Tempus Itinerantur

Tempus Itinerantur
TEMPUS 26 : Kakak Kedua Yang Cemburu


__ADS_3

Tentu mendengar perkataan Kak Elang tadi, masih cukup membuatku terdiam. Kuamati lagi pancaran sorot mata Kak Elang yang sepertinya memperlihatkan tatapan luka. Hal yang kusimpulkan sendiri adalah, Kak Elang mungkin saat dulu cemburu padaku karena lebih diperhatikan Ayah.


“Aku rasa kasih sayang orang tua tuh selalu sama kok ke semua anak-anaknya. Kenapa Kak Elang ngomong gitu?” Tanyaku berani.


Kak Elang menatapku. “Entahlah, tapi aku merasa tidak seperti itu.” Ujarnya, lalu berbalik pergi. Mungkin hendak menuju ke kamarnya.


“Kak, jangan menghindar!!” Tegasku. Sukses membuat langkahnya berhenti, lalu menoleh menatapku lagi.


“Aku tidak menghindar.”


“Terus kenapa pergi?”


“Mau ke kamar saja, baca buku. Kamu juga harus istirahat lagi.” Ujar Kak Elang.


Nasehat itu lumayan membuatku terharu. Karena sekarang Kak Elang mau menunjukkan sisi perhatiannya, bukan sisi dinginnya lagi. Ya meskipun masih sesekali dan tidak begitu intens.


“Aku masih mau bicara sama kakak.” Pintaku. Dan kami bertatapan sejenak. Aku pun menunggu Kak Elang menjawab.


***


Selama 18 tahun aku hidup, baru kali ini aku melangkah masuk ke dalam kamar tidur Kak Elang. Ya, dia pada akhirnya menyetujui permintaanku dan mengajakku masuk ke dalam kamarnya.


Begitu masuk ke zona ternyaman Kak Elang, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak kagum. Bagaimana tidak kagum, jika kamar kakak keduaku ini seperti toko buku berkedok kamar tidur.


Kamar Kak Elang ini luasnya berbentuk persegi. Dua sisi kanan dan kiri dari pintu masuk, didominasi oleh rak buku berwarna krem muda. Dan tentu saja kedua rak itu berisi banyak sekali buku dan ditata serapi itu dengan mengurutkan huruf judul dan kategori genre atau jenis bacaan.


Dua rak buku itu itu ukurannya benar-benar sepanjang dinding dan tingginya setengah dinding kamar. Tentu aku berdecak kagum dan berkali-kali mengucap ‘wah’.

__ADS_1


“Duduk aja di mana pun kamu suka.” Ujar Kak Elang.


Mulutku masih sedikit menganga, dan aku mengangguk kecil. Melihat ranjangnya yang dibalut sprei berwarna sage green dengan motif daun-daun, aku enggan duduk di sana. Dan aku memilih duduk di sebuah single sofa saja yang ada di samping meja belajar Kak Elang.


Sepertinya single sofa ini adalah tempat Kak Elang saat membaca. Karena single sofa ini terdapat bagian untuk menopang kedua kaki supaya lebih nyaman.


“Rapi banget kak. Wangi juga pula. Aku yang cewek merasa kalah deh. Kamarku gak serapi ini dan sering gak wangi, hehe.”


Kak Elang tersenyum kecil padaku. “Ya makanya, yang rajin bersih-bersih dan berbenah. Kamar tidur itu adalah tempat ternyaman kita untuk istirahat. Bahkan bukan cuman istirahat aja, tapi kita menghabiskan waktu sendiri di dalam kamar, seringnya. Jadi ya buat aja senyaman mungkin. Ditata juga seperti selera masing-masing, sampai bener-bener nyaman. Lagi pula dengan menata atau menghias kamar juga untuk melatih imajinasi kita atau kreasi.”


“Hmm, tapi kakak tau sendiri lah. Aku ini kan pemalas.”


“Ya sudah, terserah kamu. Penampilan kamar tidur itu juga menggambarkan bagaimana di pemilik kamar. Berarti kamu kata pemalas memang cocok buat kamu.”


Mendengar itu aku langsung mendengus pelan. Lihatlah wajahnya itu, dia sangat membanggakan penampilan kamarnya sendiri. Tapi memang bagus sih.


Ah, aku hampir lupa bahwa aku memang meminta bicara. Aku pun menatap Kak Elang. “Emangnya kenapa kakak ngira Ayah lebih sayang ke aku doang?” Tanyaku, memang aku masih mengungkit hal yang tadi.


“Karena sejak kamu lahir, ayah udah gak pernah perhatian ke aku, Ravi, dan Bang Wara. Pulang dari kerja di luar, ayah pasti langsung samperin kamu. Gendongin kamu, mandiin kamu, nyuapin kamu pas udah mpasi, pokoknya ayah seolah menggantikan peran Ibu ketika dia udah ketemu sama kamu. Oke mungkin itu sepele, tapi bagi aku enggak. Mungkin bagi Bang Wara sama Ravi, hal itu juga biasa. Tapi entah mengapa bagi aku hal itu nggak biasa.” Jelas Kak Elang.


Dari sini, aku mulai mengenali sisi kepribadian Kak Elang yang selama ini tidak terlihat. Yaitu kepribadian Kak Elang yang ternyata bisa manja dan ingin diperhatikan secara lebih. Pantas saja selama ini ia ketus dan dingin padaku, juga pada lainnya, kecuali pada Ibu. Karena mungkin Ibu yang hanya memahami Kak Elang, tapi Ibu diam saja tentang hal itu.


“Aku juga rindu sama Ayah. Sangat. Saat itu usiaku masih sekitar tujuh tahun, aku juga ingin main dengan ayah. Tapi ayah cenderung ke kamu terus. Bahkan Ravi yang saat itu berusia empat tahun juga kurang diperhatikan ayah. Tapi Ravi biasa saja, karena ia belum terlalu memahami rasa cemburu, Ravi memang lebih dekat dengan Ibu.”


“Kalau Bang Wara?” tanyaku.


“Bang Wara udah usia sembilan tahun kalau gak salah. Dia kalau udah pulang ke rumah habis sekolah, langsung rajin ngerjain tugas. Sesekali dia main sama anak-anak tetangga di luar, jadi gak terlalu merasakan sepi seperti yang aku rasakan.”

__ADS_1


Aku mengangguk paham. Berusaha memahami luka kecil yang Kak Elang rasakan. Akibat membicarakan hal ini, sakit kepalaku sedikit mereda. Padahal resep obat dari Dokter Airin tadi belum kutebus di apotek.


Mungkin memang sebaiknya kepalaku ini dibuat berpikir. “Aku minta maaf jika kehadiranku ngebuat ayah membedakan perhatiannya ke kakak-kakak. Terutama Kak Elang. Tapi… aku tidak merasa bersalah sama sekali kak. Dan jangan salahkan aku lagi.” Ujarku.


Kak Elang pun menatapku sambil mengernyit. “Maksudmu?”


“Saat itu kan aku masih balita. Kayaknya sekitar dua tahun. Bicara saja aku belum lancar, dan memori tentang momen pada saat itu tidak bisa aku ingat sama sekali sampai sekarang. Buram. Mungkin… ayah memang mencurahkan kasih sayang lebih ke aku, karena aku anak bungsu dan aku satu-satunya anak perempuan. Hal itu kurasa wajar terjadi di dalam keluarga. Dan mungkin ayah memang mengharapkan punya anak perempuan setelah memiliki tiga anak laki-laki. Aku bukan membela diri, tapi itu fakta. Kalau saat itu aku bisa bicara dan paham situasi, ayah udah aku nasehatin buat berlaku adil. Jadi sekarang, aku minta Kak Elang hapus luka batin itu. Kondisi sekarang berbeda, bahkan ayah belum balik.”


Kulihat Kak Elang terdiam sejenak. Dan aku merasa sedikit khawatir jika reaksinya akan membenciku. Takut kalau perkataanku salah baginya.


Wajahnya pun menatapku lagi setelah tadi sempat menunduk sejenak. “Kakak nggak nyangka, kamu lebih dewasa pemikirannya.” Ujarnya dengan tersenyum.


Aku pun lega mendengarnya. Aku juga ikutan tersenyum.


“Tapi… apa maksudmu tentang kalimat terakhir? Ayah belum balik?” Tanya Kak Elang, padahal aku belum sempat menyahut perkataannya yang sebelumnya.


“Eh, a-anu… maksudku tadi mau bilang, ayah kan sekarang udah nggak ada. Gituuu…” alibiku sambil memasang cengiran.


Kak Elang tampak mengernyitkan dahi. “Yakin mau bilang itu?”


Aku langsung mengangguk-angguk. “Iya emang mau bilang gitu kok. Ah, i-ini resep obat dari Dokter Airin harus ditebus di apotek kak. Boleh minta tolong?” Tanyaku yang langsung mengalihkan topik pembicaraan.


Jujur, aku masih tidak siap jika harus membicarakan perihal ayah kenapa dan di mana. Apalagi dari Bang Wara sendiri masih belum memberitahuku sesuatu. Jadi sekarang aku menghindar saja dulu dari pembicaraan di ranah itu.


Huft… untungnya Kak Elang langsung mau menolongku. Ia langsung beranjak dan pergi ke luar untuk menebuskan obatku di apotek terdekat. Dan aku pun langsung kembali ke kamar tidurku sendiri.


*****

__ADS_1


__ADS_2