
Sepuluh Hari Sudah Kami di kampung kang ujang selama itu juga kami berusaha menghadapi setiap teror yang datang rasanya ingin sekali menyerah karena setiap hari teror yang kami terima makin para
bukan hanya keluarga ku dan bayu saja yang kena saat ini keluarga kang ujang pun kena dampaknya
istrinya yang dulu sehat kini tiba-tiba lumpu karena jatuh di kamar mandi akibat melihat sosok kunti sial itu
sebenarnya kami semua tidak mau lagi melibat kang ujang tapi beliau kekeh ingin membantu sehingga kami tetap berasa di sini
waktu kami semua untuk bebas dari teror ini hanya tersisa kurang lebih 50 hari lagi
"ya tuhan kenapa semuanya harus jadi seperti ini, aku mohon beritahu aku cara untuk menghentikan semua ini, aku capek di teror kayak gini terus,aku kasian sama mereka yang nggak bersalah jadi korbannya,tolong berikan aku petunjuk ajar semua ini bisa selesai tuhan"doaku sehabis sholat magrib
setelah sholat magrib aku langsung duduk di jendela kamar tanpa membukak mukenaku dan melihat keluar sambil berpikir untuk mengakhiri semua ini sementara yang lain sudah mulai makan malam
dari kejauhan aku melihat bola api yang terbang ke arah rumah kang ujang lama ke lamaan bola api itu makin besar
"apa lagi ini"gumamku
aku bergegas mengambil tasbih yang terletak di dekat kasur ku segera aku zikir dan berdoa meminta pertolongan kepadaNya
sementara di luar aku mendengar bunda ku berteriak-teriak memanggilku
"via via novia bukak pintunya"teriak bundaku
namun aku tetap berusaha fokus berzikir dan benar saja bola api yang aku lihat tepat berada di atas kepala ku
aku terus memohon perlindungan dari yang maha kuasa tak lama barang di kamar ku berterbangan dan bola api itu mengitari kamar ku dari sudut ke sudut
15 menit berlalu aku sudah merasa tidak ada lagi bola api itu di kamar ku dengan segera aku mengakhiri zikir dan doa ku
"bunda mohon via bukak pintunya jangan bikin bunda khawatir via"teriak bunda semakin histeris di depan pintu kamarku
aku dengan segera membuka pintu kamarku dan bunda langsung masuk dan memeluk ku
__ADS_1
"kamu nggak kenapa-napa kan via,nggak ada yang luka kan"tanya bunda sambil menangis
"via nggak papa ko bun, via baik-baik aja kok"kata ku berusaha menenangkan bunda ku
"kenapa kamar kamu bisa jadi seperti ini via"tanya bunda ku sambil melihat sekeliling
aku pun menceritakan semua kejadian yang aku alami Kepada semuanya yang ada di rumah itu
"sepertinya mereka sudah mulai serius"kata bang yogi
"maksud abang yogi? "tanya ku
"Saat ini mereka mengincar kamu via setelah itu mungkin bayu sebab kalian berdoa adalah tumbal yang akan mereka berikan kepada iblis sekutu mereka"jelas bang yogi
"jadi kami harus gimana bang"tanya ku lagi
"kita harus menghentikan semuanya sebelum terlambat via kemungkinan mereka tidak akan menunggu sampai 50 hari lagi"tambah bang yogi dengan wajah cemasnya
"di sana kita bakal di bantu oleh guru saya"tambah ustad hakim lagi
"baiklah ustad kami setuju"kata ku langsung keluar dari mulutku
"yang berangkat yogi, bayu, via dan saya yang lain tetap di sini"kata ustad hakim tegas
"baik ustad pak somat tolong jaga mereka semua sebelum saya pergi saya akan pagar dulu rumah ini agar kalian aman dari kiriman mereka"jelas ustad hakim
kakek somat langsung paham apa yang di katakan oleh ustad hakim
"saya akan mulai memagar rumah ini malam ini juga karena besok pagi siap subuh kami akan berangkat yogi dan pak somat tolang bantu saya"kata ustad hakim
mereka bertiga langsung memulai pekerjaan mereka sementara aku berkemas untuk perjalan besok pagi terlihat dari wajah bunda dan ayah aku enggan membiarkan aku pergi namun demi semuanya selesai aku harus pergi meski nanti yang pulang hanya raga ku saja
"bunda ayah tolong doain via"kata ku sambil memeluk mereka berdua
__ADS_1
"pasti sayang doa bunda sama ayah bakal selalu bersama langka kamu"jawab ayah sambil mengusap kepala ku
enta kenapa saat ini aku tidak ingin pergi meninggalkan kedua orang tua atau ini cuma. perasaan aku saja setelah selesai berkemas aku pun langsung di suruh tidur oleh bunda
setelah mereka berdua keluar aku berusaha memejamkan mata namun rasa kantuk pun tak kunjung datang tak lama aku mendengar seseorang memanggil ku dengan suara lembut dan aku kenal suara itu
"Novia ke sini,main bersama ku"kata suara itu dan aku pun melihat ke kiri dan kanan mencari sumber suara itu namun tak menemukannya
"novia ke sini main bersama ku"kata suara itu lagi kali ini aku melihat sosok perempuan yang seumuran dengan ku berdiri membelakangi ku
"si-sindi kamu sindi kan"kata ku terbata-bata sosok yang menyerupai sindi itu mendekat kepada ku sambil tersenyum
"kamu kok bisa sampai di sini"tanya ku namun tidak ada jawaban sama sekali darinya
tiba-tiba dia berjalan cepat dan segera mencekik ku
"kamu bakal mati tunggu saja via, hihihihihihihihihi"kata sosok sindi itu
"sa-lah a-ku a-pa sa-ma ka-mu"kata ku terputus-putus karena di kecik
"hihihihihihihihihihihihihihihihi"sosok sindi itu hanya tertawa dan hilang seketika aku terdiam sesaat sambil mengambil napas dalam-dalam
"tadi itu bukan mimpi dan kejadian barusan sangat nyata"gumam ku
"seprtinya ada yang tidak beres dengan sindi dan keluarganya tapi apa"gumam ku lagi dan kemudian aku teringat ucapan sindi tentang ayahnya yang perna masuk penjara dulu dan dia akan membalas orang yang sudah membuat ayahnya menderita
"apa jangan-jangan"teriak ku
kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?
tunggu aja kelanjutannya ya dan mulai dari sini cerita bakal penuh dengan hal-hal menyeramkan serta kekerasan
Makasih Udah Baca
__ADS_1