Terjerat Cinta Pak Dokter Tetanggaku

Terjerat Cinta Pak Dokter Tetanggaku
Kayra


__ADS_3

"Ini! antar kan ke rumah tetangga baru kita, bilang ini buatan Kamu" Fani menyerahkan Cake buatannya pada Fabiola untuk diberikan kepada Abian si Duda ganteng itu. Tujuan nya untuk apa? Tentu saja untuk mendekatkan putrinya pada Abian. Setelah pagi tadi ia mendengar desas-desus yang beredar dari ibu-ibu komplek yang suka bergosip di pagi hari saat membeli sayur di tukang sayur yang sering lewat depan rumah mereka mengenai status Duda yang di sandang oleh Abian


"Apaan sih Ma, Ola tidak mau. Mama saja sana yang anterin langsung" Fabiola menolak perintah Sang Mama, karena ia tidak ingin di cap sebagai wanita oleh Abian


"Ya sudah, tapi kalau Mama yang antar jangan pernah suruh-suruh Mama lagi buat temenin Kamu belanja" Ancam Fani yang tentu saja ampuh membuat Fabiola tidak bisa berkutik


"Gitu dong, ini kan juga demi kebaikan Kamu" Ucap Fani sambil mencolek dagu putrinya


"Kebaikan Apa sih, Mama ada-ada aja kalau ngomong" Fabiola pergi sambil menggerutu


"Senang nya punya calon mantu seperti Abian" Ucap Fani sambil tersenyum membayangkan jika Fabiola Putrinya betulan menikah dengan Abian. Fani sungguh terobsesi menjadikan Abian sebagai menantunya, sebab ia tidak mau keduluan dengan Bu Rita janda di komplek nya yang juga ingin menjodohkan Putrinya Celine dengan Abian, tentu saja hal itu membuat rasa tidak terima nya bergejolak. Bukan untuk bersaing namun sejak pertema kali bertemu dengan Abian entah mengapa Fani langsung merasa Abian adalah salah satu contoh kriteria calon suami yang pantas untuk Fabiola walaupun kemarin ia belum mengetahui status Duda Abian.


tok tok tok


Kini Fabiola sudah berdiri di depan pintu Abian sambil membawa cake suruhan Mama nya


Ceklek


Pintu di depannya terbuka menampilkan seorang Pria tampan dengan menggunakan apron ditubuhnya. Jantung Fabiola berdetak kencang bukan karena terpesona karena ketampanan Abian yang tersuguh kan di depan matanya melainkan karena ia tidak berani jika harus ber sitatap dengan mata yang selalu melihatnya dengan tatapan tajamnya


"Ada keperluan apa? " Tanya Abian to the poin


"Saya ingin mengantarkan ini" Fabiola menyerahkan Cake itu ke depan Abian. Pria itu kembali menatapnya dengan tatapan tajam milik nya


"Terima kasih, tapi bawalah kembali hadiah mu. Ini sudah kedua kalinya kau datang dengan membawa hadiah jadi aku tidak bisa menerima nya" Abian membalikkan badannya mecoba untuk menutup pintu


"Ini titipan dari Mama ku, Aku hanya diminta untuk mengantarkan nya" Fabiola masih berusaha memberikan cake itu, karena ia tidak ingin Sang Mama mencecar nya dengan berbagai pertanyaan jika cake itu tidak diterima Abian.


Pria itu menghela napasnya dan terpaksa menerima pemberian Mama Fabiola


"Sudah, pulang lah sana" Ucap Abian setelah menerima cake itu kemudian menutup pintu rumahnya tepat di depan wajah Fabiola


Fabiola melongo tidak percaya akan sikap tidak sopan Abian


"Dasar kanebo kering tidak tahu sopan santun" Maki Fabiola mencoba menendang pintu didepan nya dengan pelan kemudian memukul- mukul udara untuk menyalurkan kekesalannya


"Aku sumpahin semoga dapat istri yang petakilan supaya hidupnya selalu selalu dibuat pusing" Sebelum kembali ke rumah nya Fabiola masih sempat menyumpahi Abian Pria Kanebo kering julukan yang diberikan oleh nya


...


Keesokan harinya Fabiola sudah bersiap untuk ke Rumah sakit dengan mengendarai mobil nya membelah jalan ibu kota yang begitu padat dengan kendaraan

__ADS_1


Hari pertamanya memulai aktivitas baru nya sebagai Mahasiswa Koas di rumah sakit ternama Ardhani Hospital.


ia melangkah kan kakinya menunju ruangan yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit yang akan digunakan sebagai ruangan khusus para mahasiswa Koas


Saat ia sedang menuju keruangan nya Fabiola melewati bangsal anak, di sana ia melihat seorang anak kecil yang sedang duduk di kursi roda dengan selang infus yang tergantung di tiang yang di letakkan di penyanggah di kursi roda itu, gadis kecil itu memasang wajah murung sambil melihat kearah taman kecil yang ada di depan lorong ruang bangsal


"Hai selamat pagi gadis cantik" Ucap Fabiola menyapa anak itu sambil berjongkok di depannya namun Anak itu hanya diam tidak menjawab sapaan Fabiola


"Nama Kamu siapa? " Fabiola masih berusaha mendekati Anak itu


"Saya Fabiola,oh Kamu mau coklat tidak? " Fabiola mengeluarkan sebungkus coklat dari tasnya kemudian memberikannya pada anak itu


Tangan anak itu terangkat ingin mengambil coklat yang diberikan oleh Fabiola "Terima kasih" Ucap Anak itu membuat Fabiola tersenyum


"Nama kamu siapa? " Tanya Fabiola kembali saat melihat Anak itu mulai meresponnya


"Nama aku Kayra" Ucap Kayra sambil mencoba membuka bungkusan coklat itu


"Sini Aku bantuin yah" Fabiola membuka pembungkus coklat itu kemudian menyerahkan isinya pada Kayra


"Kamu suka? " Tanya Fabiola dan dibalas anggukan oleh Kayra


" Kayra memang setiap hari duduk disini kalau pagi" Ucap Kayra menghabiskan coklat di tangannya. Fabiola menatap iba pada anak kecil didepannya ini, melihat tubuhnya yang kurus serta wajahnya yang pucat


"Dokter boleh anterin Kayra kedalam ruangan tidak" Pinta Kayra


"Baiklah, ruangan kamu nomor berapa? "


"Yang diujung sana Dok" Tunjuk Kayra pada sebuah ruangan yang letaknya paling ujung. Fabiola mendorong kursi roda Kayra dan membawa anak itu kembali keruangan nya


.


.


.


Fabiola memasuki ruangan nya menyimpan tasnya kemudian mengisi daftar hadir


"Aku duluan yah, sudah dipanggil dokter Anita disuruh bantu mengecek pasien" Ruri pamit kepada Fabiola meninggalkan gadis itu sendiri di ruangan karena teman-temannya sudah pergi mengerjakan tugasnya masing-masing


"Kok Aku belum dapat panggilan dari Dokter Abian yah, atau sebaiknya Aku keruangan nya saja" Fabiola pergi keruangan Abian untuk menanyakan tugas yang harus ia kerjakan hari ini

__ADS_1


Saat ia sudah berada di depan ruangan Abian ia mencoba mengetuk pintu itu beberapa kali namun tidak ada yang membukakannya "Selalu saja" Rutuk nya karena untuk kesekian kalinya ia tidak di bukakan pintu atau di persilakan masuk


"Ngapain Kamu? " Tanya seorang perawat wanita dengan tatapan sinis nya


"Saya ingin menemui Dokter Abian"


"Dasar pembuat ulah" Ucap perawat itu membuat Fabiola kebingungan, lalu perawat itu masuk keruangan Abian dan keluar lagi sambil membawa sebuah berkas dan stetoskop


Fabiola yang melihat perawat itu pergi,memutuskan untuk mengikutinya dan sampailah Bela di ruangan ICU yang di sana sudah ada Abian dengan jas putihnya


Fabiola mencoba mendekati Abian "Selamat pagi Dok, saya ingin.. "


"Setelah ini Datang keruangan saya" Ucap Abian dengan menahan amarah kemudian pergi dari hadapannya


Fabiola dibuat kebingungan dengan raut kemarahan di wajah Abian " Apa aku berbuat kesalahan? " Tanya Fabiola bingung lalu pergi menyusul Abian


"Dok tolong adik saya, alergi nya kambuh lagi" Ucap seorang gadis sambil terisak


"Pasang Oksigen padanya" Perintah Abian pada perawatnya lalu segera melakukan pertolongan pada Kayra


"Baik Dok" Ucap perawat itu


Fabiola langsung masuk keruangan Kayra saat mengikuti Abian "Apa yang terjadi padanya? " Tanya Fabiola saat melihat kondisi Kayra yang sedang terbaring tidak berdaya. Namun tidak ada yang menjawab pertanyaan, semua sibuk menangani Kayra


"Aku baru saja bertemu dengannya pagi tadi kenapa Kayra bisa seperti ini"


"Jadi Kamu yang sudah membuat kondisi adik ku seperti ini" Ucap Kakak Kayra dengan kemarahannya


"Maksudnya? " Fabiola tidak mengerti maksud perkataan gadis itu


"Kamu yang sudah memberikan coklat kepada adik ku, Apa kau tahu Adik ku itu alergi terhadap coklat " Gadis itu sudah menangis sejadi-jadinya melihat kondisi adiknya


Fabiola melongo tidak percaya, Ia sungguh tidak tahu mengenai hal itu. Matanya sudah berkaca-kaca ia merasa menyesal telah memberikan coklat kepada Kayra


"Kondisi nya sekarang sedang tidak stabil tapi Saya sudah memberikan penangan terhadap alerginya jadi tolong lebih perhatikan lagi apa yang akan masuk kedalam tubuhnya " Ucap Abian pada kakak Kayra lalu pergi dari ruangan itu


"Ikut keruangan Saya" Ucap Abian dengan nada dinginnya saat melewati Fabiola, perawat di belakang nya pun ikut melirik tajam kepadanya


Fabiola hanya menelan air liurnya.


Tamatlah riwayatku...

__ADS_1


__ADS_2