
11
Agata tertawa renyah mencairkan ketegangan yang diciptakan Azka baru saja, kepalan tangan Azka ia genggam erat dan berucap, "Sayang, bercandanya nggak lucu. Orang yang nggak kenal kamu dengan baik bisa saja percaya."
Azka sama sekali tidak bergiming dan tidak menghiraukan Agata. Matanya masih menemui Yura yang masih terkejut mendengar ucapannya.
"Agata nggak mungkin bilang begitu kalau dia yang lo nikahi. Dan nggak mungkin juga lo nikahi perempuan lain. Jadi, jangan pikir kita percaya sama pengakuan konyol ini." Ega menimpali sembari bergantian melihat Yura dan Azka. Dirinya tidak suka cara Azka melihat Yura. Nalurinya sebagai sesama lelaki tentu tahu apa arti tatapan Azka. Ada amarah dan cemburu di mata pria itu. Namun, Ega tidak mau terlalu cepat mengambil kesimpulan, sebab Azka dan Yura tidak saling mengenal jadi tidak ada alasan Azka cemburu sementara dia memiliki Agata di sisinya.
"Apapun bisa terjadi dan jangan terlalu yakin lo bisa nikahi Yura karena bisa aja perempuan itu udah punya suami," cetus Azka sembari menaikkan sebelah alisnya. Tersenyum mengejek Yura yang tampak gelisah. "Benarkan, Nona?"
Sialan! Yura harus banyak-banyak menelan salivanya sendiri. Azka berhasil membuat dirinya tidak bisa bicara. Ia fikir Azka akan bicara gamblang membuka rahasia mereka, tapi ternyata malah melemparkan senjata padanya. Mana mungkin Yura mengakui pria itu adalah suaminya 'kan?
"Kalau aku udah punya suami aku nggak mungkin pergi sama laki-laki lain." Jawaba Yura membuat Azka membuang muka darinya hingga ia bisa bernafas lega lagi.
Agata menangkup wajah Azka hingga mereka bertemu pandang. "Obrolan ini buat aku takut. Sayang, aku nggak mau kamu bercanda seperti ini lagi. Dan aku nggak mau bayangin kamu menikah sama perempuan lain. Baik itu Ega atau kita nggak masalah siapapun yang menikah lebih dulu. Ini cuma masalah waktu 'kan?"
Azka membuang nafas resah, ntahlah sepertinya hatinya mulai goyah. Ia genggam tangan Agata di depan dada berharap bisa lebih tenang, namun ntah mengapa pikirannya hanya dipenuhi Yura. Azka mencium punggung tangan Agata agar wanita itu bisa kembali lebih tenang.
Kedatangan Antonio menghentikan kemesraan Agata dan Azka. Pria itu mengajak ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat kepada mempelai. Ega langsung menggandeng tangan Yura dan membawa wanita itu pergi tanpa pamit kepada Azka yang berulang kali kedapatan diam-diam melihat Yura.
__ADS_1
"Apa Azka mengganggumu?" Ega berbisik tepat di telinga Yura, semua orang bisa melihat gestur tubuh mereka sangat dekat.
"Kenapa kamu tanya begitu?" Yura kembali bertanya.
"Ntahlah, aku merasa ada yang nggak beres sama dia. Bilang sama aku kalau Azka berani ganggu kamu."
Yura tidak menjawab lagi, ia takut berbohong lebih jauh kepada pria yang sudah sangat baik padanya.
***
Mobil Ega telah sampai di simpang jalan menuju kosan Yura. Jalanan itu tidak bisa dilalui mobil dan Ega terpaksa menurunkan Yura di sana.
"Aku antar ke dalam, ya, " tawar Ega.
Ega tidak mau memaksa Yura. Akhirnya ia mengalah. "Makasih untuk malam ini, Yura. Maaf aku harus mengakui kamu sebagai kekasihku tadi."
"Iya nggak apa-apa. Tapi, kalau bisa jangan lagi, ya."
"Kenapa? Aku bahkan mau lagi dan lagi sampai hubungan kita menjadi nyata dan kamu benar-benar jadi milikku." Ega tidak menyerah meyakinkan Yura.
__ADS_1
Gimana caranya membuat kamu mengerti kalau itu nggak akan mungkin? Yura membatin sembari membuka sabuk pengaman.
"Sampai ketemu besok, Ega. Aku mau lihat mobil kamu pergi," ucapnya sebelum turun.
"Tapi, aku nggak akan pergi sebelum memastikan kamu aman. Aku tetap di sini sampai punggung kamu nggak terlihat lagi."
"Aku nggak akan pergi kalau kamu belum pergi. Gini aja, biar adil kita sama-sama pergi."
Ega tertawa dan menggelengkan kepala, setiap ucapan dan tingkah Yura selalu menghiburnya.
"Deal...."
Yura tersenyum lega, langsung pergi tanpa bicara lagi. Sengaja memperlambat langkah sementara saat mobil Ega mulai melaju sampai hilang dari pandangannya.
"Hampir aja, "gumam Yura , ia berbalik arah menuju apartemennya. Setelah jalan kaki sekitar 10 menit lamanya akhirnya ia tiba di unit apartemen.
Begitu membuka pintu hidungnya mencium aroma maskulin. Gelapnya ruangan menghalangi pandangannya mencari sumber aroma tersebut.
"Sudah malam tapi kenapa wangi parfum Azka belum hilang? Laki-laki keras kepala yang selalu berbuat semaunya itu nggak mungkin ada di sini 'kan ?Dia pasti lagi mesra-mesraan sama Agata."
__ADS_1
Yura menekan saklar lampu di dinding. Seketika ruangan yang tadinya gelap gulita kini sudah terang membuat mata Yura langsung membola melihat orang yang berdiri tegak tepat di hadapannya.
"Azka....."