Terjerat Pesona Istri

Terjerat Pesona Istri
Azka Gila


__ADS_3

9


Ntah mengapa wajah Yura menjadi panas. Tidak! Bukan hanya wajah, bahkan hatinya pun ikut panas. Panas melihat Azka menggandeng kekasihnya. Mengapa bisa begitu? Bukankah selama ini dirinya tahu kalau Azka memang memiliki kekasih? Pertama kali bertemu wanita itu secara langsung membuat Yura bisa mengerti mengapa selama ini Azka tidak pernah meliriknya.


"Dia memang cantik. Persis seperti yang dikatakan Azka selama ini. Pantesan Azka begitu membanggakan kekasihnya itu." Bermonolog di depan cermin setelah memastikan tidak ada orang lain di sana.


"Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini? Dan Ega...." Mendesahkan nafas kesal. "Kenapa dia bilang begitu? Harusnya Ega nggak sembarangan bicara 'kan? Gimana kalau Azka percaya dan menuduhku yang bukan-bukan?"


Yura mondar-mandir berharap perasaannya kembali normal. Dirinya hanya perlu bersikap biasa saja agar tidak ada yang curiga kalau ia dan Azka saling mengenal, bahkan lebih dari itu.


Ketukan pintu membuat Yura terperanjat kaget. Matanya terbiak lebar melihat orang yang masuk ke toilet wanita.


"Azka? Kamu ngapain masuk ke toilet perempuan?" Ia beringsut mundur ketika Azka mendekatinya. Wajah pria itu tampak datar dan berhasil membuat hatinya bertanya-tanya. "Keluar!"

__ADS_1


Bukannya keluar, Azka malah semakin mendekati Yura. Pria itu tidak perduli jika ada orang yang datang dan menangkap basah dirinya. Tatapannya tajam seperti anak panah yang menancap mata Yura, ia sengaja meraih pergelangan tangan Yura lalu membawa wanita itu masuk ke salah satu bilik toilet.


"Azka, lepasin. Kamu nggak bisa seenaknya seperti ini," ucap Yura seperti berbisik, ia takut ada orang masuk dan mendengar suaranya bicara dengan Azka.


"Kenapa? Apa aku nggak bisa menyentuh kamu seperti ini?" Tangan Azka berpindah ke pinggang Yura, menarik wanita itu hingga menempel di dadanya. Bayangan ketika Ega memeluk dan berdansa dengan Yura membuat hatinya gelisah. "Apa cuma laki-laki itu yang bisa melakukan ini?"


"Maksudnya apa, sih ngomong kayak gitu? Kamu pikir aku rela disentuh sembarangan orang?" tanya Yura tidak terima.


"Jadi, apa aku salah bicara? Harusnya kamu sadar akan statusmu 'kan? Kamu ini seorang istri. Bisa-bisanya pergi sama laki-laki lain."


"Istri siapa?" Yura tersenyum simpul. "Memangnya siapa yang tahu aku sudah menikah?"


Mendengar itu membuat Rahang Azka mengeras bersamaan gigi yang saling bergesekan. Dirinya tidak mengira Yura bisa mengembaikan peluru padanya.

__ADS_1


"Istriku... kamu istriku dan aku suamimu. Kita sudah menikah secara sah dan memiliki buku nikah," cetus Azka di hadapan Yura. "Dan nggak seharusnya kamu pergi tanpa izinku."


"Kenapa kamu mendadak posesif sementara kamu juga bebas pergi sama kekasihmu. Apa itu namanya suami?"


Yura mendorong bahu Azka, namun sayangnya pria itu tidak bergeser sedikitpun dari posisinya.


"Sikap kamu yang seperti ini tampak seperti orang yang sedang cemburu, Azka. Hati-hati jangan sampai kekasihmu itu curiga sama kita. Jadi, bersikap sewajarnya seperti selama ini kita saling acuh dan nggak saling mengenal."


Yura tersenyum sinis saat tangan Azka mulai mengendur hingga ia bisa sedikit menjauhi suaminya tersebut. Wajah Azka masih datar dan tidak terbaca. Diamnya Azka membuat Yura mengambil kesempatan untuk pergi, namun masih satu langkah Azka meraih tangannya hingga pandangan mereka bertemu lagi.


"Sejauh apa hubungan kalian?" Suara Azka terdengar lirih kali ini tidak ada amarah di sana. Hanya saja penasaran tidak bisa ia abaikan.


"Kenapa kayaknya kamu perduli? Mau sejauh apapun nggak ada urusannya sama kamu. Dan kamu nggak mungkin keberatan karena diawal kamu sudah menyiapkan surat perpisahan kita. Aku bahkan sudah menanda tanganinya."

__ADS_1


Yura tersenyum penuh kemenangan. Namun, senyumannya hilang karena Azka mencium bibirnya tiba-tiba. Azka gila! Azka memang gila!


__ADS_2