Terjerat Pesona Istri Orang

Terjerat Pesona Istri Orang
Sifat asli Jack


__ADS_3

Pukul 01.00 ...


Acara ulang tahun yang membosankan, sudah usai. Jack berada di depan rumah Reniva bersama dengan Ricky.


Sang tuan rumah berterima kasih atas kehadiran kolega, bahkan sudah bersedia menjadi anggota keluarga selain hubungan bisnis.


"Terima kasih tuan Jack, kau memang yang terbaik. Aku akan memberikan tiket berlibur, sebagai ucapan terima kasih," jelas Ricky.


"Wah, tuan Ricky terlalu berlebihan. Aku tidak bisa menerima semua ini, tuan. Justru aku yang harus memberikan hadiah itu padamu. Aku memiliki sebuah pemandian air panas. Kau ajalah istrimu ke sana. Pemandian air panas yang ada di jalan zxxzx. Itu adalah milikku, di sana juga ada sauna. Kau dan istrimu akan menjadi tamu VVIP kami."


"Aku tidak suka datang ke pemandian air panas, istriku tidak suka. Ehm, maaf tuan Jack, bisakah kau menginap di rumahku, aku ada acara lagi di luar," pinta Ricky.


"Baiklah tuan, aku tidak ada pekerjaan setelah ini. Ya, aku akan melakukannya," jawab Jack.


Anggota keluarga yang lain, tak tahu jika Ricky pergi karena sudah berada di kamar masing-masing, termasuk Reniva.


Dia hanya tahu, sang suami masih ada di rumah dan akan datang padanya.


...


Kamar Reniva ...


Sebuah kejutan malam yang indah, sudah dipersiapkan oleh Reniva, dia begitu jeli menyiapkannya, entah darimana ide itu muncul. Namun, Reniva ingin memberikan dirinya sebuah penghargaan, dia adalah seorang istri, tapi disentuh saja belum pernah. Ini sangat memalukan.


Reniva duduk di atas ranjang, sedangkan di sampingnya ada sebuah meja dengan wine serta lilin kecil, serta aroma terapi yang membuat harum suasana.


Lampu yang sengaja di matikan, membuat suasana menjadi lebih syahdu.


"Aku akan menunggunya, dia adalah suamiku."


Sang wanita sangat ingin tidur dengan suaminya, dia sangat cinta pada Ricky, meski sikap suaminya acuh tak acuh.


Namun ada hal yang dia lupa, Sunnam lebih dari segalanya bagi Ricky.


Ini membuatnya harus menegak beberapa gelas wine yang ada, dia tak terkendali lagi dan terus meminum wine itu.


Dia lupa jika segelas wine yang dicampur obat penambah hasrat, harusnya tidak ia minum, itu hanya untuk suaminya, tapi semuanya sudah terlanjur.


Reniva yang sudah terpengaruh oleh obat itu merasa panas.


Hingga seorang tiba-tiba mengetuk pintu.


Reniva terhuyung-huyung ke arah pintu, dia berjalan sambil memegang segelas wine.


Klek!


Pintu terbuka, dia meracau.


"Suamiku, silakan masuk," ucap sang wanita.


Orang yang mengetuk pintu itu, hanya diam, dia tak begitu terlihat dan di mata Reniva, orang yang masuk ke dalam kamar itu adalah suaminya.


Reniva mengunci kamar itu.


"Sayang, kenapa kau terlambat datang? apakah kau lupa? kau selalu berada di dalam pelukan Sunnam, apakah aku tidak ada kesempatan untuk itu? aku istri sahmu, aku bahkan mengemis saat ingin tidur denganmu. Ah, sudahlah! semua itu tidak penting, aku ingin kau ada di sini, kau harus menemaniku sampai pagi."


Orang yang berjenis kelamin pria itu, hanya diam, mengikuti apa yang disampaikan oleh istri yang kesepian itu.

__ADS_1


Dalam keadaan yang sangat kacau, sang gadis mulai melepas helai kainnya, tapi dicegah oleh pria tadi.


"Kita menikah dulu, baru melakukannya," ucap sang pria.


Suara pria yang ia kira adalah suaminya, begitu lembut, membuat seorang Reniva gelap mata.


Justru dia yang menginginkannya.


Reniva masih menganggap bahwa pria yang ada di depannya adalah Ricky.


"Aku bukan suamimu, aku Jack."


"Aku tidak percaya. Kau suamiku!"


Jack mencoba menghindar, beberapa saat kemudian, sang gadis lalu bersimpuh dan menangis.


"Kenapa, hiks."


"Kau harus tahu jika suamimu selingkuh, aku merasa kasihan denganmu."


"Jika dia selingkuh, aku juga mau selingkuh."


Dalam keadaan masih terpengaruh obat penuh hasrat, sang pria lalu menghidupkan lampu yang ada di ruangan itu.


Di sana terlihat jelas jika ada Jack, bukan Ricky.


"Kau pergilah!" Sang gadis lalu menenggak beberapa gelas anggur lagi.


Dia tidak bisa tidur dengan Jack, rasanya sangat tidak nyaman saat berada dalam situasi ini.


Namun, hasratnya sudah memuncak.


Jack tak ikut serta, dia hanya sendiri di kamar mandi.


"Cih, model seperti apa wanita itu? masih dalam kondisi mabuk juga masih angkuh. Padahal dia juga merasa bahwa menghibur diri itu penting. Aku tidak menduga dia melakukannya sendirian."


Beberapa menit berlalu, sang gadis tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuat Jack merasa cemas.


Dia menyusul sang gadis, saat membuka pintu kamar mandi, dia melihat sang gadis menangis.


"Kau? kenapa? ada apa?"


Gadis itu bersimpuh dan tidak melakukan apapun.


Dia hanya meratapi dirinya yang tidak bisa menjadi istri yang sempurna, meski hasrat sudah di ubun-ubun, nyatanya Reniva mampu menahannya.


"Aku sudah melakukannya lebih bertahun-tahun dan mampu menahannya, tapi kenapa hari ini aku harus terjebak bersama pria sialan itu!"


Jack mendekati sang gadis, lalu berkata.


"Ini adalah pertanda bagimu untuk tidak memberikan hal yang sangat berharga, Ricky tak pantas mendapatkannya."


"Kau tahu apa mengenai rumah tangga? kau tahu apa rasa sakit yang selama ini aku rasakan."


Sang gadis sangat terpukul, dia tidak mau lagi melakukan banyak hal.


Rasanya sangat lelah dan lemas.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian sang gadis justru tertidur.


Jack tersenyum.


Dia mengendong tubuh itu, kemudian merebahkannya di atas ranjang.


"Apa kau tahu Reniva, seharusnya aku bisa memilikimu, tapi aku tidak melakukannya, kau terlalu berharga bagiku."


Sang pria lalu menelpon salah satu pelayan untuk menggantikan baju Reniva.


Dia adalah satu-satunya pria yang tidak dicurigai di rumah itu, sebab selalu pandai melakukan penyamaran.


.


.


.


Pagi harinya ...


Pukul 08.00 ...


"Nyonya, selamat pagi?" ucap sang pelayan ketika Reniva membuka kedua matanya.


"Pelayan? sejak kapan kau ada di sini?"


"Sejak tadi malam."


"Oh, apa ada orang lain selain kau?"


"Tidak ada."


Sang gadis merasa ada hal yang lebih dewasa terjadi tadi malam, tapi dia lupa.


"Oh, oke. Kau boleh beristirahat."


"Ya nyonya, tapi tuan Jack ingin berbicara denganmu, apakah kau sudah baik-baik saja?"


Deg!


Mendengar nama itu, tiba-tiba Reniva terhenyak.


Dia merasa ada bagian dari mimpinya yang bertemu dengan Jack.


Rasanya malas dan malu, tapi dia juga ingin memastikan hal yang membuatnya ragu.


"Oke, berikan dia izin masuk."


"Baik nyonya."


Sang pelayan terlihat beranjak dari ruangan itu, lalu segera menuju pintu, setelah berada di depan pintu dia melihat ada Jack.


"Nyonya sudah siuman tuan, tuan Jack boleh masuk."


"Oke. Terima kasih nona pelayan."


"Ya, sama-sama."

__ADS_1


Jack masuk ke dalam kamar itu dengan senyuman, dia terlihat percaya diri.


*****


__ADS_2