Terjerat Pesona Istri Orang

Terjerat Pesona Istri Orang
Jodoh untuk Jack


__ADS_3

Pelukan kedua orang yang sama-sama baru saja mengenal, terlihat sangat akrab. Apalagi yang dilakukan oleh Jack selama ini, lebih dari harapan keluarga itu.


Seorang Jack yang pendatang baru, begitu fasih berkomunikasi serta bersosialisasi dengan keadaan rumah, perusahaan, anggota keluarga, para karyawan.


Semuanya sangat mudah bagi Jack, namun hanya satu yang kurang dari Jack.


Seorang istri.


"Tuan, kenapa memelukku terus? nanti kalau istri tuan tahu, ia bisa salah paham," celetuk Jack.


"Haha."


Ayah Reniva, melepaskan pelukan itu dan langsung kepada tujuan inti dirinya datang menemui Jack.


"Nak Jack, aku ingin menyampaikan padamu bahwa jasamu sungguh luar biasa pada kami. Kami merasa kau adalah penolong kami, entah bagaimana caranya berterima kasih."


"Tak perlu repot-repot tuan, aku merasa apa yang aku lakukan ini, hanyalah hal kecil. Jadi, kau tidak perlu sungkan."


"Kau sangat baik nak, aku harap kau mendapatkan jodoh seperti apa yang kau harapkan. Ehm, kalau boleh aku tahu, apakah kau tidak merasa ada yang aneh di dalam hidupmu? ada yang kurang?"


"Tidak tuan, aku tampan, dari kalangan keluarga elit. Memangnya apa yang kurang?"


"Haha, kau lucu. Bukan itu, tetapi seorang gadis."


"Ayahku sudah mempersiapkannya, aku kabur."


"Aku kenalkan dengan adik sepupu Reniva, mau? namun, aku harus pastikan ayah dan ibumu setuju."


"Ya, masalah itu gampang. Aku tidak terlalu ingin menikah dalam waktu dekat, jika belum mendapatkan Reniva."


Ayah Reniva langsung terdiam.


Dia tidak memahami apa yang disampaikan oleh Jack.


"Maksudmu?"


"Maksudnya, belum mendapatkan orang secantik dan sebaik nyonya Reniva."


"Hm, apa yang kau katakan ada benarnya, anakku memang baik dan cantik. Akan tetapi kehidupan rumah tangganya terlihat aneh. Ini salahku juga, karena meminta Reniva menikahi Ricky yang super sibuk, jadi tidak ada kebersamaan yang intens antara dua anak itu."


Ayah Reniva, tiba-tiba berjalan ke arah sofa.


Dia menyiapkan diri untuk duduk.


Jack pun mengikuti apa yang dilakukan oleh ayah Reniva, keduanya duduk berdampingan.


"Apakah nyonya Reniva bahagia?"


"Aku tak paham Jack, Reniva adalah anakku yang sangat pendiam, dia tak mau ribet dengan apapun. Perjalanan hidup yang dia lalui selama ini lurus-lurus saja, tidak ada belokan sama sekali. Ricky yang cuek, kadang membuatku berpikir, apakah anakku bahagia? huft, aku seperti ayah yang bodoh."


Ayah Reniva ternyata resah dengan hubungan antara Ricky dan Reniva.


Dia juga merasa jika rumah tangga anaknya itu ada masalah.

__ADS_1


"Tuan terlalu berlebihan, mereka baik-baik saja. Aku menjadi saksinya."


"Oh, begitukah Jack. Ini hanya omong kosong seorang ayah dengan instingnya Jack. Sorry ya, aku jadi curhat."


"Aku tidak masalah tuan, aku anakmu juga."


Ayah Reniva begitu bangga dengan Jack, dia tidak paham, bukannya tenang berada di samping menantu, dia justru lebih nyaman bercerita dengan Jack.


Sehingga dia ingin Jack bisa menikah dengan sepupu Reniva, agar hubungan keduanya makin dekat.


Lagi-lagi Jack, belum bisa memastikan. Dia masih harus menyelesaikan masalah perjodohan dengan ayah dan ibunya.


Ayah Reniva paham, dia berusaha keras merayu, meski tak boleh memaksa.


Dalam perbincangan mengenai Reniva dan Ricky, terbesit keinginan untuk bertanya, tapi Jack tak enak hati saat ingin menyampaikannya.


Lalu, Jack mengalihkan pembicaraan.


Dia ingin bicara mengenai pekerjaan, rapat yang akan di lakukan Jack dengan beberapa kolega hari ini.


Perbincangan kedua orang itu sangat nyambung, eranya sudah bukan ayah Reniva, tetapi era Jack.


Dalam perbincangan yang cukup hangat, ayah Reniva justru meminta Jack mengajak putrinya rapat.


Soalnya, Reniva sangat tertarik dengan dunia bisnis, tetapi sejak menikah, Reniva tak mau terjun langsung untuk rapat atau sekedar berbincang ringan mengenai pekerjaan.


Jack begitu senang dan sangat setuju, dia makin semangat.


"Kau ajak dia, kau bilang jika aku yang menyuruh."


"Sementara itu saja yang harus kau lakukan, berikan kesan jika perusahaan kita memang sangat fleksibel, meski banyak persaingan yang tidak sehat, aku berharap kita bisa bertahan."


"Baik tuan, aku akan melakukan apa yang kau katakan."


"Oke, beberapa menit lagi, kau akan rapat. Bersiap-siap lah."


"Ya tuan."


Ayah Reniva beranjak dari sofa itu dan pergi, sedangkan Jack dengan senyum bahagia langsung menghubungi Reniva menggunakan telepon rumah.


"Kau, ikut aku."


"Tiba-tiba mengajak pergi, apa hakmu?"


"Ayahmu memintaku untuk mengajakmu rapat, dia bilang kau kurang hiburan. Saat bersama Ricky, hidupmu sangat membosankan. Kau hanya berada di rumah, merawat ibu mertuamu dan kau harus memiliki suami lagi."


"Apa? ayah memintaku menikah lagi? apa kau tidak waras?"


"Haha, aku hanya bercanda, kenapa kau tegang sekali. Aku peluk, baru tahu rasa."


"Tuan Jack, jaga bicaramu. Katakan intinya saja, tidak perlu berputar-putar."


"Oke-oke, ayahmu bilang, kau harus ikut denganku rapat. Kau harus bersiap."

__ADS_1


"Ehm, apakah ini valid?"


"Kau tanya saja ayahmu, jika aku berbohong, kau boleh memukulku."


Panggilan telepon tiba-tiba terputus, sang gadis terlihat tak sabar untuk menanyakan pada ayahnya.


Jack sendiri merasa senang karena akan berada dalam kondisi yang sangat menyenangkan.


Dia dan Reniva akan bersama hari ini, padahal rapat dilakukan di luar kota.


Sangat menyenangkan baginya bisa pedekate.


Saat bayangannya jauh ke depan, Jack mendengar telepon rumah berdering, ia langsung menjawab panggilan telepon itu.


"Halo, dengan Jack, apa yang bisa aku bantu?"


"Hm, ayahku sudah bilang, jika aku harus bersamamu hari ini."


"Nah, kau memang susah dikasih tahu. Aku bersiap-siap dulu, aku akan menunggumu di teras. Kau bersiap-siaplah."


"Hm."


Panggilan telepon berakhir, sang pria berjingkrak, dia senang sekali akhirnya bisa bersama dengan istri orang yang selama ini ia dambakan.


.


.


.


Kamar Reniva ...


Reniva merasa aneh dengan semua ini, dia ingin pamit dengan Ricky, selaku suaminya, tapi dia tahu jika Ricky sedang berada dalam pelukan Sunnam.


Dia terbiasa menelpon bahkan mengirim pesan singkat yang tak dibalas sama sekali oleh Ricky.


Reniva, seorang wanita sabar yang terabaikan oleh suaminya sendiri.


Sang gadis terlihat beranjak dari ranjang, perlahan tapi pasti, dia menuju ruang ganti.


Di sana juga tidak terlalu lama, hanya beberapa menit saja.


Sang wanita mengenakan baju khas kantor miliknya yang dulu sering ia pakai.


Sebelum benar-benar pergi, dia berkaca terlebih dahulu.


Dia merapikan wajahnya menggunakan make up tipis, lipstik pink, tatanan rambut hanya di kuncir kuda, tapi kecantikannya sungguh maksimal.


"Reniva, kau adalah istri paling bodoh sedunia, suamimu tidur dengan gadis lain, kau pergi rapat dengan pria lain. Kau memang hebat!" kata Reniva pada dirinya sendiri.


Dia paham apa yang dilakukan oleh Ricky, tapi ini pertama kalinya dia pergi bersama pria lain, selain anggota keluarganya sendiri.


Reniva justru merasa bersalah untuk pria tidak waras macam Ricky.

__ADS_1


*****


__ADS_2