
4
Apa-apain ini? Kenapa menahanku?
Yura bicara melalui isyarat mata kepada Azka yang masih bicara dengan Agata di balik benda pipihnya itu. Wajah pria itu tampak serius sekali dan sama sekali tidak menghiraukan protes Yura.
"Lepaskan tanganku atau aku buat kekasihmu tahu kalau kamu udah khianati dia!" Yura berbisik di telinga Azka dan itu berhasil membuat Azka melepaskannya, namun hati kecilnya sedikit merasa kecewa sebab itu artinya Azka lebih memilih mempertahankan hubungannya dengan Agata.
"Mau ke mana?" tanya Azka usai memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia perhatian penampilan Yura dari atas kepala hingga ujung kaki. "Apa nggak ada lagi yang harus kita bahas setelah aku buat kamu mende sah? Kenapa buru-buru pergi seolah bukan kamu yang punya tempat ini?"
Ingin sekali Yura menyumpal mulut Azka yang bicara tanpa difilter dahulu. Bisa-bisanya pria itu membahas sesuatu yang tidak seharusnya dibahas.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu perduli aku mau pergi kemana? Dan sejak kapan kamu tertarik membahas sesuatu sama aku? Bukannya selama ini kamu selalu menghindariku?" Yura tersenyum tipis melihat Azka terdiam dan mati gaya melihatnya. "Kenapa? Apa kamu sudah terpesona padaku?"
Azka tak bergeming melihat Yura. Tidak dipungkiri Yura terlihat lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu. Apa lagi wanita ini sudah memberikan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan. Tapi, terpesona?
"Nggak mungkin!" serga pria itu dengan angkuhnya. Azka meraih dagu Yura lalu mendekati wajahnya. "Kamu harus bertemu Agata biar kamu tahu seperti apa wanita yang bisa membuat aku terpesona. Dan selama ini hanya Agata yang bisa membuatku terpesona dan jatuh hati. Bukan wanita lain apa lagi kamu."
Yura sekilas memejamkan mata saat Azka sengaja meniupkan nafas di wajahnya. Yura tahu saat ini Azka sedang mempermainkan dirinya.
Skakmat! Bibir Azka terasa keluh untuk berucap. Sial! Baru pertama kali ia mati kutu dibuat seorang wanita yang tidak lain adalah istrinya sendiri.
"Jadi, kita lihat saja." Yura mengedipkan sebelah mata menggoda Azka. Lalu pergi meninggalkan suaminya itu.
__ADS_1
Bunyi pintu yang ditutup menyadarkan Azka jika wanita itu sudah pergi. Ucapan Yura masih terngiang di telinga dan itu membuat dadanya berdebar.
"Omong kosong! Perempuan itu memang sengaja mau merusak hubunganku dengan Agata. Buktinya dia bersedia menikah denganku. Heh, jangan harap kamu akan berhasil."
Dengan kesal Azka mengambil berkas yang telah ditandatangani Yura.
"Satu tanda tangan ditukar dengan kesucian wanita itu. Konyol sekali dia!" Azka memicingkan mata mengingat ia tidak menggunakan pengaman sama sekali. "Aku ini laki-laki yang subur dan normal. Meskipun baru pertama kali melakukannya tapi kemampuanku nggak perlu diragukan. Apa jadinya kalau benihku tumbuh di rahim Yura?"
Azka menjambak rambutnya frustasi, sepertinya ia mulai tahu mengapa Yura meminta syarat aneh padanya. Yura masih perawan dan tidak haus belaian. Wanita itu pasti sengaja mengecoh hingga akhirnya ia bersedia menyentuh Yura.
Bagaimana kalau wanita itu hamil?
__ADS_1
"Yuraaaaaaa!!!" teriakan Azka menggema di ruangan itu. Ia kesal pada dirinya sendiri karena begitu mudah dijebak istri cerdiknya itu. Yura memang wanita yang cerdas dan licik.