
Kubuka mataku, aku terbangun lagi untuk menjalani hidup di dunia bodoh ini. Kusibak lalu kulemparkan selimutku ke ujung ruangan dengan setengah sadar, dan perasaan campuran antara marah, sedih, dan muak.
Aku berjalan menuju kamar mandi di ujung kamarku, dengan cepat kubasuh wajahku dengan air sedingin es yang keluar dari wastafel. Kutanggalkan pakaianku, lalu membasuh diriku dibawah guyuran air dingin yang membuat udara sekitar menjadi sama dinginnya. Secepatnya kuselesaikan rutinitas pagiku, kuselesaikan dalam kurang dari 10 menit. Kuambil ponselku, kurapikan barang barangku dan kusiapkan semua keperluan sekolah hari ini sebelum melihat jam dinding yang tergantung diatas tempat tidurku. 3.30 pagi, aku mendengus, membuka lemariku sekali lagi dan mengambil handuk kecil dan baju ganti. Hari ini aku akan menginap, dan besok aku akan berkemah dengan kawan kawanku, di tasku yang kecil kumasukkan baju ganti tipis untuk menghemat waktu.
Kubuka pintu kamarku dengan perlahan, lalu sehening burung hantu di malam gelap aku mengendap endap menuju pintu balkon yang berada di sebelah kamarku. Kubuka kuncinya, lalu aku menyelinap keluar pagar pembatas, memanjat keatas atap rumah tetanggaku, dan berlari lari dan melompat lompat menyusuri setiap atap apartemen yang ada dengan senter kecil yang tergantung pada jaketku, seperti seekor kucing.
Di wilayah ini apartemen bertebaran di mana mana, yang membuat pijakanku menjadi semakin bebas. Aku menuju ke utara, melompati celah celah di antara rumah, berseluncur ria di atas atap yang licin dan berlari di setiap permukaan landai yang aku temui. Setelah melewati sekitar 20 atau 30 bangunan, aku tiba di tempat tujuanku.
Dengan cepat aku turun menyusuri tembok dengan berpegangan di setiap pegangan yang ada. Ketika sampai di atas tanah, aku berjalan dengan santai menyebrangi jalanan yang sepi kendaraan, menuju ke taman kecil dengan penerangan lampu kuning remang remang.
Aku membuka jaketku dan memasukkannya kedalam tas, dengan perlahan aku berjalan di lintasan lari yang mengelilingi taman sepanjang 2 km itu. Setelah beberapa meter aku melihat pria paruh baya dengan postur tegap dan badan besar seperti raksasa, seperti tentara yang bersiap siap membuka kiosnya, kupercepat langkahku untuk menghampirinya. Ketika ia melihatku, ia tersenyum, “Kau datang lagi! Sini tasmu!” dengan senyum lebar kuberikan tasku padanya, “sekarang larilah! Kalau sudah selesai ingat ambil lagi disini!” dengan penuh semangat dan senyum lebar ia berpesan padaku.
Aku hanya tersenyum dan melangkah ke lintasan lari yang temaram. Kumulai langkahku dengan perlahan, dan terus menerus dengan tempo tetap dan akhirnya tenggelam dalam pikiranku sendiri.
__ADS_1
Setelah 2 jam, rutinitas olahraga pagiku selesai. Dengan keringat bercucuran aku berjalan kembali ke kios pak tua tempatku menitipkan tasku. Sebelum sampai, sebuah handuk dilemparkan padaku dari kios pak tua itu, “kau bilas dulu badanmu di dalam! Sekolah mulai 30 menit lagi kan?!” tanpa menunjukkan batang hidungnya, suara pak tua bodoh itu menggelegar dengan penuh semangat memenuhi taman yang sepi ini.
Aku hanya tersenyum kecil, lalu dengan cepat membilas badanku di dalam kamar mandi kecil dalam kiosnya. Secepat kilat kupakai seragamku, lalu melapisinya dengan jaket bomber biru tua kesayanganku. Kuletakkan sedikit uang diatas meja sebelum aku keluar, lalu dengan cepat kulangkahkan kakiku keluar taman, dan memanjat pagar dan naik ke atap atap lagi. Dari atas sini bisa kudengar teriakan bahagia orang tua bodoh itu. Jujur saja, itu selalu menorehkan senyum kecil di wajahku. Lalu seiring naiknya matahari, aku berlompatan kembali diatas atap apartemen orang orang yang tak kukenal.
Setelah sekitar 10 menit berlompatan dan lari, aku hampir tiba di sekolahku, tak ada atap lagi untuk dijadikan pijakan, aku memanjat turun, dan membersihkan jaket milikku dari debu sebelum berjalan ke jalan raya menuju ke sekolahku.
Dengan hati hati aku menoleh sebelum menyebrang jalan menuju bundaran yang ada 100 meter di dekat sekolah terkutuk itu, rute biasaku setiap pagi setelah berlompatan dari atap ke atap. “Ah jalannya kosong.” pikirku, dengan santai aku berjalan menyebrang ke sisi lain jalan, hanya 5 menit dan aku akan sampai di kelas, bertemu para penyemangat hariku dan orang orang bodoh yang hanya mementingkan diri mereka sendiri.
Tepat ketika aku berjalan menyeberang, sebuah SUV menyerempet dengan kecepatan tinggi. Aku terkejut, dan secara refleks aku melindungi kepalaku dari benturan, aku terguling 3 meter dari tempat awalku, dengang mata berkunang kunang, aku melihat platnya, 1805, dengan rasa nyeri di sekujur tubuhku, aku berusaha bangun. Sedikit bagian hatiku mengharap pertanggungjawabannya, namun sebagian besar sudah dikuasai amarah yang membara. Kukira pengemudinya akan keluar membantuku, namun aku mendengar suara mesinnya berusaha dinyalakan, “ah, kau berusaha lari ya?!” pikirku, walaupun kakiku terluka lebar akibat ulahnya, dengan paksa aku berlari dengan kecepatan penuh hingga aku tiba di samping kursi pengemudi, aku menendangnya dengan semua tenagaku yang tersisa, menggunakan seluruh amarahku, membuat mataku lebih berkunang kunang lagi dari sebelumnya, sebuah suara keras diiringi suara mesin mobil memecah kesunyian pagi itu.
Ketika aku melewati gerbang, melalui sekumpulan anak anak yang mengecek kelengkapan sekolah, anak anak inilah yang biasanya aku benci, hanya menghalangi jalan. “Selamat pagi dik, boleh kakak lihat apa yang ada dibawah jaketmu?” katanya padaku, kakak ini hanya ingin melihat seragamku.
Kubuka ritsleting jaketku dengan cepat, menunjukkan bercak darah yang masih segar diatas baju gantiku, walau tak banyak, namun sungguh terlihat jelas diatas kain putih bodoh ini. Dengan tatapan ngeri ia menatapku, “kau mau ke sekolah atau perang?’ katanya mengkritik.
__ADS_1
Aku lepas kendali, kucengkeram kerah bajunya, dengan marah aku tatap wajahnya, seperti seekor binatang buas yang siap memangsa hewan tak berdaya, “aku baru saja ditabrak lari, aku lelah dengan logika bodohmu, dan daripada kau buka mulutmu, pikirkanlah dengan sel otakmu yang bodoh itu, apa yang harus dilakukan pertama pada korban kecelakaan, dasar otak amuba!” kataku ketus, ia panik, dan matanya memandang sekeliling, tanda ia sudah tak berdaya melawanku, ketika ia melihat kakiku yang mengucurkan darah, ia terbelalak, lalu pergi entah kemana, aku tak peduli.
Kulanjutkan langkahku menuju ruang kelasku, dengan semua tenaga yang tersisa aku buka pintu geser yang menyusahkan itu. Sekolah sebenarnya mulai pada 07.30, dan ini masih pukul 06.30, jadi biasanya hanya ada aku dan orang orang penjaga ketertiban bodoh itu. “Hey apa yang ada disini! Griesta!” aku menoleh ke ujung kelas, salah satu teman terbaikku, Daniel, sedang tiduran diatas dua buah meja yang dijadikan satu, kedua kakinya lurus dan badannya terlihat sangat santai. “Jangan banyak berbicara, ambilkan alkohol dan first aid kit lainnya.” Daniel meletakkan ponselnya, lalu melihatku dengan penasaran, kubuka jaketku seluruhnya,
Daniel melotot, lalu dengan cekatan ia membuka lemari di belakang kelas untuk mengambil first aid kit. Aku membuka baju gantiku lalu mengeluarkan seragamku dari tas. Di saat yang bersamaan Daniel sudah membuka botol alkohol untuk sterilisasi lukaku. “Tahan sedikit kawan, aku tahu kau punya kemampuan anti sakit apalah, tapi ini mengerikan”
Aku hanya tersenyum selagi Daniel mengobati luka luka di tubuhku, aku adalah Griesta Maya Locke, anak kedua dari orangtuaku, aku lahir dengan sedikit cacat di tubuhku, dimana aku kurang bisa merasakan rasa sakit, seperti congenital analgesia yang tak sempurna, dan juga regenerasiku 0.25 kali lebih cepat dari orang lain. Aku kehilangan ingatanku beberapa tahun lalu, yang mana membuatku sulit memiliki teman, karena aku dianggap sebagai anak aneh, dan tak mirip dengan mereka sama sekali.
Diantara orang orang itu, hanya segelintir yang menganggapku teman, Daniel adalah salah satunya. Kami telah berteman selama 7 tahun, yang mana membuatku sudah seperti keluarga baginya.
Ketika Daniel mengobati lukaku, rasa sakit yang sudah lama tak kurasakan itu mulai muncul, ku atur nafasku, menenangkan diriku sendiri, hingga ketukan di pintu memecah kesunyian lagi. 06.40, siapa yang datang pada waktu seperti ini? Pintu terbuka menunjukkan sosok orang yang memiliki postur mirip denganku, namun agak lebih berisi dan wajahnya cerah berbanding terbalik dengan tubuhnya yang berbentuk itu. “Hey Gree! Apa kabar?” sosok itu menyapaku dengan suara yang bersemangat, namun setelah ia melihatku yang terluka, tak memakai baju, dan tersenyum dengan lirih, dengan wajah tak percaya ia menghampiriku, “kau jatuh dari atap?” tanyanya sambil mengamati luka lukaku.
“Tadi ada mobil bodoh dengan pengendara bodohnya mengebut di jalanan sepi yang ternyata dilewati olehku.” kataku sambil membuka tasku untuk mengeluarkan makan siangku yang sudah disiapkan pak tua di taman, yah sekarang jadi sarapan, “kau tumben datang pagi Kris.” lanjutku sambil mengunyah roti isi selai nanas dingin yang manis manis asam.
__ADS_1
Kris tak menghiraukan pertanyaanku, ia membuka tasku dan mengambil seragamku, dengan cepat dirapikannya seragam putih itu, takut jari jarinya membuat seragamku kotor mungkin. Daniel sudah selesai membalut luka di tubuhku dengan kain kasa seadanya, Kris melemparkan seragamku dengan perlahan, mengikuti alur, aku memakai seragamku, menanggalkan celana lariku dan memakai celana khusus seragamku, yang untungnya merupakan celana panjang dan bisa menutup lukaku dan mencegahnya menarik perhatian.
Kuambil jaketku lalu duduk di pojok, tempatku bersama Kris dan Daniel, lalu duduk sambil memakai headset dan dengan kepala diatas meja, mencoba menenangkan diri dengan tidur ditemani lantunan lagu metallica membuatku semakin tenggelam dalam dunia mimpiku.