
Beberapa menit kemudian ...
Sang pria sudah ada di teras, dia berpakaian sangat rapi.
Meski tak setampan artis holywood, setidaknya senyum Jack mampu membuat para gadis terpesona.
Namun, yang dia inginkan bukan para gadis, tapi Reniva yang terpesona oleh dirinya.
"Hm, dia lama sekali. Apakah seperti ini rasanya menunggu seorang gadis berdandan ketika ingin kencan?"
Sang pria tersenyum, dia bahkan merasa bahwa cintanya semakin banyak untuk Reniva, tak peduli tentang apapun.
Hingga suara pintu utama terbuka, membuat Jack harus benar-benar siap menatap bidadari yang baru saja keluar dari rumah mewah milik Ricky.
Sang bidadari, begitu manis, cantik dan mempesona.
Jack tak bisa berkata-kata lagi.
"Bidadari," batin Jack.
Bahkan pandangannya tak bisa lepas dari seorang Reniva yang cantik alami itu.
Tap ... tap ... tap ....
Langkah sang gadis begitu lambat, dia penasaran dengan Jack yang hanya terpaku melihatnya.
Kini tubuh Reniva sudah ada di samping Jack, dia menyadarkan pria tampan untuk segera on the way rapat.
"Tuan aneh, apakah kau sudah selesai melihatku? kapan kita berangkat?" tanya Reniva sambil menepuk pundak Jack.
Seketika itu juga, sang pria tampan tersadar.
"Oh, oke. Sekarang."
Jack segera masuk ke dalam mobil, sang gadis juga sama.
Dia tidak habis pikir dengan Jack yang terlalu berlebihan melihatnya, padahal dia berdandan tipis-tipis, tidak ada yang membuat gadis itu merasa tertarik dengan penampilan Jack, padahal dandanan sudah maksimal.
Reniva masih merasa tidak nyaman pergi dengan pria lain meski sudah mendapatkan izin dari ayah tercinta.
Perlahan tapi pasti, mobil Jack terlihat keluar dari rumah mewah itu.
Jack yang harus fokus menyetir, berulang kali menoleh ke arah Reniva yang sedang fokus dengan ponselnya.
"Jangan bilang suamimu, nanti dia pikir kita sedang selingkuh," canda Jack.
Dia memang sangat senang menganggu Reniva.
"Hm, aku tak mau selingkuh denganmu, memangnya tidak ada pria lain di dunia ini selain kau? meski Ricky tak pernah melihatku, tapi setidaknya dia masih bersamaku sampai saat ini," balas Reniva dengan hati yang sangat tersakiti.
"Kau memang bodoh, makanya tak merasakan keberadaanku," sahut Jack.
"Terserah apa katamu."
Sang gadis sebenarnya paham deritanya, hanya saja semua ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, jadi dia bisa menyembuhkan lukanya sendiri.
__ADS_1
"Aku kabur dari perjodohan dan bertemu denganmu, aku merasa kau harus disadarkan. Kau terlalu cinta mati dengan orang yang salah, Reniva."
Sang pria, mencoba mempengaruhi Reniva agar mau memikirkan hal semacam ini, sebuah kekecewaan yang harus diakhiri, bukan dibiarkan saja.
"Lalu? apa hubungannya denganku?" tanya Reniva.
"Ya jelas ada, kau sudah buta karena suamimu, dia merupakan orang yang tak memiliki otak. Aku tahu dia akan menikah lagi, apakah kau paham jika Ricky tak mencintaimu sama sekali?"
Sang pria menekan sang gadis, sebuah tekanan yang cukup halus tapi sangat menyiksa.
Reniva tak mau menjawab apapun, hanya saja dia sudah merasa muak dengan pembahasan semacam ini.
"Maaf tuan Jack, ini adalah hidupku. Apakah kau paham? aku mau kecewa, sakit hati, aku mau mati pun bukan urusanmu. Hubungan kita hanya rekan kerja, aku baik padamu karena ayah. Jadi, jangan belagu."
Sang gadis merasa kesal, dia tersinggung.
"Haha, kau memang lucu, apa yang kau cari dari semua ini? dari pernikahan toxic ini? come on baby, jika kau tidak menikah denganku, cobalah untuk sadar."
"Aku sudah sadar! kau tak berhak menjadi hakim bagiku. Kau tidak perlu mengatur, tidak perlu menasehati. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."
"Haha, apakah kau paham apa yang kau katakan itu? ayahmu saja bahkan tidak paham arti pernikahan kalian."
Sang gadis mulai diam, dia bahkan malas menjawab.
Si pria mencoba bertanya ulang.
"Kau tahu artinya? kau itu bodoh, ayahmu begitu sayang padamu, dia merasa bersalah telah menikahkan kau dengan pria itu. Jika kau mau jujur tentang perasaanmu, pasti hidupmu akan bebas."
Sang gadis tetap diam, dia tidak bisa melakukan apapun.
Hatinya sudah lelah membahas semua ini, apapun yang dikatakan oleh sang pria memang benar adanya.
Namun, dalam hatinya terdalam, dia sangat sedih.
Dia bertahan untuk siapa? bukannya untuk segera keluarga, tapi nyatanya sang ayah justru memikirkan kebahagiaannya.
Tes!
Air mata mengalir begitu saja, membuatnya merasa bahwa apa yang disampaikan oleh sang pria benar adanya.
Sang gadis tak berani menatap ponselnya lagi, sebab akan semakin jelas terlihat jika dia sedih.
"Nona, keluarkan saja. Ibuku pernah bilang jika seorang gadis menangis, pasti dia sudah lelah dan kekuatannya luntur."
"Cih, sok tahu."
"Loh, ibuku yang bilang, kenapa kau sewot."
"Hm, aku tak sewot, kau yang sok tahu, bisa saja kau mengarang cerita."
Sang pria menghentikan mobilnya, lalu segera menelpon seseorang.
"Halo ibu, jika seorang gadis menangis, kenapa ya Bu?"
"Heh, anak kurang ajar. Kapan kau pulang! kau harus menikah! kenapa kabur! kenapa cari uang terus! awas ya kalau ibu tahu kau masih jomblo! ibu akan bilang pada kolegamu itu untuk membawamu pulang!"
__ADS_1
"Astaga ibu, aku akan hanya bertanya, kenapa amarahmu selalu nomor satu? dengarkan dulu pertanyaan Jack."
"Malas, pulang atau ibu akan lapor polisi!"
"Ya, aku pulang, tapi jawab pertanyaanku."
"Apa? pertanyaan apa? dasar anak tidak waras, sudah kabur dari acara pernikahan, banyak bertanya lagi."
"Aku sedang bersama seorang gadis, ibu harus jadi manis. Dia takut jadi menantu kalau kau marah-marah."
"Apa? yang benar?"
"Mau bicara?"
"Iya, kau banyak bohong soalnya."
Sang pria meminta sang gadis membantunya, tapi Reniva tak mau.
Dia tidak ingin ikut dalam sandiwara sang pria.
"Mana calonmu?"
Suara sang ibu menggema, Jack memaksa sang gadis menjawab.
Ia menutup ponsel menggunakan telapak tangannya, lalu mulai membuat kesepakatan.
"Aku akan mengurangi durasi menganggu kau, jawab lah. Kau mohon."
Sang gadis mencoba memahami kondisi ini.
Dia langsung menjawab panggilan itu.
"Halo bibi, aku temannya Jack."
"Astaga, ini siapa ya? apakah suara bidadari?"
"Bukan, aku manusia."
"Ya, aku tahu kau manusia, bibi hanya memuji suaramu."
"Oh."
"Kapan kalian menikah?"
Sang gadis tak bisa menjawab.
Jack meminta Reniva langsung ke pokok permasalahannya.
"Maaf bibi, aku ingin tanya kenapa seorang gadis menangis?"
"Apa? dia telah membuatmu menangis. Astaga! pukul saja dia. Hancurkan saja kelapanya!"
Sang ibu marah-marah tidak jelas, tapi Reniva merasa aneh, dia nyaman dengan kondisi ini, dia merasa perasaannya sangat senang.
Feel so happy.
__ADS_1
"Aku baru merasakan keramaian ini, sebuah keramaian yang harusnya aku dapatkan dari semua anggota keluarga," batin sang gadis tersenyum.
*****