
Kyoto, Japan
Di dinginya angin dari musim gugur menggoyahkan dedaunan kering dipinggir jalan dan menutupi aspal dengan banyaknya dedaunan, aku mungkin menjadi manusia paling bahagia di kehidupanku, karena aku akan bertemu dengan ibukku, ya aku belajar di tokyo selama 3 tahun menghabiskan sekolah menengah keatas disana sendirian hidup layaknya sebatang kara tapi, kini aku akan pulang dan menemui keluargaku aku sangat merindukan keluargaku. tapi semuanya tidak seperti yang kubayangkan
kematian ibukku karena sakit parah membuatku sedikit terguncang. hingga psikis ku dianggap tidak sehat oleh keluarga besarku, lalu hal yang paling kubenci ayahku justru menikah disaat ibuku dikremasi
"paman! ayahku dimana?" tanyaku kepada pamanku seraya sesegukan karena terlalu lama menangis
"ayahmu sedang menjalankan bisnisnya di indonesia sayang sebentar lagi mereka pulang!" jawab pamanku sembari menenangkan diriku
sejak saat itu ayahku tidak datang hingga upacara penyimpanan abu kremasi ibukku, ayahku benar-benar tidak peduli dengan kematian ibuku, tapi ada hal yang membuatku marah aku mendengar dari para pelayan dan pegawai ayahku, bahwa ayahku menikah dengan seorang wanita dari indonesia, bahkan hal gila lagi ayahku ingin menetap dan mengembangkan bisnis di indonesia
"kakek, apa ayah sudah menikah lagi?" tanyaku datar pada kakekku yang duduk di meja makan
"darimana kau tahu?!" jawab kakekku menatapku penuh tanya
__ADS_1
"kek aku..." kataku sedikit gugup dan mengingagkanku akan kematian ibukku bahkan suaminya sendiri tidak peduli membuat mataku sedikit panas
"zuya...tidak perlu terlalu banyak berpikir dan sedih berlarut-larut, belajarlah yang rajin dan kembalilah ke tokyo! kakek akan membawa ayahmu pulang tidak lama lagi" jawab kakekku seraya berdiri meninggalkanku sendirian di meja makan yang besar dan panjang disitu air mataku tak terbendung dan akhirnya kulepas semua benak yang kusimpan dalam hatiku.
....
1 Tahun kemudian
aku pulang ke kyoto dan memandangi ayahku di kursi kebanggaanya dengan cepat aku mendekati ayahku dan memberinya hormat
"hmm bagaimana sekolahmu?" tanya ayahku datar dan menatapku
"ayah aku senang sekolah di tokyo ayah jangan khawatirkan aku!" jawabku sembari memberikan senyuman bahagia
"oh! bagus kalau begitu istirahatlah, ayah sibuk! harus pergi sekarang!" jawab ayahku tergesa-gesa beranjak dari kursinya
__ADS_1
"ayah..." teriaku menghentikan ayahku yang hendak pergi
"ya, ada apa?!" tanya ayahku penasaran dan membalikan badan kearahku
"損失を感じませんか?"Sonshitsu o kanjimasen ka (apa ayah tidak kehilangan sesuatu) ujarku spontan menatap ayahku tajam
"何もない"Nanimonai ( tidak ada ) jawab ayahku datar dan hendak meneruskan langkahnya
"もちろん、父親が別の女性と結婚したのは、彼の妻が一人で病気で死んで死んでいたので、彼はほんの少しの悲しみでさえ気にしませんでした、もちろんパパは何も失いませんでした Mochiron, chichioya ga betsu no josei to kekkon shita no wa, kare no tsuma ga hitori de byōki de shinde shinde itanode, kare wa hon'nosukoshi no kanashimide sae ki ni shimasendeshita, mochiron papa wa nani mo ushinaimasendeshita (tentu saja tidak karena ayah sudah menikah dengan wanita lain saat istrinya sedirian melawan sekarat penyakitnya hingga mati ayah tidak peduli bahkan berduka sedikit pun, tentu saja ayah tidak kehilangan apapun)
PLAKK!!!
"DIAM!!!, TUTUP MULUTMU!!!" teriak ayahku bergegas pergi meninggalkaku yang masih meringis kesakitan karena tamparan ayahku
---------------------------------------------
__ADS_1