Tempus Itinerantur

Tempus Itinerantur
TEMPUS 23 : Jeda Sejenak


__ADS_3

Aroma obat-obatan menerusuk masuk ke dalam lubang hidungku. Kurasakan bahwa kepalaku masih sedikit pusing dan saat aku membuka kedua mata, pandanganku pertama-tama buram, lalu berangsur menjadi jelas.


Hembusan udara pendingin ruangan itu terdengar samar. Detik jarum jam dinding yang terdengar sedikit jelas. Kuedarkan pandanganku pada area sekitar. Bagian langit-langit berupa plafon yang dicat putih. Semua dinding juga tampak putih. Yang berwarna hanya tirai yang mengelilingi brankarku dan selimut yang menutupi bagian kakiku sampai ke pinggang.


Ini jelas di rumah sakit. Kuangkat tangan kiriku, dan ternyata aku sedang diinfus.


Kepala yang tertunduk di sebelah kanan pinggangku itu, langsung mendongak. Sepertinya ia merasakan pergerakanku. Dia Freya.


“Bell?!! Lo gapapa??” Tanyanya yang terlihat begitu panik.


Aku tersenyum melihatnya panik. “Masih sedikit pusing.” Ujarku pelan.


“Bentar gue panggilin dokter.” Ujar Freya yang langsung berpaling pergi begitu saja.


Padahal aku ingin menghentikannya. Aku hanya ingin dibantu duduk lalu meneguk air mineral saja. Tenggorokanku terasa begitu kering. Kira-kira sudah berapa lama aku pingsan?


Beberapa detik kemudian seorang dokter pria bersama seorang suster langsung datang menghampiriku. Mereka menyibak tirai yang berada di ujung brankarku.


Dokter pun memeriksa keadaanku dan menyinari kedua bola mataku dengan senter kecilnya. Aku pun dibantu duduk setelah diperiksa sejenak.


“Dia sudah baik-baik saja. Tidak ada diagnosa apa-apa, hanya kelelahan saja. Sebaiknya kegiatan yang membuatnya terlalu lelah seperti ini dikurangi terlebih dahulu. Karena tidak baik untuk tubuh. Perbanyak minum air putih juga ya… supaya ion dalam tubuh terjaga. Karena tadi anda sangat lemas dan kekurangan ion. Maka dari itu kami memberikan infus. Nah, setelah infus ini habis, langsung boleh pulang. Saya akan resepkan obat dan vitamin untuk ditebus di apotek.” Ujar Dokter itu pada Freya dan padaku.


Freya pun mengangguk dan aku diam saja dalam keadaan masih lemas. Sementara sang suster mencoba memeriksa dan mengatur kecepatan tetesan cairan infusku.


Setelah duduk, aku merasa begitu letih. Semua tulang dan persendian di tubuhku rasanya pegal-pegal. Seolah-olah aku ini baru saja bertempur atau melakukan perlombaan lari marathon.


“Baik, terima kasih banyak Dok.” Ucap Freya.


Dokter itu mengangguk, lalu ia berlalu pergi bersama suster yang tadi. Aku kembali menatap Freya dan tersenyum kecil. Kurasakan bibirku juga pecah-pecah.


Dan napas Freya langsung terdengar jelas dan panjang. Perempuan itu mengelus dada dan duduk kembali di sebuah kursi yang memang tersedia di samping brankarku.


“Nih, Bell. Minum dulu.” Suruhnya dengan memberikan sebotol air mineral ukuran sedang.

__ADS_1


Tentu aku langsung menerima, karena sudah sangat kehausan.


“Syukur deh Bell lo gak kenapa-napa. Gue sama Jarvis paniiiikk banget. Maafin kita ya. Lo jadi kayak gini. Harusnya, gue dan Jarvis gak buru-buru ngelatih lo.” Ujar Freya yang tampak bersalah.


Setelah minum, aku langsung menggelengkan kepala. “Frey, gue gak kenapa-napa kok santai aja.”


“Santai gimana? Lo aja sampai begini. Udah dua jam setengah lo gak sadar. Sekarang udah jam setengah tujuh malam.”


Aku langsung melotot. “J-jam setengah tujuh malam lo bilang??”


Freya mengangguk dan memberikan ponselku. “Nih, ponsel lo. Tadi ada banyak panggilan, tentu aja gak berani gue angkat.”


Aku menerima benda itu. Kulihat memang ada belasan panggilan tak terjawab dari Bang Wara dan Ibu. Astaga, padahal aku janji tidak akan pulang melewati maghrib untuk hari pertama ini. Sudahlah, sebaiknya nanti aku akan mencari sebuah alasan, apa pun itu.


Kuletakkan saja ponselku di atas meja nakas. Lalu aku berpaling pada Freya lagi.


“Terus Jarvis mana?” Tanyaku. Karena sejak aku sadar tadi, memang hanya Freya yang ada di dekatku.


Aku pun mengangguk paham.


“Terus nanti lo kalau pulang gimana, Bell?” Tanya Freya.


“Gimana apanya Frey?”


“Ya gimana kalau keluarga lo lihat lo gak sehat begini? Muka lo tuh masih pucet. Dan gak mungkin begitu sampai rumah lo bisa segeran kayak tadi. Kalau keluarga lo curiga gimana? Soalnya gue denger dari Jarvis, kalau keluarga lo gak tahu lo latihan kemampuan ini sama orang luar.” Ujar Freya yang tampak khawatir.


Aku terkekeh pelan. “Lo gak perlu khawatirin itu, Frey. Gue ijinnya lagi kerja kelompok kok. Jadi nanti kalian berdua cukup anterin gue di depan rumah. Dan gue punya alasan gue sendiri kok. Soal tampilan, lo bawa sejenis liptint nggak?”


Freya mengangguk.


“Ya udah, nanti gue minta liptintnya.” Ujarku dengan tersenyum. Sebenarnya aku panik, tapi aku berusaha tidak panik. Kalau panik nanti pasti akan terlihat jelas oleh kakak-kakakku, apalagi Kak Elang.


Kemudian aku menceritakan yang terjadi pada Freya. Bahwa aku tadi itu memang tersesat ke tempat lain dan aku tidak menyangka bahwa tubuhku tiba-tiba tadi langsung lemah dan mimisan. Padahal, saat berhasil kembali ke tempat di mana Jarvis dan Freya berada, aku sesenang itu dan merasa berhasil.

__ADS_1


Tapi ternyata tubuhku memang menunjukkan kelemahan itu. Mungkin aku memang harus banyak belajar lagi.


Namun Freya melarangku dulu. Katanya, lebih baik setelah satu atau dua minggu saja mulai latihan lagi. Sementara ini dia menyuruhku memulihkan tubuhku terlebih dahulu. Dan aku menurut saja, aku pun tidak mau jika hal yang kulakukan ini melukai tubuhku sendiri.


***


Aku nyengir lebar begitu yang membukakan pintu dari dalam rumah adalah Bang Wara. Si ketua suku, hahaha.


“Selamat datang dan selamat malam, nona Bellova Edlyn Zephyra. Ada keperluan apa anda kemari?” Tanyanya benar-benar mengejek.


Langsung saja aku mendengus. “Gitu amat sih ngejeknya. Baru juga pertama kali pulang agak malem. Kalau gak suka, ya udah dari awal jangan ngijinin!!” Omelku. Aku memang merasa sedikit emosional. Pasalnya, kepalaku ini masih pusing dan tubuhku masih lemas, jadi aku ingin segera masuk dan cepat-cepat rebahan di ranjang kesayanganku.


Bang Wara bersedekap dada. “Bukannya janjinya gak bakal kelewat maghrib? Ini sekarang jam setengah delapan malam loh.”


“Gak boleh molor? Lagian protektif banget sih. Aku kan lagi seneng aja di luar tadi. Karena baru kali ini aku dikasih bebas.” Tandasku.


“Ada apa sih? Sudahlah Wara. Kamu itu juga ada-ada saja. Biarkan Lova masuk. Dia kan juga lelah dan ingin segera istirahat!” Tegas Ibuku dari dalam.


Aku pun langsung melotot mengejek Bang Wara. “Tuh, dengerin kata Ibu!!”


“Jangan diulangi besok.” Peringat Bang Wara seraya memberikanku jalan masuk.


“Gak janji!” Tegasku tak peduli. Dalam diriku ini juga merasa sedikit kesal, karena mengingat kakak-kakakku sampai sekarang tidak pernah menceritakan yang terjadi pada ayah sebenarnya seperti apa.


Biarkan saja aku begini, sesekali aku bersikap tegas untuk diriku sendiri. Aku bukan lagi anak ingusan yang harus diatur setiap waktu.


“Lova!! Kalau dikasih tahu tuh----”


“Heh, sudah Wara. Sudah, jangan terlalu keras. Biarkan Lova juga punya relasinya sendiri di luar sana.” Peringat Ibuku. Aku masih bisa mendengar percakapan mereka ketika aku menaiki tangga menuju ke lantai dua.


Ini saja baru hari pertama, bagaimana dengan hari-hari berikutnya? Ah, tapi aku harus memberi jeda sejenak pada tubuhku. Itung-itung dalam satu minggu ke depan aku tidak akan pulang telat dulu untuk meredakan amarah Bang Wara.


*****

__ADS_1


__ADS_2