Tempus Itinerantur

Tempus Itinerantur
TEMPUS 27 : Berhenti Tiba-Tiba


__ADS_3

Hari Senin.


Saat sudah menginjak hari Senin, rasanya aku telah berhasil melewati waktu selama tiga hari dalam kondisi sedang sakit. Tiga hari seolah lama sekali, karena aku hanya di rumah dan kebanyakan menghabiskan waktu di dalam kamar saja.


Aku benar-benar melakukan pemulihan. Istirahat total, makan secara teratur dan mengonsumsi obat sesuai jadwal, banyak minum air putih, dan menghindari begadang.


Jarvis juga sama sekali tidak mengabariku. Padahal kapan lalu ia sudah menyimpan nomorku, begitu juga Freya. Mungkin mereka berdua merasa sangat bersalah atas hal yang menimpaku tiga hari yang lalu.


Komunikasi pikiran yang biasanya dilakukan Jarvis, sejak aku sakit ia tidak pernah lagi melakukan hal itu. Padahal aku juga ingin tahu bagaimana kabarnya dan Freya. Aku juga masih ingin bertemu mereka berdua dan melakukan latihan lagi untuk bisa meningkatkan kemampuanku.


Dan sekarang, aku celingukan di lorong kampus yang menuju kelasku. Karena biasanya Jarvis lewat di sekitar sini lalu mencegatku.


Namun sepertinya kali ini pria itu tidak datang. Nanti sore saja akan kucoba mendatanginya ke fakultasnya. Dan semoga Jarvis tidak menghindariku karena masih merasa bersalah.


“Bellovaaaaa!!”


Setelah panggilan heboh itu, aku langsung merasakan pelukan dahsyat dari Serafina. Ah, dia ini memang heboh sekali. Dua hari lalu Sera memaksaku mengirimi alamat rumah, ia ingin menjengukku, namun kutolak karena kondisi rumah sedang ramai dengan karyawan para pekerja di usaha catering Ibuku. Weekend, Ibu memang selalu banyak pesanan.


“Astaga, Sera. Lo ngagetin.” Ujarku sedikit kesal, tapi aku membalas pelukannya.


Sera terkekeh setelah menarik dirinya dariku. “Lo sombong amat, dijengukin nggak mau!! Padahal ya, Kak Andra mau ikut jengukin lo tauk!” Ujarnya dengan heboh.


Tentu aku langsung terhenyak dan menatap Sera dengan lurus. “Hah? Serius?”


“Iya, dia sendiri yang mau ikut.”


“Tunggu… lo ngapain ngasih tahu ke Kak Andra kalau gue sakit?” Tanyaku bingung.


Sera langsung memukul pelan lengan kiriku dengan buku binder yang ia dekap sejak tadi. “Pura-pura nggak peka apa gimana sih lo Bell? Kak Andra itu suka sama lo! Masa nggak nyadar sih?”

__ADS_1


“Yang bener aja, Ser. Jangan tebar gossip ah.” Ujarku yang ragu.


“Dibilangin, dikasih tahu jujur malah nggak percaya. Mau gue tanyain ke orangnya langsung ata---”


“Ser, jangan gitu ah. Malu. Lo juga jangan terlalu antusias kayak gini. Gimana kalau ternyata Kak Andra itu sifatnya emang humble ke semua orang? Emang dasarnya sifatnya peduli ke sesama dan suka bantu. Suka berteman dengan banyak orang. Dia itu kan juga calon ketua BEM. Mana mungkin suka sama gue yang introvert begini!” Tandasku.


Kulihat wajah Sera tersenyum-senyum. “Idiihh segitunya banget sih pikiran lo. Sifat dan sikap Kak Andra memang gitu sama ke semua orang, tapi ya tetep aja bisa dibedakan dong kalau dia lagi suka sama cewek. Lebih perhatian banget gituuu… terus emang kenapa kalau Kak Andra sukanya sama cewek instrovert dan orang itu adalah lo?”


“Ish, ya aneh aja. Lagian gue sama dia juga belum lama kenal. Dan selama di kampus ini gue juga cuman tahu dia popular, itu aja.” Ujarku dengan mengerucutkan bibir. Lalu aku mulai berjalan menuju ke kelas saja, dari pada terus bicara dengan berdiri. Sera pun mengikutiku.


“Kalian PDKT aja. Gue bantu deh. Nanti---”


Aku langsung menoleh pada Sera dan memberinya tatapan tajam. Sera langsung meringis dan diam sambil terkekeh pelan.


Bukannya aku tidak mau, namun aku merasa belum memiliki waktu yang tepat untuk bisa menjalin hubungan dengan seseorang. Sekarang saja aku masih membingungkan nasib diriku sendiri yang memiliki kemampuan seperti ini. Aku masih harus mengurus diriku sendiri. Dan jika berhasil menjalin hubungan dengan Kak Andra, kalau dia tahu tentang apa yang ada pada diriku, apakah ia akan tetap suka dan tidak ketakutan?


***


Usai kelas terakhir, aku langsung pamit duluan pada Sera. Dan aku juga menolak ajakan makan sore, padahal ada Kak Andra. Entahlah, aku lebih memprioritaskan Jarvis dan Freya dulu untuk saat ini. Karena hanya mereka berdua yang bisa menuntunku.


Jadi, sekarang aku sudah berdiri di depan gedung FISIP. Banyak mahasiswa yang keluar setelah melewati kelas terakhir. Aku pun celingukan untuk bisa menemukan Jarvis atau pun Freya jika mereka lewat.


Kutunggu selama hampir lima belas menit, dan akhirnya mereka berdua muncul keluar dari lorong gedung. Mereka terlihat berjalan berdampingan dan saling berbicara tentang sesuatu hal.


Langsung saja kupanggil tanpa mengulur waktu. “Jarvis!! Freya!!”


Mereka langsung mendongak dan menatapku. Dan langkah kaki mereka berdua berhenti di depan anak tangga gedung FISIP. Aku langsung berlari kecil untuk mendekati mereka.


Senyumku melebar. “Syukurlah, akhirnya gue ketemu kalian. Kalian juga nggak ngebales chat gue. Jadi gue ke sini. Gue udah sembuh kok, udah sehat lagi. Kita bisa lanjutin lagi.” Ujarku.

__ADS_1


Kulihat, Freya terlihat diam, dan Jarvis yang memilih maju mendekatiku. Sorot matanya itu terlihat serius.


“Bell…” panggil Jarvis.


“Ya?” Tanyaku.


“Emm, kayaknya kita gak perlu lagi latihan. Gue gak perlu ngelatih lo. Kita mundur. Dan gak usah ungkit hal itu lagi. Lo juga punya ketiga kakak yang seharusnya bisa ngelatih lo secara mudah dan benar, tanpa melalui gue. Jujur… gue sama Freya udah gak berani. Dulu kita juga pernah ngelatih seseorang, yang akhirnya orang itu juga gak kuat sama kemampuannya sendiri, dan dia meninggal dunia. Gue sama Freya…kami trauma.” Jelasnya dengan pelan, dan tatapannya serius padaku.


Aku langsung menelan ludah dan sesekali melirik Freya yang sama sekali tidak mau menatapku. Tentu aku masih bingung dengan keputusan mereka berdua yang mendadak seperti ini. “T-tunggu… gue bingung. Gue masih bisa mengatasi kok. Kalian gak perlu takut gue kenapa-napa. Gue masih pengen lo ngelatih gue lagi, Jarvis. Lalu kita melakukan misi kita. Gue akan----”


“Nggak semudah yang lo katakan, Bellova. Gue takut… dan Freya juga takut. Gejala awal seseorang yang tidak kuat dengan kemampuannya, adalah seperti yang lo alami.”


“Tapi lo kan yang jelasin sendiri. Kalau mimisan setelah mengeluarkan tenaga itu bisa terjadi. Dan emang waktu itu gue nyasar saat mencoba teleport balik. Berarti itu juga pernah lo alami dan bukan hal yang---”


“But this is so serious! Gue sama Freya memutuskan untuk gak melanjutkan melatih lo. Please, can you understand?” Tanya Jarvis dengan nada yang awalnya begitu tegas, lalu melembut di akhir.


Aku langsung menghembuskan napas panjang dan mengusap wajahku dengan gusar. “Terus gue minta tolong ke siapa kalau bukan ke kalian hah?” Tanyaku heran.


“Lo punya keluarga, Bell. Lo punya ketiga kakak lo.”


“Mereka gak ngebantu gue sama sekali, Jarvis!! Kan gue udah jelasin!! Harapan gue cuman di kalian berdua. Kenapa sekarang berubah sih? Padahal kalian sendiri yang dateng ke gue!!” Ujarku mulai emosi.


Jarvis menatapku. Kulihat rahangnya mengeras. “Ini keputusan gue. Dan yang nyebabin semua komplotan baik hilang di malam itu, adalah bokap lo!! Itu faktor utamanya kalau lo mau tahu!! Mulai hari ini, jangan pernah kenal gue lagi maupun Freya!!!” Tegasnya.


Pernyataan itu benar-benar membuatku bungkam seribu bahasa. Freya melewatiku begitu saja dan tatapannya seperti ingin menangis.


Aku tidak tahu apa salahku, apa salah Ayahku. Dan dari mana asumsi itu berasal? Apakah ada bukti?


*****

__ADS_1


__ADS_2