
Di dalam lift ...
Jack dan sang gadis berada di dalam lift, kebetulan hanya ada dua orang itu saja.
Apalagi ruang rapat ada di lantai 14, cukup lama untuk keduanya berada di dalam satu frame yang sama.
"Kenapa kau diam saja? bukannya bagus jika kita berbincang," goda Jack.
"Jaga jarak, aku bisa VC dengan suamiku. Dia akan paham pria seperti apa kau itu."
Sang wanita benar-benar cinta buta dengan Ricky.
Reniva sudah paham jika kelakuan suaminya memang sangat tidak bermoral.
Akan tetapi masih saja membuat onar dengan segala hal yang ada.
Ini sungguh menyebalkan bagi Jack.
"Kau adalah wanita paling tidak beruntung di seluruh dunia karena terlihat begitu menyedihkan. Kau paham dengan perkataanku?"
"Kau tidak tahu apa-apa, diam saja."
"Haha, kau memang wanita keras kepala. Aku sudah bilang denganmu jika bersama denganku kau akan mendapatkan kehidupan yang sangat bahagia. Ricky akan menikah dan dia menjadi orang paling bodoh karena lebih memilih Sunnam. Aku tahu dia, dia itu matre."
"Kau tahu apa? selama ini kau tidak tahu apa-apa. Tugasmu hanya menggantikan posisi suamiku."
"Ya memang benar, aku menggantikan posisinya. Aku bisa menjadi apapun, entah itu suami atau kacung. Aku bisa."
Sang wanita menatap wajah Jack dengan seksama, dia merasa bahwa pria itu banyak bicara, selalu saja dia menjadi pihak yang disalahkan.
Dia hanya ingin melindungi keluarga dari hal yang memalukan. Sebab Ricky akan membawa kabur semua harta dan kekuasaan milik keluarganya.
"Aku rela menjadi korban. Semua hal yang ada di dalam dunia ini, adalah hal yang nyata, kau tidak paham apapun, tolong jangan ikut campur."
__ADS_1
Sang wanita benar-benar mengeluarkan segala hal yang ada di dalam hatinya, semuanya.
Sang pria hanya bisa tersenyum smirk.
"Cih, mana bisa menjadi orang yang sok pahlawan? padahal kau sendiri saja merasa bahwa hidup tak semudah pemikiranmu. Padahal yang harus kau lakukan hanyalah bercerai dengannya!"
Kali ini sang pria agak tegas, matanya melebar. Dia sangat serius dengan ucapannya.
Ting!
Belum selesai perdebatan antara dua orang itu, pintu lift terbuka.
Sang wanita hanya diam saja, Jack terpaksa menarik lengan Reniva agar mau ikut dengannya.
"Ikut aku!"
"Apa kuasamu? aku bosmu, tuan Jack! Jangan tarik aku! Heh! kenapa tidak sopan sama sekali?"
"Apa maksudmu?"
"Kau adalah tanggung jawabku!"
"Siapa suruh kau menjadi orang kepercayaan suamiku! kau hanya ingin menghinaku kan?"
"Diam lah, aku sudah mendengar segala ocehanmu, Aku lelah."
Perjalanan menuju ruangan rapat yang ada beberapa meter dari lift, terlihat sangat hambar sebab, selama ini, Jack selalu banyak bicara.
Kali ini dia sangat pendiam.
Jack melepaskan genggaman tangan itu, dia terlihat begitu dingin.
Hingga sampai di depan ruangan rapat.
__ADS_1
Jack membuka pintu dan di sana hanya beberapa yang datang sebab banyak yang izin ternyata, namun Jack merasa bagus jika peserta tidak terlalu banyak.
Seorang pria yang menjadi peserta rapat, begitu antusias dengan kedatangan Jack.
Akan tetapi lebih fokus kepada Reniva yang terlihat berbeda penampilannya.
Peserta rapat juga heran, sejak kapan Reniva ikut rapat.
Ini yang pertama kalinya.
Seorang peserta yang tahu kesibukan Reniva, lantas mendekat dan bersalaman dengan istri sang bos.
"Wah nyonya ikut? tumben?" tanya Bram, nama peserta rapat.
Seorang kolega dengan perusahaan eksport import yang sangat terkenal.
"Iya, kebetulan saja. Aku merasa bahwa hidup ini harus di isi dengan banyak kegiatan."
Sang wanita begitu percaya diri dengan statusnya. Dia mencoba untuk sok cool seperti biasanya.
"Nah, bagus itu nyonya."
Sang wanita merasa dia sangat dihormati, jadi jiwa sombongnya begitu dominan.
Sorot matanya menatap tajam ke arah Jack, Jack sejak tadi memang ada di sampingnya, namun lebih fokus dengan ponselnya.
"Kau paham kan posisimu?"
"Cih, bodo amat."
Entah rencana apa yang ingin Jack lakukan, ini membuat Reniva berpikir keras.
*****
__ADS_1