Tempus Itinerantur

Tempus Itinerantur
TEMPUS 21 : Latihan (2)


__ADS_3

“K-Kita langsung mulai?” Tanyaku yang tergagap.


Freya langsung menghampiriku dan menepuk pelan lengan kananku. Perempuan itu terkekeh. “Lo pasti gugup dan ragu ya?” Tanyanya perhatian.


Aku tentu mengangguk. “Dan gue agak takut aja sih.”


“Bawa jam sakunya kan?” Tanya Jarvis.


Dan aku langsung mengeluarkan jam saku milikku yang kusimpan di kantong celanaku bagian kiri. “Bawa kok, ini.” Ujarku menunjukkannya pada Jarvis.


Jarvis mengangguk. Bibir keringnya menyunggingkan senyum padaku. Lalu ia mengeluarkan benda yang ia pakai sebagai kalung. Jam saku miliknya ia gunakan sebagai kalung.


Dan kini aku mulai paham mengapa aku dan Jarvis merasa saling tertarik, karena memang satu server dan memiliki benda yang fungsinya sama.


Ah, perihal kata tertarik, tentu saja bukan tertarik dalam ranah cinta. Tapi tertarik karena dalam ranah satu server kemampuan. Tertarik dalam arti lain seperti saling menarik, terkoneksi, dan terpaut dalam hubungan pikiran maupun batin.


Freya juga menunjukkan jam saku miliknya. Namun jam saku milik Freya berwarna silver, tidak keemasan seperti milikku dan Jarvis.


“Karena gue beda server, jadi lo musti latihan sama Jarvis doang. Gue bisa mantau kalian dengan diam di sini aja. Dan lo gak perlu merasa takut Bell. Kita bukan orang jahat yang mau memanfaatkan lo kok. Gue sama Jarvis, serius mau ngebantu lo ngontrol kemampuan lo. Dan kalau lo udah bisa, kita mulai melakukan misi tersebut.” Ujar Freya.


Aku mengangguk. “Lo… umm, ayah lo juga hilang?” Tanyaku yang masih sedikit canggung jika berbicara dengan Freya.


Freya tersenyum dan mengangguk. “Yap, bokap gue juga hilang. Dan gue juga anak tunggal, sama seperti Jarvis. Lo juga anak tunggal?” Tanyanya.


Dan aku pun menggelengkan kepala. “Gue anak bungsu dari empat bersaudara.” Ujarku memberitahu.

__ADS_1


Reaksi Freya tampak terdiam sejenak sambil terus menatapku. “Berarti… lo punya kakak-kakak yang bisa---”


Perkataan Freya terhenti karena Jarvis mencekal siku tangan kiri perempuan itu. “Frey… please, jangan terlalu obsesi lagi. Kita tujuannya ke sini buat semakin saling kenal, latihan, dan kerjasama. Come on, jangan berpikir buat musti ngebentuk sebuah kelompok yang berisi banyak orang. Kita harus belajar dari kesalahan yang udah lalu. Jangan ngebikin diri kita musti pindah kampus lagi.” Ujar Jarvis yang menurutku nadanya terdengar menggertak Freya.


Aku pun langsung menelan ludah. Menatap mereka berdua yang masih tidak kumengerti sebenarnya mereka kenapa dan tujuan mereka apa.


“Tapi Vis, kan kakak-kakaknya Bellova bisa ngebantu kita kalau mereka bersedia gabung.” Ucap Freya.


Jarvis menggelengkan kepala. “Keluarga Bellova gak seperti yang lo pikir. Gue yang udah mengenal beberapa hal tentang dia. Keluarganya yakni ibu dan kakak-kakaknya, mereka gak terlalu serius kayak kita. Ibunya Bellova pasrah dan dari dulu gak pernah ceritain apa-apa ke Bellova, begitu juga kakak-kakaknya yang tidak terlalu jelas menggunakan kemampuan mereka. Cukup kita bertiga aja dulu.”


Dan Freya tampak mengatur napasnya, lalu menganggukkan kepala. “Sorry ya Bell. Gue gak bermaksud terlalu aneh seperti tadi. Gue… gue cuman mau semua ini segera berakhir dan para ayah yang hilang segera kembali ke keluarga masing-masing.” Ujarnya padaku.


Terlihat jelas sorot mata Freya tampak sudah lelah mencari cara untuk bisa menyelesaikan semua ini. Dia sama sepertiku, menjadi seorang anak perempuan yang begitu rindu sosok sang ayah.


Aku pun mendekat dan tersenyum. “Gue emang belum tahu banyak hal, tapi… I feel you. Dan gue juga ingin hidup normal. Nggak kayak begini. Let’s do this, together.” Ujarku dengan menggenggam tangan kirinya.


Aku mengangguk, lalu aku dan Jarvis mulai berdiri di tengah-tengah tanah lapang. Sedangkan Freya tetap berdiri dan bersandar di depan kap mobil milik Jarvis.


Jarvis menyuruhku menggenggam jam saku di tangan kanan. “Jadi Bell… setiap lo mau teleportasi, pastikan jam saku lo selalu berada di genggaman tangan. Terserah tangan kanan atau pun tangan kiri. Senyaman lo boleh aja kok. Dan yang pasti, sebelum teleportasi, kita harus fokus pada tempat tujuan. Oke, gue tentukan tujuan teleportasi kita adalah gudang kampus di gedung A management, gimana?”


“Boleh. Di sana sepi sih.” Ujarku setuju.


“Oke. Jadi yang lo lakukan adalah memejamkan mata, fokus ngebayangin tempat tujuan lo, dan rasakan power keluar dari tangan lo sehingga detik jarum jam saku mulai terasa bergerak. Dan lo denger jelas detik jarum jamnya. Jika sudah seperti itu, gue yakin akan berhasil. Kita mulai ya… lo duluan.” Tuturnya.


Aku pun mengangguk tanpa berkata lagi. Mulai kupejamkan mataku dan kugenggam erat jam saku milikku.

__ADS_1


Sesuai dengan perkataan Jarvis, aku hanya fokus membayangkan lokasi gudang kampus gedung fakultasku. Aku memang pernah ke sana dan masuk. Sebuah gudang kosong berisi barang-barang kebutuhan para dosen seperti kertas HVS, stok penghapus papan tulis, dan banyak tumpukan buku modul yang tersisa banyak. Serta barang-barang lainnya.


Namun di sini aku masih kesulitan. Belum juga kudengar detik jarum jam. Namun aku sudah merasakan pergerakan jarum jam saku yang kugenggam.


Kutingkatkan lagi kefokusanku. Lalu… SPLASH!!


Kubuka kedua mataku langsung. Dan melihat di mana keberadaanku saat ini. Sebuah bagian dalam gudang kosong di gedung fakultasku. Sesuai dengan apa yang kupikirkan.


Tentu aku langsung tersenyum senang. Aku berhasil langsung menuju ke tempat tujuan teleportasi tanpa meleset. Tidak seperti waktu itu saat aku tidak memiliki tujuan teleportasi yang jelas, maka aku bermunculan layar-layar dimensi yang menampilkan banyak tempat.


Di detik berikutnya, Jarvis langsung muncul di hadapanku. Dia tersenyum juga. “You did it, Bell.” Ujarnya bangga.


Aku mengangguk. “Jadi semudah ini caranya? Pantas saja gue waktu itu sering tersesat, karena gue gak menetapkan ke mana tujuan gue sebelum melakukan teleportasi. Dan gue juga selalu tertarik ke tempat lo berada.”


“Iya, jika tidak tentu tujuan lo maka akan seperti itu. Tapi untung saja lo tertarik pada di mana gue berada. Bukan tertarik pada layar dimensi yang menunjukkan tempat lain. Teleportasi ini cukup berbahaya Bell, karena jika lo beneran gak fokus dan layar dimensi sampai menunjukkan tempat-tempat jauh bahkan berada di luar negeri, gak menutup kemungkinan bahwa lo akan mendarat di luar negeri. Dan kalau kejadian begitu, lalu lo panik karena takut gak bisa balik, cukup repot sih.”


Tentu mendengar itu aku sedikit panik. “Hah? Iya kah? Terus kalau gitu gimana cara baliknya?”


“Kebanyakan pulang secara manual. Karena rasa panik bakalan bikin kita susah fokus buat teleportasi lagi, dan kalau dipaksain bisa memicu efek samping seperti pusing, mual, dan mimisan. Makanya, gue mau ngelatih lo, supaya lo gak sampai tersesat kayak gitu.”


“Aaahh,, serem juga ya…”


“Oke, sekarang kita balik ke tempat tadi ya. Bayangin dan fokus sama kayak tadi.” Tutur Jarvis lagi.


Aku mengangguk, dan Jarvis sudah hilang lebih dulu. Dia benar-benar secepat itu. Ternyata Jarvis memang lebih ahli dari aku. Sudah se-ahli itu.

__ADS_1


*****


__ADS_2