Terjerat Pesona Istri

Terjerat Pesona Istri
Mengakhiri


__ADS_3

12


"Sayang jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya." Baru kali ini Agata ketar-ketir duduk di sebelah Azka yang sedang fokus mengemudikan mobil. Pria itu tidak menggubrisnya malah seperti sengaja mengejar mobil Ega yang berada tidak jauh di hadapan mereka. Hanya berjarak 4 mobil saja tapi Azka seolah ingin mengimbangi kecepatan mobil Ega. "Azka berhenti kamu buat aku takut!" pekik Agata sembari memejamkan mata ketakutan.


Azka terkesiap mendengarnya hingga ia tersadar dengan apa yang ia lakukan. Lantas, pria itu menekan pedal rem membuat mobilnya berangsur berjalan normal. "Maaf." Azka berucap tanpa melihat Agata, ia usap wajahnya dengan sebelah tangan berusaha bersikap sewajarnya agar Agata tidak curiga kalau saat ini pikirannya sedang kacau.


"Aku perhatikan akhir-akhir ini kamu sering nggak fokus. Bahkan, tadi di pesta kamu lebih banyak diam, sekali bicara yang bukan-bukan. Kamu lagi ada masalah?" tanya Agata, ia perhatikan wajah Azka yang hanya tampak dari samping saja. Agata tidak tahu mengapa rahang tegas pria itu kian mengeras, matanya pun tajam melihat jalanan yang terbentang luas di sana. "Kamu ada masalah sama Ega?" tanya Agata lagi ketika Azka tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Nggak ada hubungannya sama Ega. Aku cuma kepikiran masalah kantor aja," jawab Azka sembari membelokkan stir kemudi ke arah apartmen. Terpaksa ia lepaskan mobil Ega di mana ada Yura di dalamnya.

__ADS_1


"Kamu pasti capek banget, ya. Nanti istrahat di kamarku aja. Malam ini kamu jadi nginap 'kan?" Agata berharap Azka tidak menolak seperti kemarin. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali Azka menginap di tempatnya.


Azka sekilas melihat Agata, ia tahu Agata sangat berharap ditemani seperti biasanya. "Nggak bisa. Aku harus pulang ke rumah. Lain kali aja, ya."


Agata berdecak sebal, wajahnya mengerucut pertanda wanita itu marah. Tidak ada percakapan lagi sampai mereka tiba di apartemen. Agata tahu tidak mudah membuat Azka mengubah keputusan hingga ia turun begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi.


Azka benar-benar tidak mau membuang waktu, sedari tadi pikiran dan hatinya hanya terarah pada Yura dan Ega hingga akhirnya ia nekat memacu kendaraannya ke apartemen wanita tersebut. Sesampainya di sana Azka langsung masuk menggunakan kunci duplikat yang ada padanya. Lampu yang masih padam membuatnya yakin kalau tidak ada kehadiran Yura du ruangan itu. Pria itu pun sengaja tidak menyalakan lampu dan langsung menjatuhkan bokongnya di sofa. Setelah lebih dari 10 menit duduk seorang diri barulah pintu terbuka hingga ia sigap berdiri guna menyambut Yura.


"Sejak kamu mengacaukan pikiranku!" Azka menegaskan ucapannya sembari semakin mendekati Yura. Ia cengkeram lengan Yura hingga wanita itu tidak bisa menghindari dirinya. Bahkan, sedikit meringis karena perbuatannya. "Apa rencanamu, Yura? Apa kamu pikir kamu sudah berhasil menjalankan tugas dari mama?"

__ADS_1


"A-apa maksudmu aku mengacaukan pikiran kamu? Bukannya selama ini aku nggak pernah ada di dalam ingatan kamu? Ta-tapi kenapa sekarang kamu menyalahkan aku? Dan tolong jangan bawa-bawa mama." Yura bicara terbata, sebab kali ini Azka tampak berbeda. Wajah pria itu tampak marah sekali, tapi matanya terlihat rapuh.


Azka tidak lantas menjawab, pria itu bergeming beberapa detik untuk memperhatikan Yura dan menata hatinya. Jelas, Agata masih bertahta di hati Azka, tapi melihat istrinya diklaim pria lain membuat hatinya mulai goyah.


"Yura, ayo kita akhiri di sini....," ucap Azka, suaranya lirih seperti berbisik.


Yura mengerutkan dahi tidak tahu apa arti kalimat yang dilontarkan Azka. Apa pria itu sangat tidak sabar untuk menfakhiri pernikahan mereka?


"Kamu minta tanda tanganku lagi?" Yura tidak siap untuk itu, sebab ada perjanjian yang telah mereka srpakati. Dan itu artinya mereka harus tidur di atas satu ranjang yang sama di mana Azka bisa menyentuh dirinya sesuka hati.

__ADS_1


"Kita akhiri perjanjian konyol itu dan kita mulai hidup yang baru." Azka berucap dengan satu kali tarikan nafas membuat Yura tidak berkutik lagi.


Disaat Yura masih mencerna ucapan Azka, pria itu berhasil menyatukan bibir mereka. Bahkan tangan Azka pun ikut menjalari tubuh Yura. Kali ini Azka tidak terburu melakukannya hingga Yura merasa nyaman dan terbuai. Ntah apa yang membuat Azka mengambil keputusan yang selama ini ia tentang, tapi satu hal yang pasti selama ini Yura memang berusaha membuat Azka mau menghamili dirinya. Ya, mama Azka ingin ia melahirkan keturunan Azka.


__ADS_2