Thanatos : War Of The Fractions

Thanatos : War Of The Fractions
Delapan. Latih Tempur.


__ADS_3

Setelah beberapa menit terbang, kami tiba di tempat sampah, ada sebuah tanah kosong di tengah tengahnya, dikelilingi gunungan besi, hanya sedikit jalan masuk, cocok sekali untuk kami. Aku mendarat duluan, melipat sayapku, dan membayangkan energiku menyebar. 


Aku bisa mendeteksi hal hal yang ada di permukaan dengan ini, jadi kami akan aman dan tahu bila sebuah ancaman datang. Kris dan Danny turun, “kita harus mulai dari siapa?” Kris bertanya setelah turun dari punggung Danny. Danny kembali ke wujud manusianya, lalu menunjukku dengan senyum lebar.


    “Kalau tak salah kamu belum tahu batasanmu?” Danny memastikan, “apa kau merasa kehabisan tenaga mental sepertiku dan Kris?” pertanyaan yang bagus, namun sayang sekali, aku menggeleng, “aku hanya kehabisan sedikit energi, seperti saat orang berolahraga.” Danny manggut manggut, berupaya mengerti. Aku iseng membayangkan 3 bayangan yang mirip dengan kami bertiga untuk latih tanding. 


“Baik, muncullah kalian.” Kris dan Danny menatapku, “Kalian?” bayangan yang ada membentuk 3 figur, satu dengan tangan yang berupa pedang, satu dengan sayap, dan satunya lagi membawa bola api hitam.


    “Uhh, Gree?!” Danny terkejut, “ini boneka bayangan, ayo kita latih tanding!” sahutku meyakinkan. Ketiga bayangan itu menundukkan kepalanya, lalu bersiap. Danny mengubah tangannya menjadi besi, Kris menyiapkan sihir gabungan di belakang punggungnya, dan aku? Aku membuka sayapku, membayangkan dua buah tombak tajam di tanganku. 


“Yo!” Danny memberi aba aba menyerang. Kris menyerang bayangan yang membawa api dengan air, ia dengan mudah menghindar, aku segera terbang ke belakangnya dan menendangnya ke arah Dan, lalu dia memukulnya ke tanah dengan tangannya. 

__ADS_1


    Ketika kami sedang sibuk dengan salah satu, bayangan bersayap dengan cepat mendekatiku dari belakang, Kris membuat tembok tanah, lalu Dan menyerang tangan pedang. Dan mulai terpukul mundur, lalu aku melesat terbang rendah dan menusuk bayangan tangan pedang, dan bayangan sayap terkena semburan air berisi listrik dari Kris, “oh itu belum selesai!” katanya sambil merapal satu sihir lagi, lalu membakar bayangan sayap dan meledakkannya di udara. 


“Aku pernah baca trik itu di buku!” Kris berkata dengan semangat. “Kau menyeramkan Kris.” Danny menatapnya dengan pandangan takut. “Harusnya kau tak membuat ledakan sebesar i-” sesuatu terasa menusuk di belakang kepalaku, “ah, apa i-” sebelum tanganku sempat menyentuhnya, sengatan listrik yang membakar terasa di leherku, aku jatuh ke tanah. 


    “Gre- AAARGH!!!” teriakan Kris disusul oleh Danny terdengar menyakitkan untuk telingaku. “Aku belum mati!” tekadku, kucoba menggerakkan badanku, aku tak terlalu merasakan sakitnya, namun aku tetap tak bisa bergerak. Pandanganku tertuju pada Danny dan Kris yang sudah tergeletak tak berdaya. Dari balik gunungan sampah muncul figur seorang manusia, “oh ayolah!” dari siluetnya aku sudah tahu siapa dia, orang yang kekuatannya melebihi manusia biasa, si gadis perak. 


    Ia mendekati kawan kawanku, terlihat jelas ia berusaha meyeret mereka, “sial!!” aku berteriak dalam hati. Tiba tiba sesuatu terlintas di pikiranku, aku berteriak, sekuat tenaga, hingga pita suaraku rasanya hampir putus. Ia mengalihkan pandangannya kepadaku, namun terlambat, rencanaku sudah berjalan. 


Bayangan menyelimuti tubuhku, menjadi lebih gelap dan gelap, dan akhirnya menjadi sesuatu yang mirip dengan baju pelindung. Sekujur tubuhku terselimuti bayangan berwujud api hitam dengan pola putih di dadaku. Aku mungkin tak bisa bergerak, tapi aku bisa mengendalikan apapun yang aku ciptakan, ia menatapku lalu berlari mendekatiku, dari kantong celana jeans nya ia menarik sesuatu yang kecil, yang lalu berubah menjadi sebuah pedang besar. 


Aku berbalik, lalu memandangnya, kubayangkan sebuah bola perangkap untuk menangkapnya, kubuka mataku, “Menyerahlah!” teriakku, dengan cepat bayangan di sekitarnya berubah menjadi sebuah bola bayangan besar transparan yang memerangkapnya, “sayapmu ada apinya, itu akan membakar oksigen disana,” aku menebak, “kau akan kehabisan nafas jika menyalakan alatmu disana.” 

__ADS_1


    Ia menatapku dengan tatapan benci, lalu berusaha menyerang pelindungku dengan semua yang dia punya, kulihat dia mengeluarkan segala macam senjata, ada banyak pistol, dan pedangnya juga tak bisa menembus pelindungku. Mempertahankan pelindung itu hanya menghabiskan sejumlah stamina, setara dengan lari beberapa kilometer, itu sudah disebabkan oleh dia menyerang pelindungku, kalau aku tak biasa berolahraga, mungkin saja aku sudah jatuh sekarang. Ia akhirnya menarik sesuatu dari celananya, bukan berubah menjadi pistol, itu berubah menjadi sebuah bom yang ukurannya sebesar bola sepak. 


    “Hoi!” teriakku, ia kelihatan sudah kehabisan oksigen dan pingsan dalam bola bayanganku, tanpa berpikir aku menghilangkan bola bayangan, menyambar dia yang terjatuh tak sadarkan diri, lalu membuat berlapis lapis bola diluar bom itu. “Ah, sial, energiku bisa habis.” aku melayang, mengamati bola itu menjauh, lalu meledak. 


Ledakannya sebesar kembang api, dan semua bola bayanganku hancur, semua energiku terkuras, kuhilangkan sayapku dan terjun bebas dari ketinggian ratusan meter dengan seorang gadis di tanganku. Ketika sudah beberapa puluh meter dari permukaan, kubentangkan kembali sayapku, aku sudah tak bisa terbang, namun aku masih bisa memperlambat jatuhnya. Sekitar 5 meter dari tanah, tenagaku benar benar habis, seperti melakukan set olahragaku berjam jam lamanya. Sayapku menghilang, armorku juga, sekarang aku tak lebih dari seorang anak yang terjatuh dari ketinggian 5 meter.


Semakin dekat dengan tanah semakin erat pula dekapanku, walau ia menyerang teman temanku, tak pantas bila aku membiarkannya mati. Suara punggungku yang menghantam tanah terdengar keras, aku mulai merasakan sedikit rasa sakit. Kulonggarkan  dekapanku, wajah polos namun tajam itu terlihat sungguh kelelahan, kulepaskan tanganku dari tubuhnya lalu berdiri untuk memastikan keadaan teman temanku. Aku berbalik menuju kawan kawanku hanya untuk melihat sebuah ujung senjata api ditodongkan tepat ke kepalaku. 


"Kau yang di taman?!" Aku membuka mataku lebih lebar, "ah, kau yang membunuh kakek tua." Aku menyindirnya dengan senyum di wajahku, lalu semuanya terlihat semakin gelap, satu saja serangan terakhir, bayangan di bawah tubuhku naik dan menjadi tajam, menusuk pembunuh di depan mataku ini tepat di jantungnya. "Heh, selesai." Aku berbisik dengan senyum kecil terukir di wajahku, lalu dengan tenang, aku pingsan. 


Dalam tidurku, aku mendengar suara lonceng, suara orang orang berbisik, lalu, "bau rokok?" Aku membuka mataku perlahan, posisiku sedang terduduk, tanganku terborgol diatas meja, aku sendiri dalam ruangan dengan cermin besar di depanku. "Sungguh bisa ditebak." pikirku. 

__ADS_1


Seorang wanita yang kelihatannya berumur 25 tahunan dengan rambut putih dan kulit kecokelatan melangkah masuk, pakaiannya mirip dengan First Lieutenant Miller, namun lebih banyak medali yang terpasang pada pakaiannya, posturnya tinggi dengan kaki yang ramping namun berotot, dari cara berjalannya, ia sepertinya seorang yang berbahaya. "Siapa kau?" Aku tersentak, terbangun dari lamunanku, nadanya sangat tegas, rasanya seperti berhadapan dengan seekor singa betina. "Dimana kawan kawanku?!" Aku bertanya padanya, "aku bahkan tak tahu apa urusan kalian dengan kami, ********!" Ia menatapku dengan tajam, lalu melangkah perlahan dan memegang pipiku. 


"Apa kemampuanmu?" Ia bertanya, 


__ADS_2