Tempus Itinerantur

Tempus Itinerantur
TEMPUS 28 : Berujung Pertengkaran


__ADS_3

Rasanya gelisah dan panik. Mengingat tadi Jarvis dan Freya meninggalkanku begitu saja tanpa memberikan penjelasan dan alasan mengapa mereka berdua seperti itu. Kesimpulannya, mereka berhenti melatihku bukan karena aku lemah dan sakit seperti kemarin. Melainkan karena faktor lain.


Faktor lain itu adalah yang dikatakan oleh Jarvis. Bahwa katanya, penyebab semua komplotan baik menghilang, dikarenakan oleh ayahku. Memangnya apa salah ayahku? Dan dari mana asumsi itu berasal? Dari mana Jarvis dan Freya mendengar hal itu?


Alhasil, aku pulang dengan menyegat sebuah taksi. Selama perjalanan pulang, aku hanya merenung dan diam. Mencoba menggali ulang, mencari tahu mengapa Jarvis bisa berkata seperti itu.


Jika sudah seperti ini keadaannya, yang bisa kulakukan hanya satu. Yaitu berharap salah satu keluargaku bisa menjelaskan semuanya padaku. Dan menurutku, kunci dari semua ini adalah… Bang Wara. Aku harus bicara secara serius dan terbuka dengannya. Jika tidak begitu, maka permasalahan ini tidak akan bisa terselesaikan.


Saat sudah sampai di rumah, kebetulan aku melihat Bang Wara sedang menuangkan jus di dapur. Dapur tampak sepi, karena Ibu dan para karyawannya sedang berada di sebuah hotel. Mengawasi catering di sana.


“Bang… udah pulang duluan?” Tanyaku yang langsung menyapa Bang Wara. Aku pun mendekat ke meja bar yang berada di tepi bagian depan dapur.


Bang Wara tampak tersenyum. Perselisihan antara aku dengannya memang sudah selesai. Kemarin-kemarin, aku sudah meminta maaf padanya tentang pulang telat.


“Hei Lova.. pulang tepat waktu hari ini?” Tanyanya ramah.


Aku mengangguk. “Iya Bang.”


“Nggak molor lagi?”


“Nggak. Temen-temen ada yang skip, jadi aku juga pulang.”


“Ooh, mau jus?”


“Nggak, makasih Bang.”


Lalu Bang Wara mendekatiku sambil menenteng segelas jusnya. “Kenapa? Kok kayaknya lagi murung. Ada masalah apa?” Tanyanya lembut. Seperti biasa, Bang Wara lah yang memang lebih peka padaku.


Aku pun langsung menatapnya dengan serius. “Aku mau bicara serius sama abang. Boleh?”


Bang Wara terkekeh pelan. “Haha, ya boleh lah. Memangnya mau bicara apa?”


“Tentang Ayah.” Ujarku langsung pada topiknya.

__ADS_1


Membuat senyuman di bibir Bang Wara langsung lenyap. Ia menatapku dengan tegas. “Apa yang ingin kamu ketahui?”


Aku menelan ludah pelan. Berbicara dengan Bang Wara dalam mode serius seperti ini memang rasanya tegang. Seperti sedang menghadap seorang dosen yang gampang marah.


“A-ayah itu… apa sebagai penyebab dari semua ini? M-maksudku… apa ayah yang menjadi penyebab semua komplotan baik menghilang bersamanya? Gak cuman ayah aja kan yang hilang. Tapi orang lain juga.” Ujarku pelan, dan aku takut menatap langsung Bang Wara. Jadi kutatap lantai marmer rumah ini yang kupijak.


Kletak!


Suara pantat gelas kaca yang diletakkan Bang Wara ke atas meja bar yang juga berbahan marmer. Sekali lagi aku langsung menelan ludahku.


“Kamu denger itu dari mana dan siapa?” Tanyanya serius, nadanya tegas.


“Aku denger---”


“Ikut abang. Kita bicara di kamar!!” Tegasnya. Membuatku sedikit terperanjat karena kaget dengan nadanya yang meninggi.


Tanpa bengong dulu, aku langsung mengikuti langkah kaki Bang Wara saja. Dan masa bodoh dengan segelas jus yang kelihatannya segar tadi, namun tidak dibawa oleh Bang Wara.


Aku langsung duduk menempatkan diri pada kursi meja kerja Bang Wara. Dan Bang Wara berdiri sambil menatapku. “Jelaskan ke abang sekarang juga. Sebenarnya kamu berteman dengan siapa? Akhir-akhir ini kamu selalu melewati batas.” Tegasnya.


“Umm… aku nggak sengaja kenal mereka kok Bang. Dan mereka duluan yang deketin aku. Terus---”


“Jangan bertele-tele, Lova!! Siapa mereka??”


“Ah, m-mereka… Jarvis dan Freya. Mereka mahasiswa kampus, dua tingkat di atasku. Tapi mereka cukup friendly. Mereka baik dan mereka… sama sepertiku. Sama seperti kita Bang.”


“Apa maksudmu dengan kata ‘sama’?”


Aku menggigit bibir bawahku bagian dalam. Sembari memainkan kuku-kuku jemariku, karena aku cukup tegang. “S-sama kayak kita. Mereka punya kemampuan kayak kita. Jarvis punya kemampuan sama kayak aku. Kalau Freya, kemampuannya sama kayak Kak Elang. Dan kemarin-kemarin itu… sebenarnya aku pergi sama mereka. Aku diajarin mereka cara gunain kemampuanku dengan baik dan benar. Tapi---”


“Tunggu!” Seru Bang Wara yang memotong perkataanku.


Membuatku mendongak dan menatapnya dengan rasa cemas.

__ADS_1


“Jadi kamu berteman sama orang kayak mereka, dan gak kasih tahu ke abang dulu?” Tanya Bang Wara. Ia terlihat kecewa.


“Bang… aku---”


“Itu bukan masalah sepele, Lova!! Kamu itu harus hati-hati di luar sana. Itulah mengapa kamu gak pernah abang kasih kesempatan buat bebas di luar!! Dan itulah kenapa alasan Ibu selalu melarang kamu banyak-banyak keluar. Baru kali ini Ibu hanya ingin memastikan kamu punya teman-teman yang baik. Tapi ternyata… kamu malah menemukan mereka yang---”


“Jarvis sama Freya itu baik, Bang!! Mereka berniat bantuin aku kok. Dan mereka juga antusias buat cari ayah mereka juga!! Selama ini, abang, ah… keluargaku sendiri gak ada yang ngejelasin apa pun ke aku!! Abang, Kak Elang, Kak Ravi, Ibu. Semuanya!!! Mana pernah jelasin ke aku tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah??? Kalian bertiga pun membiarkan kemampuan kalian tenggelam, karena tidak digunakan. Dan kemampuan ini---”


“DENGERIN ABANG DULU, LOVA!!”


“ABANG YANG DENGERIN AKU!! UDAH CUKUP AKU CUMAN DIAM DOANG SEJAK DULU!!! Kita punya kemampuan kayak gini, bukan ada tanpa tujuan. Pasti ada tujuannya untuk apa. Salah satunya, untuk menemukan Ayah!! Kecuali kalau abang dan lainnya gak peduli sama Ayah, maka jawaban itu sudah cukup membuat aku tidak perlu bertanya lagi!!” tandasku kesal.


Tujuanku bertanya baik-baik, malah berujung menjadi sebuah pertengkaran dengan abangku sendiri.


Aku langsung melangkahkan kakiku keluar dari kamar Bang Wara. Pintu kamar memang dibiarkan terbuka, dan saat aku keluar… ternyata ada Ibu yang sedang berdiri diam dalam kondisi yang sepertinya baru saja pulang. Tas selempang hitamnya bahkan masih tergantung di bahu kanannya.


Tentu, aku terkejut dengan keberadaan Ibu. Tak hanya Ibu, tapi Kak Elang juga ada di rumah. Ia sedang berdiri di dekat meja makan dengan segelas air putih yang dia letakkan ke atas meja.


Ibu dan Kak Elang sama-sama menatapku. Tentu saja mereka juga mendengar pertengkaranku dengan Bang Wara.


“Lova…nak, ibu---”


Kali ini, aku tidak kuat menghadapi Ibu. Air mataku jatuh dan langsung berbalik saja tanpa menghiraukan perkataan Ibu. Langkahku cepat dan melewati Kak Elang. Lalu aku berjalan lebih cepat lagi dengan menaiki anak tangga.


BRAK!!


Kututup pintu kamarku dengan kencang. Tak peduli kalau nanti engsel pintunya akan terpengaruh karena hentakan. Tak lupa juga aku langsung mengunci pintu kamar. Tubuhku langsung ambruk ke tengah ranjang. Aku terisak pelan sambil memeluk bantal yang besar.


Aku menangis, karena merasa bersalah dengan perkataanku sendiri tadi. Yang juga menyebut nama Ibu dan menyalahkan Ibu karena tidak pernah memberikan penjelasan apa pun tentang Ayah. Lalu ternyata tadi Ibu mendengarku dan Bang Wara.


Entahlah apa yang mereka bertiga bicarakan di bawah. Tentu Ibu langsung bertanya pada Bang Wara. Begitu juga Kak Elang. Sudah pasti aku dibicarakan.


*****

__ADS_1


__ADS_2