
Author POV.
Keesokan paginya, Jasmine bersiap berangkat. Dia menyiapkan dirinya terlebih dahulu. Menyiapkan uang untuk bensin dan makan siang.
"Yah sisa lima belas ribu hihi. Alhamdulillah. Besok aku puasa aja deh, karena sepuluh ribu bisa buat bensin dua hari" gumam jasmine menghibur diri.
Saat ingin membuka pintu, terdengar suara ketukan.
"Eh abah, kenapa bah?" Tanya Jasmine.
"Nak, abah hari ini ingin pergi dengan ummi. Nah abah ingin menitip minta dibelikan skrup untuk memperbaiki sesuatu. Apa kamu bisa setelah mengajar kamu pergi ke pasar?" Tanya abah.
"Bisa bah, tapi kenapa mesti di pasar?" Tanya Jasmine.
"Gapapa nak, biar kamu tidak terlalu jauh juga kan biar langsung pulang, ini uangnya. Jika ada kembalian, ambil saja. Buat ongkos bensin" kata Abah.
"Jangan bah, banyak sekali ini pasti kembaliannya" tolak Jasmine
"Gapapa, ayo nanti kamu kesiangan pergi" kata Abah.
"Yasudah, aku akan teraktir Lia makan di kantin hari ini, makasih abah, Assalamualaikum" kata Jasmine
"Waalaikumsalam" jawab abah.
'Abah tau kamu sedang butuh nak, tapi jika abah beri kamu pasti tidak akan mau' kata Abah dalam hati.
Jasmine pun pergi mengajar, saat siang hari ustadz Fattah dan Tasya mengajaknya makan siang tapi dia menolak karena dia puasa hari ini.
Mereka pun pergi tanpa Jasmine. Saat sedang makan, mereka melihat sosok Dary sedang makan dengan seorang perempuan. Sepertinya sangat akrab. Sampai sampai tidak jarang Dary tertangkap oleh penglihatan mereka tengah mengelus bahu perempuan tersebut.
__ADS_1
"Mas Harris menceraikan aku Mil, aku benar benar sendiri" ucap Afifah
"Kamu masih punya aku Fah, jangan seperti ini" kata Dary
"Kamu sudah beristri Mil, bagaimana dengannya, aku tidak ingin di cap orang sebagai perempuan yang tidak baik" ungkap Afifah.
"Dia tidak akan berani Fah" jawab Dary
"Kata siapa Mil, bagaimana dengan orangtuamu" kata Afifah
Saat mereka berbincang, tanpa mereka sadari Tasya berjalan mendekat. Fattah tidak bisa menahannya, ya dia sangat tau. Sang istri sangat menyayangi Jasmine, bukan tanpa alasan. Dulu saat di pondok, Tasya sempat jatuh, kepalanya terbentur dan kehabisan banyak darah. Jasmine yang memang sudah dekat dengan Tasya, mendonorkan darahnya untuk Tasya. Dari situ seperti ketergantungan mereka sama sama saling menjaga dan menyayangi satu sama lain.
"Bajing*n kalian. Apa salah sahabatku hah!!!" Kata Tasya.
"Ingat ya tuan Dary yang terhormat, kamu akan menyesali 100 kali lipat akan hal ini, aku yang pastikan Jasmine akan melepaskan kamu" sambungnya lagi.
"Syaaa, lebih baik kita pulang yaa" ajak Fattah.
Mereka hanya terdiam, habis sudah. Karena Tasya pasti akan memberi tahu Jasmine, sedangkan dia, Kemarin Jasmine ingin meminjam uang dia berkata tidak ada.
"Aku ga habis pikir, apa salah Jasmine dengan Dary itu, kenapa jadi harus berkhianat seperti ini" kata Tasya saat di mobil.
"Kita tanya Jasmine pelan pelan sya, kita tidak bisa langsung menanyakan hal ini, ini akan lebih menyakiti Jasmine" ucap Fattah.
Setelah sampai di pondok, Tasya langsung mencari Jasmine. Saat itu Jasmine sedang berada di panggung pensi. Tasya pun menarik tangan Jasmine, kejadian tersebut tak luput dari penglihatan Ustadz Fikri.
"Min, apa yang sedang kamu rasakan sekarang? Apa kamu baik baik saja hm?" Tanya Tasya
"Ada apa sya, kenapa seperti ini. Aku kaget" jawab Jasmine
__ADS_1
"Jangan menyembunyikan apapun lagi dariku min, bagaiman kehidupan pernikahanmu, kamu bahagia hm" tanya Tasya
"Aaaku bahagia kok sya kenapa hm" jawab Jasmine tergagap.
"Bohong sekali kamu sya, aku tau semuanya" ucap Tasya
Jasmine hanya tertunduk. Air matanya seakan ingin tumpah. Dia seakan tidak bisa berbohong dengan Tasya, mungkin orangtuanya bisa, dengan sandiwaranya yang seperti mereka baik baik saja. Namun Tasya? Dia seakan tau apa yang terjadi. Tasya hanya memeluk. Dia tau Jasmine akan selalu kuat, namun sekarang. Jasmine sangat rapuh. Bahunya terguncang.
Ustadz Fikri datang membawakan teh hangat. Ustadz Fattah hanya bisa diam. Ya dia tahu mereka berdua pasti akan sangat lama berpelukan. Setelah hampir 15 menit memeluk Jasmine. Pelukan mereka melonggar. Tasya memberikan kode kepada sang suami untuk membawa ustadz fikri keluar dari tempat mereka duduk.
"Sya, mas Dar membantu mantannya dulu. Katanya perempuan itu sedang sakit, dia korban kdrt oleh suaminya. Kemarin malam aku ingin meminjam uang karna sedari menikah aku tidak pernah diberikan nafkah. Dia juga belum menyentuhku. Sya, karna gajihan masih 2 hari lagi aku memutuskan puasa hari ini dan besok karna aku tidak punya uang lagi. Sya apa aku salah jika aku marah. Hatiku sakit sekali. Cinta yang ku simpan selama ini ternyata tidak cukup membuatnya juga mencintaiku" ucap Jasmine terus terang.
"Astaghfirullah min, ini kedzoliman. Lebih baik berpisah saja, aku tau kamu sangat kecewa namun hanya itu jalan satu satunya" jawab Tasya.
Jasmine menggeleng. Dia memikirkan orangtua dan mertuanya. Terlebih dia sangat mencintai suaminya. Dia bertahan karena dia merasa dia bisa membuat Dary juga mencintainya suatu saat.
"Sya, tolong jangan beritahu orangtuaku ya, aku akan menyelesaikan ini sendiri" kata Jasmine.
"Aku selalu tidak suka dengan jalan keluar yang kamu pikirkan Min, bagaimana kamu selalu harus seperti ini, memikirkan oranglain. Papah dan mamah tidak akan marah min, mereka pasti akan menerima keputusanmu" ucap Tasya.
"Sya, sekali saja. Setelah ini aku akan mendatangimu sebagai rumah tempatku pulang" jawab Jasmine sambil tersenyum.
"Ya karena aku tempat kamu pulang" ucap Tasya.
Diluar, Ustadz Fattah menceritakan semuanya. Sesekali juga terdengar cerita Jasmine dari dalam. Ustadz Fikri mengepalkan tangannya.
"Brengsek sekali laki laki itu" kata ustadz Fikri.
"Istighfar Fik, dia sudah bersuami, kamu boleh marah tapi jangan berlebih" terang ustadz Fattah.
__ADS_1
Setelah tenang, Tasya menyuruh Jasmine untuk berbuka saja. Karena memang Jasmine sangat pucat. Lalu Jasmine pamit ingin pulang karena sebentar lagi Ashar.
Segini dulu yaaa, bumil lagi ngumpulin mood hihi💖💖🥲