing yang mendadak, pak Lukman harus segera meminumnya ucap, iya pak terimakasih banyak, iya pak sama sama, dan hal tersebut merupakan sudah menjadi kewajiban saya, saya permisi pak, iya pak mantri sekali lagi terima kasih banyak iya pak dengan anggukan mantri Dio meninggal kan ruang rawat tersebut


setelah melakukan perawatan di klinik mereka pun balik kerumahnya mereka, " pak bapak istirahat yah, jangan kemana mana dulu " ucap Ringgo kepada ayahnya " kalo bapak istirahat terus, siapa yang ke sawah, gimana kita sekeluarga makan nak, sedang kan kamu harus belajar untuk tes masuk kuliah mu, kasian mama mu harus ke sawah sendirian " " bapak ke sawah setelah bapak merasa lebih enakan saja yah pak " karena kesulitan mencari alasan supaya ayah nya beristirahat akhir nya ringgo menyerah dan dia tidak akan melarang ayahnya ke sawah karena dia sadar jika ayah nya tidak ke sawah siapa yang mencari nafkah untuk mereka, apa yang harus di makan oleh keluarga nantinya


dengan perasaan sesak penuh pikiran di kepala nya Ringgo segera pamit keluar dari kamar ayahnya, dan dia segera ke kamar nya, dia merenung kan apa yang akan di lakukan nya apakah lanjut kuliah atau tetap berada di kampung halaman nya untuk memenuhi kebutuhan keluarga Menganti kan ayah nya, " Tuhan apa yang harus Ringgo lakukan ya Tuhan," gerutu Ringgo di dalam hati nya

__ADS_1


" Ringgo, Ringgo, " iya sahut Ringgo di dalam kamar nya " sebentar " , Ringgo segera menghampiri suara yang memanggil nya tersebut, dan dia mendapati bahwa orang tersebut sedang bercengkerama dengan ibu nya,


" bibi" sambil menyalami tangan ibu nya Ringgo, " gimana keadaan paman bibi ", " paman mu baik baik saja nak" " saya dengar - dengar paman pingsan yah bi " iya tadi paman mu pingsan dan untung ada warga di tempat kejadian membawa paman mu ke klinik, syukur lah kalo gitu, eh sin kapan datang, " barusan, kebetulan mampir tadi soalnya saya dengar bahwa bapak tadi siang pingsan di sawah, syukurlah kalo beliau udah baik baik saja keadaannya, iya sin untung ada paman Jon dan yang lain nya di tempat kejadian, kalo tidak ada mereka saya Ndak tahu apa yang terjadi dengan bapak, dengan raut wajah yang sedih sambil menjelaskan kepada Sinta perihal yang terjadi dengan ayah nya, sebentar yah nak bibi ke belakang dulu ,


" sepertinya aku Ndak bisa lanjut kuliah sin, aku harus membantu ibu, di kampung, kalo aku kuliah tidak ada yang bisa bantu ibu nanti nya kalo ayah sakit lagi, seperti nya emang udah jalan takdir ku tidak bisa kuliah, " ring jangan menyerah dong kamu harus banyak berdoa, supaya tuhan memberikan keputusan uang baik nanti nya yang tidak membuat kamu kecewa, " iya sin kamu tahu sendiri kalo ayah ku sakit di keluarga ku hanya aku yang besar selain bapak ku, siapa yang harus bantu ibu ku nanti nya kerja kalo aku kuliah, " kamu yang sabar aja Ringgo Tuhan tidak akan pernah memberikan cobaan pada umatnya melebihi kemampuan dan iman yang di miliki semuanya pasti akan indah pada waktu nya kamu jalani saja dulu dan berusaha, semoga bapakmu lekas pulih dan tidak lagi kambuh penyakitnya, " amin" ucap Ringgo dan ibu nya serentak


Sinta pun pulang ke rumah nya, sesampai di rumah dia langsung masuk ke dalam rumah nya

__ADS_1


" habis dari mana kamu sayang....kok udah sore baliknya, " eh mama, habis dari rumah Ringgo ma, ma tadi bapak nya Ringgo pingsan di sawah, " gimana keadaannya sekarang, tadi sih kata ibu nya Ringgo sudah baikan setelah di rawat di klinik bu, " syukurlah kalo gitu, udah mandi gih sana, udah itu kita makan malam ucap mama sinta


" ma Sinta ke kamar dulu yah, mau mandi..." iya cepat gih sana, Sinta pun pergi ke kamar nya untuk mandi dan dia segera ke kamar mandi setelah mengambil handuk dari kamarnya, sedang mamanya Sinta lagi sibuk di dapur menyiapkan lauk pauk untuk keluarga nya makan malam


Sinta merupakan anak kesayangan dari kedua orang tua nya, tidak jarang sekali mereka menghabiskan uang untuk membeli barang barang yang di sukai oleh Sinta oleh kedua orang tua nya, meski sangat jarang Sinta meminta uang untuk berpergian, karena Sinta merupakan gadis yang baik, dan sopan, dan bukan gadis yang manja meski dia merupakan anak tunggal dan terlahir dari keluarga yang berkecukupan, ya meski tidak kaya kaya banget, setidak nya nasib nya lebih beruntung dari pada si Ringgo laki laki yang sejak lama di sukai nya


bapak Sinta merupakan seorang karyawan di sebuah perusahaan dan mempunyai jabatan yang lumayan, sehingga hal tersebut yang membuat Sinta sering kali di manjakan dengan mainan yang jarang sekali gadis gadis lain punya, tetapi tidak jarang Sinta memberikan kepada anak anak yang lebih muda darinya supaya bisa merasakan kebahagiaan mempunyai mainan

__ADS_1


__ADS_2