
"Tumben tidak teriak-teriak" Fani merasa heran melihat tingkah tidak biasa puterinya, hari ini Fabiola pulang dengan wajah yang terlihat sangat lesu
"Ma, Ola haus" Fabiola menghempaskan tubuhnya keatas sofa lalu meminta segelas air pada mama nya
"Ini minum dulu" Fani menyerahkan segelas air putih pada Fabiola
" Kamu kenapa? mukanya lesu sekali" Fani duduk di sebelah anaknya sambil mengelus lembut rambut Fabiola
"Ola hanya lelah saja ma"
"Tumben lelah, biasanya juga semangat terus. Ini kan hari pertama kamu Koas"
" Terjadi sesuatu di rumah sakit? " Fani sangat mengetahui gerak-gerik puteri nya itu, Fabiola gadis yang ceria dan aktif di mata Fani. Begitu jarang Fani mendengar keluhan keluar dari mulut Fabiola walaupun selelah apapun ia telah beraktifitas
"Ola tadi habis membuat kesalahan ma" Ucap Fabiola pelan
" Kesalahan apa sayang? "
Fabiola punn menceritakan kembali kejadian yang menimpanya di Rumah sakit.
Fani hany menghela napas mendengar cerita Puteri nya itu
" Jadi kamu sedih karena di marah oleh Dokter pengawas itu? "
"Tidak Ma, Ola sedih bukan karena di marahi oleh Dokter itu tapi Karena Ola merasa telah lalai dalam tanggung jawab Ola kepada pasien" Fabiola tertunduk sedih mengingat Kondisi Kayra yang memburuk karena nya
"Itu merupakan tantangan untukmu, jadikan kesalahan itu sebagai pendorong dirimu untuk bekerja lebih baik lagi kedepannya. Setiap orang pasti akan melakukan kesalahan dalam pekerjaannya bukan hanya kamu, jadi setelah ini belajar untuk lebih baik dalam bertanggung jawab" Fabiola langsung memeluk Mamanya setelah mendapatkan motivasi dari Fani
"Terima kasih Ma"
"Yasudah, kalau begitu kamu pergi mandi dulu. Mama mau masak untuk makan malam"
"Siap Ma" Fabiola langsung pergi ke kamarnya untuk Bersih-bersih
Setelah makan malam siap, Fani memanggil Suami dan Anaknya untuk makan malam
" Enak nih kayaknya" Ucap Mahessa dan langsung mendapat tatapan tajam dari Sang istri
"Memangnya sejak kapan mama masak tidak enak" Fani menjadi begitu sewot mendengar perkataan suaminya
" Mama lagi datang bulan yah, sensitif banget sih" Fani semakin menatap tajam suaminya karena mengatainya sensitif
Fabiola hanya tertawa melihat tingkah lucu kedua orang tuanya.
"Maaf kan Papa Ma, Masakan mama memang paling enak kok. Tidak ada lagi yang bisa mengalahkannya" Rayu Mahessa lalu memeluk tubuhnya istrinya dari samping
" Ihh Papa bisa saja" Ucap Fani sambil malu-malu kucing
Fabiola bergidik negri melihat tingkah genit Mama dan Papanya lalu mengetuk-ngetuk kepala dan meja bergantian menggunakan tangannya
"Dih sirik saja anak muda, makanya menikah supaya bisa bermesraan kaya Mama dan Papa" Ejek Fani
"Tidak, Ola tidak boleh menikah dulu. Papa tidak mau nanti suaminya akan membawa nya pergi dari rumah ini" Potong Mahessa cepat
"Papa bagaimana sih, terus kapan kita bisa punya cucu kalau Ola tidak di izinkan untuk menikah" Fani memukul lengan suaminya dengan kesal
Fabiola hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah ajaib kedua orang tuanya. Mamanya ingin Fabiola menikah sedangkan Papanya tidak ingin puteri nya di bawa oleh suaminya kelak. Padahal Fabiola sendiri belum memikirkan masalah percintaan apalagi pernikahan tentu saja masih sangat jauh dari keinginannya
__ADS_1
"Mama sama Papa mau sampai kapan ributnya, Ola sudah lapar nih" Fani dan Mahessa langsung tersadar dari perdebatan mereka dan merasa malu dengan tingkah mereka sendiri
Setelah makan malam Fabiola pamit ke kamarnya untuk beristirahat sementara Mama dan papanya masih memilih menonton televisi di ruang tengah
"Papa tahu tidak tetangga baru kita di sebelah?" Fani menonton sambil bersandar di dada bidang sang suami
"Tidak, Papa belum berkenalan dengan mereka"
"Papa bagaimana sih, segeralah berkenalan dengan calon menantu kita" Fani memukul pelan dada Mahessa
"Apa?? " Mahessa langsung duduk mendengar ucapan istrinya
"Ihh Papa bisa biasa saja gak kagetnya, ini Mama mau cerita" Fani menarik kembali Mahessa untuk kembali ke posisi semula
"Lagian mama bicara apa sih, bagaimana bisa tetangga baru itu jadi calon menantu kita? "
"Asal Papa tahu ya, tetangga kita itu ganteng Masya Allah banget, hidung nya mancung, kulitnya putih, tinggi kayak artis-artis korea gitu" Fani begitu antusias menceritakan Abian pada suaminya
"Kenapa bukan mama saja yang nikah sama dia kalau begitu" Mahessa kembali duduk lalu membalikkan badannya karena cemburu mendengar istrinya memuji pria lain di hadapannya
"Papa ini gimana sih, tidak mungkin lah mama mau sama berondong. Abian itu cocoknya untuk Puteri kita Ola"
"Mama tahu dari mana mereka itu cocok dan tidaknya? Mereka saja tidak saling kenal"
"Maka dari itu Pa, mama mau mendekatkan Ola ke Nak Abian" Mahessa mengernyitkan dahi nya melihat tingkah istrinya
"Terserah Mama saja lah, Papa tidak mau ikut campur"
"Oh ya Pa, satu hal lagi yang harus Papa ketahui"
"Nak Abian itu seorang duda anak satu" Ucap Fani dengan hati-hati, sebenarnya ia agak takut untuk melihat reaksi suaminya ketika mengetahui fakta itu
"Apa??? " Teriak Mahessa lalu menatap tajam istrinya, ia tidak percaya istrinya mau menikah kan Puteri satu-satunya pada seorang duda anak satu
"Sstt.. Papa bisa biasa aja tidak sih, tidak perlu berlebihan seperti itu"
"Berlebihan Mama bilang, Mama yang keterlaluan" Fani terkejut melihat reaksi yang di berikan oleh suaminya, ia tidak menyangka bahwa suaminya semarah seperti ini
"Sayang, tolong jangan marah dulu. Memangnya kenapa sih kalau Abian itu seorang duda kan kita belum tahu bagaimana masa lalunya " Fani mencoba menenangkan suaminya
"Papa tidak yakin dengan hal itu Ma, yang namanya perceraian tentu ada sebab dan akibat, walaupun kita tidak bisa menghakimi masa lalu seseorang tetapi Bagi seorang Pria mempertahankan rumah tangga adalah harga mati. Jika ia tidak bisa mempertahankan rumah tangga nya di masa lalu bagaimana dengan pernikahan selanjutnya nanti dan Aku tidak ingin hal itu terjadi pada Puteri Ku" Setelah mengatakan hal itu Mahessa langsung pergi ke kamar mereka, meninggal kan Fani seorang diri di depan televisi
"Belum juga bertemu dengan orangnya sudah main tolak-tolak saja. Dasar Pria kolot" Fani pun melanjutkan kegiatan menonton televisinya, tidak mempedulikan kemarahan sang suami karena menurutnya suaminya akan membaik dengan sendirinya
Keesokan Harinya..
"Ma,Pa, Ola berangkat dulu ya" Sudah menjadi kebiasaan yang sudah di tanaman kan sejak kecil oleh kedua orang tuanya untuk mencium tangan mereka sebelum pergi
"Sayang makan dulu, baru berangkat" Teriak Fani yang melihat Fabiola sudah berlalu pergi
"Anak itu, selalu melupakan sarapannya jika sudah terburu-buru"
Pagi ini Fabiola berangkat ke Rumah sakit agak cepat karena ia ingin menjenguk Kayra terlebih dahulu sebab kemarin ia sangat sibuk sehingga ia tidak sempat mengunjungi gadis kecil itu
" Oh ya sebaiknya Aku membeli sesuatu untuknya " Akhirnya Fabiola mampir sebentar ke toko buah untuk di berikan kepada
Tok tok tok
__ADS_1
Bela mengetuk pintu kamar rawat itu "Permisi" Ucap Fabiola sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu
"Silakan masuk Dok" Gadis remaja yang kemarin bersama Kayra kini sudah memperlihatkan sikap yang berbeda dari kemarin saat mereka bertemu padahal barusan Fabiola merasa khawatir jika gadis itu masih marah padanya
" Apa sejak kemarin dia belum juga bangun ?" Fabiola mendekati ranjang tempat Kayra terbaring
"Semalam ia sudah sadar Dok, hanya saja kondisinya memang sedikit lemah" Jelas gadis itu
"Oh ya ini Aku bawain Buah untuk Kayra" Fabiola memberikan parcel buah yang dibelinya tadi
"Terima Kasih Dok"
" Aku juga ingin meminta maaf karena sudah membuat Kayra seperti ini" Fabiola sungguh merasa bersalah karena kejadian itu
"Saya juga minta maaf Dok karena sudah bersikap tidak sopan kemarin" Gadis itu mengulurkan tangannya pada Fabiola . Melihat itu Fabiola langsung menerima uliran tangan itu kemudian tersenyum lembut kearah gadis itu
" Oh ya nama kamu siapa? "
"Nama saya Sania Dok, saya Kakak kandung Kayra"
"Kalau boleh tahu orang tua kalian dimana? " Fabiola merasa penasaran bagaimana bisa sejak kemarin ia tidak melihat adanya orang tua yang mendampingi mereka
"Ayah Kami sudah meninggal Dok, sedangkan Ibu jadi TKW di Malaysia" Terlihat jelas kesedihan di wajah Sania saat menceritakan kedua orang tuanya
"Maafkan Aku Sania membuatmu bersedih" Fabiola merasa bersalah telah menanyakan pertanyaan itu
"Tidak apa Dok Aku sudah biasa mendapatkan pertanyaan seperti itu"
"Apa Ibu mu tahu mengenai Kondisi adikmu sekarang? " Fabiola kembali bertanya karena ia merasa sangat penasaran bagaimana cara Sania membayar biaya rumah sakit Kayra yang tentunya tidak sedikit itu
"Tentu saja Dok, makanya Ibu harus menjadi TKW agar bisa membayar biaya rumah sakit Kayra" Mata gadis itu mulai berkaca-kaca saat menceritakan kondisi Ibunya, ia seperti menyimpan kesedihan yang mendalam di hatinya
"Aku begitu salut padamu yang mau berjuang bersama Ibumu untuk merawat Kayra" Fabiola memeluk Sania untuk memberikan kekuatan pada gadis itu lalu mengajaknya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Akhirnya Fabiola mendengar cerita kehidupan yang di lalui oleh Sania dan keluarganya. Mendengar cerita itu hati Fabiola terasa di iris pisau mengetahui kerasnya kehidupan yang mereka alami. Apalagi Sania gadis remaja yang baru menginjak usia 15 tahun harus mengalami hal-hal yang sepatutnya belum ia jalani. Ia harus putus sekolah ketika kelas 2 SMP saat Ayahnya meninggal dunia lalu usaha yang di miliki oleh keluarganya bangkrut karena di tipu oleh rekan bisnis Ayahnya. Sejak saat itu kehidupan keluarganya berubah 180 derajat , Ibunya menjadi penjual kue kecil-kecilan untuk memenuhi kebutuhan mereka sedangkan Sania hanya membantu Ibunya berjualan sambil menjajahkannya berkeliling namun yang menjadi titik balik terbesar di kehidupannya yaitu ketika tepat setahun kematian sang Ayah, Penyakit sang Adik Kayra semakin parah akibat pengobatannya harus berhenti berjalan karena mereka sudah tidak memiliki uang untuk membayar pengobatannya.
Akhirnya sang Ibu mengambil jalan tengah yaitu dengan menjual rumah peninggalan suami nya yang menjadi satu-satunya harta yang mereka miliki. Setelah itu mereka kembali melanjutkan pengobatan Kayra yang sempat terhenti namun karena hal itu kini mereka tidak lagi memiliki tempat tinggal sehingga sang Ibu memutuskan untuk menitipkan anak-anak nya pada salah satu saudara sang suami untuk sementara waktu sedangkan dirinya akan mencari pekerjaan yang layak
Sebulan berlalu Sania bersama Kayra tinggal di rumah tantenya yaitu adik dari ayahnya , diberikan tempat tinggal untuk berteduh sudah sangat sania syukuri tetapi meski begitu Sania tidak serta merta tinggal berpangku tangan di rumah itu karena di sana ia harus mengerjakan seluruh pekerjaan rumah mulai dari membersihkan rumah, mencuci pakaian seluruh anggota keluarga itu dan memasak semua di kerjakan olehnya karena jika tidak maka ia dan adiknya tidak akan diberikan jatah makan. Sania tidak bisa menolak semua perlakuan yang di terimanya karena ia sadari diri bahwa dirinya hanya menumpang di dalam rumah itu, hingga tiba suatu hari yang hampir merenggut masa depannya itu terjadi tepatnya dimalam ia sedang hanya bertiga bersama sang paman dan Adikya Kayra di rumah itu. Kala itu Kayra sudah tidur di kamarnya karena memang sudah menunjukan pukul sebelas malam, Sania masih berkutat di dapur untuk menyiapkan bahan masakan untuk besok hari dan tiba-tiba saja ia merasakan ada sepasang tangan melingkar di perutnya tepatnya memeluk tubuhnya dari Belakang, mendapatkan perlakuan seperti itu Sandi langsung memberontak dan mencoba melepaskan diri nya namun usahanya sia-sia karena tenaga dari sang Paman tentunya lebih besar darinya tetapi Sania tidak kehilangan akal ia pun menginjak kaki Pria itu dengan kuat hingga pelukannya terlepas dan langsung berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam.
Keesokan harinya ia berniat untuk melaporkan kejadian semalam kepada tantenya namun belum juga ia melaporkannya, Sania sudah mendapatkan tamparan keras di pipinya yang di lakukan oleh tantenya itu. Niat hati ingin melapor ternyata malah dirinya lah yang di tuduh ingin menggoda paman nya. Akhirnya hari itu juga Sania dan Kayra diusir dari rumah itu tanpa berbekal apapun kecuali pakaian mereka
Dua hari mereka luntang lantung di jalan hingga akhirnya mereka ditemukan oleh seorang pengurus mesjid tempat mereka berteduh selama dua hari itu. Kondisi mereka sangat menyedihkan lalu pengurus mesjid itu mulai menanyai Sania mengenai latar belakang mereka dan akhirnya mereka di bawah ke Panti asuhan yang ada di daerah itu.
Fabiola memeluk tubuh Sania untuk menyalurkan kekuatannya pada gadis itu, tubuh Sania bergetar hebat karena tangisannya
"Kau gadis yang sangat kuat, Aku belum tentu bisa sekuat dirimu jika tertimpa masalah"
"Terima kasih Dok, karena susah mau mendengarkan kisah ku" Sania menghapus air matanya berusaha tegar
"Kau boleh memanggilku Kak Ola agar terdengar lebih akrab"
"Oh ya, jam berapa ini? " Fabiola melihat jam di tangan nya yang menunjukkan pukul 08.12
"Ya Ampun, Aku harus segera pergi. Oh ya Sania ini nomor teleponku, hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu" Sebelum pergi Fabiola memberikan nomor teleponnya untuk berjaga-jaga jika saja gadis itu membutuhkan bantuannya
" Terima kasih kak" Sania menatap kertas yang diberikan oleh Fabiola, air matanya kembali jatuh membasahi kertas itu. Sania tidak menyangka ada orang sebaik Fabiola yang mau mengulurkan tangannya bahkan kepada orang yang baru dikenalnya
.
__ADS_1