
Pagi ini, aku malas sekali beranjak dari kasur. Jam alarm sudah kumatikan lima belas menit yang lalu. Sekarang pun jam dinding masih menunjukkan pukul enam pagi lewat lima belas menit.
Badanku benar-benar terasa pegal, lelah, lemas, dan kepalaku pun pusing. Sesekali aku merasa sedikit mual, namun tidak sampai muntah. Semua gejala itu kutahan sambil tetap rebahan, memejamkan mata, dan memeluk guling.
Lebih baik… hari ini aku tidak kuliah saja dulu. Aku akan mengirimkan ijin tidak masuk ke dosen.
Ah, tapi di mana ya ponselku? Aku benar-benar lemas untuk bangkit dan mencari keberadaan ponselku. Rasanya lemas sekali, tidak bertenaga. Tapi menurutku masih untung, badanku tidak meriang atau pun demam. Hanya sekedar pegal-pegal dan masih lemas saja, lalu pusing. Mungkin karena masih dalam kondisi recovery di mana seharusnya aku memang harus istirahat dulu sejenak.
TOK TOK TOK!!
Aku langsung mendengus mendengar ketukan pintu yang lebih keras itu.
“LOVAAA!! BANGUN NAK!! SUDAH BANGUN BELUM??”
Nah, kan. Itu alarm alami, yakni suara ibuku, ibu negara di rumah ini. “Aku nggak kuliah dulu Buuuu!!” Seruku dengan suara yang tidak bisa kupaksakan untuk lebih kencang lagi.
Klek!
Kudengar pintu kamarku terbuka, memang tidak kukunci dari dalam sejak semalam. Suara langkah kaki Ibu pun mendekatiku. Dan tak lama, aku merasakan permukaan keningku disentuh oleh telapak tangan Ibuku.
“Kamu sakit?” Tanya Ibu.
Kubuka kedua mataku dengan kondisi yang lemas. Aku pun mengangguk. “Cuman sekedar tidak enak badan saja. Tapi aku nggak demam kok Bu.”
“Iya kamu memang tidak demam, tapi anyep banget. Pasti bentar lagi kamu bakalan keringet dingin. Sudah ijin dosen belum?”
“Belum, tolong ambilkan ponselku dong Bu.” Pintaku.
“Di mana?” Tanya Ibu yang kulihat beliau celingukan mencari keberadaan ponselku.
Aku pun menggeleng. “Tolong carikan ya Bu. Kepalaku pusing. Mungkin ada di dalam tas.” Ujarku lemas.
__ADS_1
Beberapa menit mencari, akhirnya Ibu menemukan ponselku yang memang masih berada di dalam tas. Namun terletak di kantong kotak sebelah kanan tas, jadi Ibu baru bisa menemukan ponselku beberapa menit kemudian.
“Nih..” ujar Ibu dengan memberikan ponselku padaku.
Aku pun menerimanya dan segera mengirimkan pesan singkat berisi kalimat ijin tidak masuk dengan sopan, pada dosenku. Sekalian juga berpesan pada Sera, untuk membantu ijinku yang tidak bisa masuk hari ini.
“Ke dokter saja yuk. Biar bisa minta surat keterangan tidak masuk juga, jadi kamu bisa tidak masuk kuliah selama tiga hari dulu. Kalau memang tubuhmu butuh istirahat, ya sudah istirahat saja dulu, jangan dipaksakan.” Tutur Ibu.
“Dokternya ke sini aja gimana Bu? Aku bener-bener lemes banget, gak kepingin pergi ke luar. Pusing. Kalau sampai digendong sama kakak-kakak, malu. Masa udah gede gini pergi ke dokternya digendong.” Rengekku.
Kulihat Ibu tertawa pelan, lalu ia mengangguk. “Ya sudah, ibu panggilkan dokter Airin ke sini. Tapi nggak tahu dokter Airin bisa ke sini jam berapa. Nanti ibu kirim pesan ke kamu kalau dokter Airin mau ke sini.”
Aku mengangguk saja, senang mendengar Ibu setuju dokternya saja yang ke sini. Dokter Airin itu memang dokter langganan keluarga kami. Dokter Airin sudah sering datang ke rumah untuk memeriksa kesehatan kami jika memang ada yang sedang sakit namun tidak sanggup datang ke tempat prakteknya atau ke rumah sakit.
“Ibu sibuk kah?” Tanyaku, karena melihat Ibuku yang mengenakan celemek berwarna abu muda.
Ibuku mengangguk dan mengelus pelan kepalaku. “Iya, dan nanti jam sembilan pagi ibu harus pergi ke luar dulu ya. Mau anter pesenan berupa jajanan buat hantaran gitu. Ibu pergi sama Johan, naik mobilnya dia. Dan kayaknya ibu agak lama perginya, karena customer yang ini lokasinya di Bogor bagian kota. Habis ini ibu anterin kamu makanan ya, nanti ibu taruh di meja lipat biar bisa kamu makan kapan aja. Kakak-kakakmu juga pasti sibuk kerja dan kuliah. Kamu nggak apa-apa beberapa jam di rumah sendirian?”
Ibu tersenyum, namun aku bisa tahu bahwa tatapannya sekarang terlihat sangat sedih menatapku. Mungkin perasaannya sebagai seorang ibu sebenarnya tidak tega meninggalkanku yang sedang sakit, namun apa daya jika sudah terlanjur berjanji pada customer bahwa akan mengantarkan pesanan dan bertemu secara langsung. Ibu tentu tidak mau mengecewakan customernya.
Dan ketika Ibu keluar dari kamarku, aku pun memejamkan mataku lagi. Sepertinya aku hanya bisa tidur dan tidur saja untuk sekarang.
***
Pukul setengah sebelas siang, Dokter Airin benar-benar datang ke rumah. Beliau mengetuk pintu kamarku, dan saat ini aku baru saja menyelesaikan sarapanku yang seharusnya sudah sejak tadi pagi.
Bubur yang dibuatkan Ibu tadi pagi, memang kusantap secara bertahap. Tidak apa-apa sudah dingin, yang pasti rasanya masih enak dimakan dan beruntung lidahku tidak menyecap rasa pahit.
“Haloo… pagi menuju siang, Bellova.” Sapa Dokter Airin begitu ia masuk ke dalam kamarku.
Aku pun tersenyum. “Hai Dok… maaf ya, aku nggak sanggup ke sana langsung.” Ujarku yang memang sudah akrab dengan Dokter Airin.
__ADS_1
Dokter cantik itu tersenyum manis dan mulai duduk di tepi ranjanngku. Dengan baik hati ia juga mengangkatkan meja lipat berisi mangkok bubur yang sudah kuhabiskan dan gelas melamine yang sudah kosong. Ia pindahkan meja lipat itu ke atas lantai saja agar aman.
“Santai saja Lova, kan saya sudah biasa ke sini. Kamu tampaknya kelelahan yaa..”
Aku mengangguk saat Dokter Airin mulai memasangkan alat tensi pada lengan kananku. “Iya Dok. Dan sekarang rasanya lemas, pusing, kadang mual, dan pegal-pegal.” Jelasku.
Dokter Airin mengangguk, sambil menekan-nekan bagian balon alat tensi. Ah, entahlah itu namanya apa, aku menyebutnya bagian balon karena memang ditekan-tekan dan bersuara seperti hembusan angin yang dipompa pelan. Sehingga bisa membuat alat tensi itu menunjukkan tekanan darahku.
“Hmm, tekanan darahmu juga rendah ya. Sekarang berada di sembilan puluh per enam puluh. Ada kejadian apa akhir-akhir ini? Apa pernah mengalami sesuatu? Biasanya tekanan darah kamu kan tetap normal meskipun sedang sakit.” Ujar Dokter Airin.
Aku pun nyengir tipis, lalu hendak menjawab, namun ternyata ada yang menjawab pertanyaan Dokter Airin lebih dulu.
“Dia keluyuran Dok, bandel. Dan kemarin dia mimisan, lalu sempat diinfus di rumah sakit. Tapi pas pulang ke rumah, dia nggak mau cerita. Itulah efeknya seorang anak yang berbohong, ya kan Dok?”
Kedua mataku pun membulat. Sejak kapan Kak Elang berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan bersedekap dada? Sampai-sampai aku langsung duduk tegap karena kaget melihatnya.
“Pantas saja. Kenapa tidak bilang kalau sebelumnya mimisan?” Tanya Dokter Airin sambil mengarahkan stetoskop pada dada dan perut atasku. Menyuruhku mengambil napas secara tertatur.
Setelah itu, langsung saja aku menanggapi Kak Elang. “Kak!! Apa-apaan sih!!” Protesku. Dia tahu dari mana tentang kejadian kemarin yang menimpaku?
Kudengar Dokter Airin terkekeh. “Sudah, kamu tidak apa-apa. Memang badan kamu kelelahan saja dan butuh istirahat yang cukup. Banyak minum air putih, jangan telat makan, makan yang teratur dan tidur yang cukup. Saya akan meresepkan beberapa obat dan vitamin. Vitaminnya diminum selama satu minggu ya, obatnya saya kasih buat diminum empat hari saja.” Jelasnya dengan lembut dan mulai menuliskan resep obat pada kertas notes yang selalu ia bawa.
Tentu saja kertas notes resmi yang memiliki logo nama tempat prakteknya. Jadi nanti bisa ditebus di apotek dengan lancar.
Aku masih memberengut menatap Kak Elang yang sikapnya tampak bangga sekali setelah berkata seperti tadi.
“Lain kali, bohongnya yang pinteran sedikit ya, Lova. Biar kakakmu ini gak bisa tahu dan kamu nggak ketahuan.” Ujar Kak Elang dengan menatapku sinis.
Argh, menyebalkan. Lagi pula mengapa manusia itu ada di rumah di jam segini? Tapi kalau dipikir-pikir, siapa lagi yang membukakan pintu untuk Dokter Airin jika bukan Kak Elang. Para karyawan catering Ibuku pun sudah tidak ada di rumah karena sibuk pergi mengantarkan pesanan dan sisanya mengantarkan bekal catering ke kantor perusahaan.
*****
__ADS_1