
“Nah, ini resepnya ya Lova. Kamu banyakin istirahat dulu dan kalau mandi lebih baik menggunakan air hangat sampai beberapa hari ke depan. Tubuh kamu kan merasakan pegal-pegal, jadi air hangat bisa membantu melancarkan peredaran darah kamu juga.” Jelas Dokter Airin.
Aku mengangguk dan menerima selembar kertas darinya. “Makasih ya dok, dan sekali lagi maaf selalu ngerepotin dokter buat datang ke sini.”
“Maaf ngerepotin Kak Airin, lain kali keluarga kami saja yang ke tempat praktek, biar Kak Airin gak perlu ke sini.” Sahut Kak Elang.
Dan sontak aku langsung melebarkan kedua mataku. Demi apa manusia itu menyahut dan melemparkan senyum ramah pada Dokter Airin? Dan apa tadi? Kak Elang memanggil dokter Airin dengan embel-embel ‘kak’??
“Tidak apa-apa, Elang. Saya senang saja kok datang ke sini. Lagi pula kan sudah biasa memeriksa kalian semua sejak saya masih jadi residen dan sampai punya tempat praktek sendiri.” Ujar Dokter Airin, yang kulihat ia juga tersenyum ramah pada Kak Elang.
Oke, sebenarnya tidak aneh dan bukan hal apa-apa. Tapi menurutku Kak Elang yang aneh. Karena biasanya ia akan bersikap dingin terhadap siapa pun, kecuali Ibu. Dan biasanya manusia itu juga dingin pada Dokter Airin, mengapa hari ini tidak?
Karena sungkan pada Dokter Airin dan merasa bosan di kamar, aku pun ikut mengantarkan Dokter Airin sampai ke teras rumah.
Biasanya Dokter Airin ditemani seorang suster, namun kali ini tidak. Mungkin dia memang sedang longgar sehingga sanggup pergi sendirian. Kudengar tadi jadwalnya di rumah sakit memang dimulai di jam dua siang nanti.
“Salam buat Ibu dan lainnya ya, Elang..Lova…” ujar Dokter Airin.
Aku dan Kak Elang sama-sama mengangguk. “Hati-hati di jalan ya Dok… kalau gak sengaja ketemu, kita nongkrong bareng!!” Seruku.
Tentu badanku masih lemas, namun tidak ada salahnya untuk berjalan sejenak dan melihat Dokter Airin pergi meninggalkan area rumah ini. Kebetulan juga mobil Dokter Airin sama dengan mobil milik Kak Elang, yaitu jazz warna putih.
Dan sejak tadi, kuperhatikan, pandangan Kak Elang tidak teralihkan dari Dokter Airin. Bahkan saat mobil itu sudah hilang keluar melewati gerbang rumah kami, pandangan Kak Elang tetap saja ke arah sana.
__ADS_1
Aku pun langsung menyenggol siku tangan kanannya. “Kalau suka bilang!! Jangan dipendam!!” Seruku dengan jahil. Jarang-jarang juga aku berani menggodanya, biasanya aku memilih diam, hehe.
Berteman dengan Jarvis dan Freya, memang membuatku lebih berekspresi. Ternyata memiliki circle pertemanan itu sangat penting bagi orang introvert sepertiku.
Karena dalam diriku ini memang memiliki keinginan bahwa aku tidak ingin terus menerus menjadi introvert. Aku juga ingin mudah bereskpresi dan berinteraksi dengan banyak orang. Dan aku merasakan perubahan itu. Aku mulai bisa menciptakan ruang bicara dengan Kak Elang, tidak seperti biasanya.
“Kamu itu kalau dikhawatirin orang rumah, harusnya nyadar. Jangan malah hilang kendali.” Ujarnya setelah menutup pintu utama.
Aku berbalik dan langsung memberengut padanya. “Kak, udah deh, jangan jadi cenayang. Kalau emang gak pernah peduli sama aku, gak usah repot-repot ngelihatin masa depan tentang hal apa yang aku lakukan di luar sana. Seakan-akan aku gak punya privasi!! Memangnya gak boleh kalau aku melatih diriku sendiri di luar sana?!!” Gertakku. Karena menurutku Kak Elang sudah melewati batas.
Ya, aku baru sadar ketika Dokter Airin sedang menuliskan resep obat tadi. Aku ingat bahwa Kak Elang memiliki kemampuan untuk melihat masa depan.
Mungkin saja kemarin saat aku belum pulang ke rumah, Kak Elang diam-diam melihat ke dimensi waktu dan ia tahu apa yang sedang aku lakukan di luar sana. Mungkin saja ia memang sudah melihat semuanya.
Pertanyaan itu cukup membuatku lama menatapnya. “Ya emang begitu kan.”
“Kalau aku tidak peduli, aku tidak sudi sama sekali buat menjemputmu. Kalau aku tidak peduli, aku tidak sudi sama sekali mencoba melihat kegiatan apa yang akan kamu lakukan di luar sana. Kalau aku tidak peduli, aku juga tidak akan memikirkan kondisimu. Nyatanya aku melakukan tindakan, tidak diam saja seperti yang ada di pikiranmu itu. Sifatku memang dingin, karena aku memang begini. Hanya kamu saja yang tidak pernah mengenalku.” Tandasnya.
Membuatku langsung menelan ludah karena merasa bersalah padanya. Baru kali ini Kak Elang bicara dengan nada tegas dan serius sekali.
Terlihat jelas apa yang sudah ia katakana barusan adalah kata-kata yang berasal dari hatinya. Ia tulus mengatakan hal itu. Tatapannya pun terlihat sedikit kecewa dengan perkataanku yang mencoba menyalahkannya tadi.
“M-maaf kak…” gumamku pelan.
__ADS_1
“Selama ini sesekali aku memang memperhatikan kamu, dengan cara melihat waktu ke depan, melihat apa yang akan kamu lakukan. Tapi bukan kamu saja. Aku juga memperhatikan Bang Wara, Ravi, bahkan Ibu. Meskipun aku mengetahui semuanya, tidak pernah aku mengatakannya secara blak-blakan pada mereka. Aku hanya diam. Dan melihatmu kemarin, aku juga tidak mengatakannya pada Ibu dan lainnya. Tidak ada yang tahu. Baru tadi kukatakan, sengaja di hadapan Dokter Airin. Karena dia yang memeriksa keadaanmu, supaya dia tahu apa yang menyebabkan kamu sakit. Dan dia orang luar, jadi tidak ada salahnya aku membeberkan hal itu padanya. Sekarang, jelas?!”
Aku menelan ludahku lagi. Lalu mengangguk pelan, berusaha memahami dan mengerti apa yang sudah Kak Elang sampaikan. “Iya, jelas. Maaf udah bikin marah.”
“Bukan marah, Lova! Tapi aku sebagai kakak, juga ingin kamu tahu dan mengenalku dengan baik, oh ternyata begini Kak Elang, oh Kak Elang seperti ini. Begitu. Bukan terus menerus benci dan tidak memahamiku. Itulah mengapa Bang Wara kemarin-kemarin sengaja membuat kamu dekat denganku, agar kamu mengenalku. Tapi nyatanya tidak. Kamu tetap saja tidak bisa memahamiku.”
“Itu karena kita sama-sama keras. Kak Elang anak kedua, dan aku anak bungsu. Kita sama-sama ingin dimengerti dengan cara yang berbeda. Kalau kakak mau dimengerti, maka kakak juga harus mengerti aku juga, bukan hanya sepihak. Aku anak bungsu, suka diperhatikan dan suka diberi penjelasan. Sedangkan Kak Elang maunya dimengerti, tapi kakak gak pernah interaksi sama aku. Kalau kakak nyalahin aku, kakak salah.” Ujarku berani melawan. Tentu aku tidak mau disalahkan.
Nyatanya anak bungsu memang harus didekati dulu, bukan mendekati. Tapi aku bukan anak bungsu yang manja, tidak seperti itu.
Kulihat Kak Elang terdiam, mungkin dia juga merasa perkataanku ada benarnya.
“Siapa sih kak yang gak mau mengenal saudara kandungnya sendiri? Gak ada. Aku pun mau dan sangat ingin mengenal kakak. Dan kamu adalah seorang kakak buat aku. Jadi, seharusnya siapa yang membuka ruang untuk lebih dekat? Kan kakak. Sejak dulu aku diam saja kok, tapi kakak yang selalu memberikan sinyal ketidaksukaan. Lalu mengajak bertengkar. Apa ada hal yang membuat kakak iri denganku??” Tanyaku spontan. Karena memang hanya Kak Elang saja yang selalu keras padaku. Bang Wara dan Kak Ravi biasa-biasa saja.
“Iya, ada.” Jawabnya.
Hal itu membuatku terhenyak. “Kalau ada, apa?” Tanyaku. Padahal sekarang ini kepalaku sudah pusing lagi, ingin kembali ke kamar, namun aku masih ingin menanggapi Kak Elang.
“Kamu anak yang paling disayang sama Ayah.” Ujar Kak Elang dengan menatapku lurus.
Jawaban yang membuatku juga terpaku. Apakah harus hal seperti itu yang membuat Kak Elang memiliki rasa iri dan membedakan sikapnya jika denganku?
*****
__ADS_1