
6
Tepat jam 5 sore menjadi batas akhir Yura bekerja. Seperti biasanya wanita itu segera meninggalkan kafe, namun tiba-tiba mobil sport warna hitam menghalangi jalannya. Yura tentu tahu siapa pemilik mobil tersebut.
Yup! Ega membuka kaca jendela. Pria itu tersenyum di bangku kemudi melihat Yura. "Kamu nggak berencana melarikan diri 'kan, Ra? Masih ingat sama janji kamu 'kan?"
Kenapa Pak Ega tahu aku menghindarinya? Yura membatin.
Sebenarnya sedari tadi ia berusaha mencari cara untuk membatalkan janjinya dengan Ega. Apa lagi ia teringat tidak seharusnya menerima ajakan atau pertemanan dari pria lain. Sebab dirinya sudah terikat pernikahan dengan Azka.
Meskipun pernikahan sementara dan tidak diinginkan.
"Nggak, kok, Pak. Ini aku mau pulang untuk siap-siap. Nggak mungkin aku pakai pakaian ini 'kan?" tanya Yura kikuk, ini adalah acara orang kaya pertama yang akan ia datangi. Rasanya, tidak mungkin ia datang menggunakan celana jeans dan kaus biasa.
"Itu sih gampang," ujar ega. Pria itu keluar untuk membukakan pintu mobil tepat di samping kemudi. "Aku yang ajak kamu pergi jadi nggak mungkin aku nggak punya persiapan apa pun 'kan? Sekarang, kamu ikut aku, ya."
Dia memang pemaksa. Dengan setengah hati Yura melangkahkan kakinya masuk ke mobil Ega.
"Kita mau ke mana?" tanya Yura setelah Ega melajukan mobil membelah jalan raya.
"Salon kecantikan. Kita nggak punya banyak waktu pulang ke apartemen kamu," jawab Ega, sedari tadi bibirnya selalu tersenyum senang. Ia tidak sabar melihat reaksi yang lain ketika ia datang menggandeng wanita secantik Yura.
"Harusnya nggak perlu buang-buang duit," cicit Yura tidak enak hati.
"Udahlah, Ra. Jangan merasa nggak enak hati seperti itu. Dan aku minta tooooloooong banget sama kamu untuk tidak memanggilu bapak. Apa lagi di depan teman-temanku. Aku nggak mau mereka curiga kalau kita bukan sepasang kekasih."
Yura mengernyitkan dahi. "Memang bukan 'kan?"
Ega menyengir kuda. "Tapi, aku udah akui kamu sebagai ibu dari calon anak-anakku."
Yura terkesiap mendengarnya. Kalau seperti ini Ega bisa mempersulit dirinya. Rasanya ingin sekali Yura lompat dari mobil agar tidak jadi pergi ke pesta dengan pria itu.
Setibanya di salon kecantikan ternama yang menjadi tempat langganan mama Ega, pria itu langsung meminta pemilik salon untuk merias Yura. Sementara dirinya menunggu di ruang tunggu.
__ADS_1
"Sebenarnya Nona udah cantik dari lahir, jadi tanpa make up pun auranya udah keluar," ucap pria bertulang lunak yang merias wajah Yura. "Kayaknya, kali ini Mas Ega bawak pasangan yang tepat. Biasanya dia bawa tante Marry."
"Oh, kami bukan pasangan seperti yang kamu pikirkan," sergah Yura. Ia tidak mau dipusingkan dengan urusan lain selain Azka. Cukup pria itu saja yang berusaha ia masukkan ke dalam perangkap. Jangan ada lagi orang lain di dalam hidupnya saat ini.
"Tapi, mata mas Ega bicara lain. Dari caranya menatap nona aja udah menjelaskan kalau nona wanita special di hatinya. Laki-laki mana yang bersedia bawa perempuan yang bukan siapa-siapanya ke salon?"
Yura menghela nafas dalam. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada orang lain.
Apakah sikap Ega tidak akan berubah kalau tahu dirinya sudah menikah? Meskipun menikah kontrak dan tanpa cinta, tapi tetap saja tubuh Yura sudah disentuh suaminya.
***
Azka benar-benar tidak bisa fokus. Pikirannya seolah dihantui oleh Yura. Sedari tadi tanda tangan wanita itu menjadi objek matanya. Ia bahkan sengaja menunda semua agenda yang telah disusun rapi demi menenangkan diri di ruangannya.
"Sudah sore, Bos mau pulang atau menginap di sini?" Tanya Yudi tanpa mengetuk pintu.
Azka melirik sejenak tanpa mengubah posisi duduknya yang bersandar di kursi kebesarannya.
"Yud, kau pernah memikirkan seseorang?" Azka kembali bertanya.
"Perempuan lah, kau pikir untuk apa aku memikirkan laki-laki?" Azka kesal melihatnya, menyimpan berkas perceraiannya ke dalam laci. "Jawab saja jangan banyak tanya. Menurutmu mengapa kita memikirkan dia."
"Kasmaran! Jatuh cinta. Itu artinya bos sedang jatuh cinta, " jawab Yudi antusias.
"Gila! Nggak mungkin!" sergah Azka berusaha menghapus semua ingatan tentang Yura.
"Dikasih tau nggak percaya. Jangan-jangan bos lagi mikirin perempuan lain selain kekasih bos itu?"
Azka beranjak dari duduknya. "Ah, sudahlah. Bicara denganmu semakin menambah beban pikiran," ucap pria itu sembari berjalan keluar ruangan.
Azka kembali ke apartemen yang selama ini ditempati. Agata juga berada di gedung yang sama dengannya. Dan selama itu keluarganya tidak tahu kalau ia dan Yura tinggal di tempat terpisah.
"Hai, Sayang.... "
__ADS_1
Begitu membuka pintu Azka dikejutkan dengan suara Agata. Wanita itu sudah duduk di sofa menunggu kepulangannya.
"Kenapa nggak bilang kalau kamu di sini?" Azka melemparkan kunci mobil ke atas meja lalu menjatuhkan bo kong di sofa.
"Selama ini aku nggak perlu izin dulu kalau mau masuk ke sini. Aku 'kan punya akses yang bisa kapan saja aku tembus. Kenapa kamu kayaknya keberatan?" Agata cemberut.
"Bukan keberatan, aku cuma lagi capek aja." Azka mengelus pipi Agata. "Jangan salah paham, ya," bujuknya.
Agata mengangguk. "Kita jadi dinner di luar 'kan?"
Ponsel berdering mengurungkan bibir Azka bicara. Pria itu hanya mengangguk pelan. Membuka pesan yang dikirimkan Ega padanya.
Foto punggung seorang wanita berambut panjang dengan gaun warna hijau tosca terpampang di layar datarnya.
"Kenapa Ega ngirim foto ini ke kamu?" tanya Agata saat berhasil melirik handpone Azka.
"Ntahlah, mungkin dia perempuan yang dibicarakannya tadi." Dan ntah mengapa rasanya Azka tidak ingin berpaling dari foto wanita tersebut. Ia merasa seperti tidak asing, bahkan perasaannya menjadi semakin gelisah.q
Agata merampas handone Azka lalu ia letakkan di atas meja. "Jangan sampai kamu tergoda sama wanita lain, ya. Aku nggak mau hubungan kita berakhir." Agata mencium pipi Azka. "Aku pergi dulu, nanti kamu jangan lupa jemput aku, ya," imbuhnya lalu kembali ke unit yang ia tempati.
Azka mengusap wajah dengan gusar. Dirinya tidak tahu mengapa sedari tadi Yura selalu mengisi pikirannya. Bahkan foto yang dikirim Ega pun sepintas tampak seperti Yura.
***
Malam harinya pesta pernikahan yang digelar mewah di sebuah ballroom hotel sudah dipenuhi para tamu undangan termasuk Yura dan Ega.
Ega begitu bangga datang bersama wanita cantik seperti Yura.
"Jadilah pasanganku untuk malam ini," bisik Ega sembari melebarkan sedikit siku tangannya. Berharap Yura segera menyambutnya.
"Aku takut ada orang yang mengenali kita."
"Aku pikir itu bukan masalah yang besar. Aku tidak terikat hubungan dengan wanita manapun dan kamu pun begitu. Jadi, siapa yang akan marah bila kita bergandengan tangan seperti ini?" Ega menyatukan jemari tangan mereka.
__ADS_1
Benar juga, tidak ada yang tahu aku sudah menikah. Tapi mengapa perasaanku tidak enak? Yura membatin.