
Karena Jarvis sudah lebih dulu menghilang, maka giliran aku yang harus fokus membayangkan tempat yang tadi. Tempat kami bertiga untuk melakukan latihan. Tempat berupa lapangan luas yang seperti tebing.
Aku mulai memejamkan kedua mataku. Merasakan detik jarum jam saku yang mulai berdetak. Aku berusaha tidak peduli lagi dengan sekitarku, tempat berupa gudang yang sedikit berdebu, minim penerangan, dan jujur saja aku mulai merasa merinding.
Akan kusalahkan Jarvis jika sudah bertemu lagi nanti. Seharusnya tidak menuju ke tempat tertutup dan menyeramkan seperti ini.
Tunggu, kenapa aku merasa kesulitan? Tempat kami bertiga tadi tidak bisa terbayang oleh pikiranku. Aku membuka kedua mata dan berusaha untuk menyingkirkan perasaan khawatir yang menguasai diriku. Kuatur napasku dengan baik, dan mencoba untuk fokus lagi.
Kekuatan dari tangan kananku mulai terasa. Tapi… aku tetap tidak bisa fokus dan aku alam bawah sadarku menunjukkan ruangan hitam tanpa gravitasi. Ruangan aneh itu lagi. Aku terus membayangkan tempat yangn tadi, namun tetap saja tidak bisa. Apa karena aku sebelumnya tidak pernah ke sana, maka dari itu fokusku ke tempat tersebut sangatlah kurang?
“Pliiiss plisss.. ayo Lova lo bisa!! Gak mungkin kan stuck di sini sampai besok? Emang mau tidur sama tikus dan kecoa?!” Gertakku pada diriku sendiri.
Tetap dengan terpejam, aku berusaha mengingat tampilan tanah lapang yang luas tadi. Namun tetap saja sulit. Seolah tempat itu tidak terdaftar dalam ingatanku. Maklum saja, karena tempat yang tadi itu aku memang baru satu kali ini ke sana. Sebelumnya aku juga tidak pernah tahu bahwa di kota Depok ini terdapat tempat seperti itu.
Astagaa… aku kesal sekali rasanya. Sampai bulir-bulir keringat kurasakan keluar dari tengkukku.
SPLASH!
Tiba-tiba aku melakukan teleportasi. Kurasakan hembusan angin yang langsung menerpa wajah dan rambutku. Aku pun menyengir, dan kubuka kedua mataku.
Hendak saja aku berteriak girang karena bisa kembali menemui Jarvis dan Freya. Namun… sepertinya aku salah tempat.
DEG!! Ini di mana?
Aku langsung mendongakkan kepalaku, dan sangat terkejut sekali. Aku… tepat berada di bawah Monas. Ya, Monas alias Monumen Nasional. Yang terletak di Jakarta Pusat.
__ADS_1
“WHAT THE----”
Aku langsung menutup mulutku. Karena ada beberapa orang yang melihatku dengan tatapan aneh. “Omaigat! Gue gimana dong baliknya? Masa iya kayak kata Jarvis tadi, manual gitu baliknya? Laah, gue aja gak bawa dompet sama ponsel!!” Gerutuku sambil berjalan menjauh dari monas. Mencari tempat yang lebih teduh dan tidak banyak orang.
Area yang terdapat banyak pot-pot besar dan tanaman hijau yang rimbun. Aku menuju ke sana, dan duduk berjongkok di balik sebuah pot yang lebih besar dari tubuhku. Sungguh, ini gila. Sangat amat gila. Ternyata teleportasi di dunia nyata sangat merepotkan. Tidak sekeren yang aku lihat di dunia fantasi dalam perfilman. Ini benar-benar gila.
Tapi… untungnya aku masih berada di negara yang sama, tidak sampai keluar negeri. Bisa-bisa menangis kencang jika aku sampai menuju ke luar negeri.
Dan aku yakin, sekarang Jarvis dan Freya pasti panik. Dan mungkin saja Jarvis kembali menyusulku di gudang kampus gedung manajemen. Dia akan semakin panik ketika tidak menemukanku di sana. Astaga, ini benar-benar masalah yang serius. Aku... harus bagaimana?
"Oke okee... tenang Lova tenang. Lo bisa. You can do it. Jangan panik please… jangan panik. Oke. Putar otak, cari cara. Gue harus ke dalem toilet sih ini. Gak mungkin gue melakukan teleport di sini. Yang ada, kalau sampai ketangkep kamera cctv, bisa-bisa gue diburu. Terus dikira makhluk aneh atau alien.” Gumamku.
Jujur aku bergidik ngeri. Kemampuan seperti ini benar-benar membuatku kewalahan. Rasanya jika mengalami seperti ini, aku tidak ingin mau melakukan teleportasi lagi. Bahkan aku tidak mau memiliki kemampuan ini.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Berusaha untuk meredam semua pikiran aneh dalam kepalaku. Sebaiknya aku tidak perlu secemas itu, dan sekarang aku harus bisa membuat diriku ini kembali ke tempat di mana Jarvis dan Freya berada.
Akhirnya aku pun masuk ke dalam toilet wanita. Ternyata ada tiga orang wanita di dalam, mereka sedang menatap kaca untuk memperbaiki riasan, dan ada juga yang sekedar mencuci kedua tangan.
Aku pun langsung masuk ke dalam salah satu bilik toilet. Kuhembuskan napas lega, dan aku segera duduk manis di atas toilet yang tertutup.
Tersesat saat sedang teleportasi, benar-benar hal yang tidak kusangka sama sekali. Meskipun tadi Jarvis sudah memberitahuku, tapi aku tidak menyangka saja bahwa hal ini sekarang sedang kualami.
“Oke, gue coba lagi.” Gumamku pelan, dan genggamanku pada jam saku semakin mengerat.
Dengan pikiran yang sudah lebih tenang dan merasa lebih fokus, aku mulai memejamkan kedua mataku kembali. Dan dengan cepat aku mulai berada di ruangan hitam itu lagi. Kali ini terpampang layar dimensi yang menunjukkan beberapa tempat yang sebaiknya kutuju.
__ADS_1
Dan aku pun langsung menatap di mana Jarvis dan Freya berada. Semua layar dimensi itu layaknya tampilan video, jadi aku bisa melihat Jarvis dan Freya tampak panik dan tidak bisa melakukan apa-apa. Hanya saja aku tidak bisa mendengar apa yang sedang mereka katakan. Yang pasti, mereka tampak begitu panik sekali.
Langsung saja aku menajamkan pandanganku pada layar dimensi tersebut. Rasanya tubuhku seperti ditarik pelan menuju ke depan untuk menembus layar dimensi yang kupilih itu. Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa.
SPLASH!
Kedua kakiku kembali menginjak permukaan tanah lapang yang rerumputannya mongering. Angin semilir langsung menerpa wajah dan rambutku.
Aku ingin berteriak riang, namun kurasakan kedua kakiku lemas. Dan tubuhku pun langsung luruh berlutut ke tanah. Tidak sempat meneriaki nama Jarvis dan Freya, namun kudengar mereka langsung memanggil namaku.
“BELL!!”
“BELLOVA!!”
Aku merasa di antara sadar dan tidak sadar. Dan saat aku sudah sepenuhnya ambruk, sepertinya leherku ditopang oleh Freya. Pandanganku sedikit buram, namun aku bisa merasakan bahwa Freya berusaha mengembalikan kesadaranku dengan menepuk-nepuk pipiku dengan pelan seraya memanggil namaku.
“Dia mimisan. Vis, kayaknya Bellova belum semampu itu. Apa latihan tadi terlalu berat untuknya?” Itu suara Freya yang bertanya pada Jarvis.
“Ini hal umum, Frey. Gue dulu juga gini kok. Sini biar gue yang gendong. Kita bawa Bellova ke dalam mobil, abis itu kita pulang saja langsung. Gue gak mau dia kenapa-napa. Memang reaksi setiap tubuh itu selalu berbeda-beda.” Ini suara Jarvis.
Aku tidak pingsan, hanya lemas saja dengan pandangan yang memburam. Kurasakan tubuhku terangkat dengan kedua tangan yang kuat membawa tubuhku. Sepertinya Jarvis menggendongku dan membawaku ke dalam mobilnya.
Dan aku pun juga merasakan. Cairan yang tidak terlalu encer, terus keluar dari lubang hidungku. Seperti yang kudengar dari Freya tadi, aku benar-benar mimisan. Ingin aku mengusapnya, namun tanganku lemas. Dan entah di mana jam sakuku berada. Lalu… pandanganku seratus persen menjadi gelap.
*****
__ADS_1