
Aku bersyukur memiliki mereka sebagai keluarga keduaku. Setelah perjalanan 5 menit melalui banyak atap apartemen, aku tiba di taman. Instingku berkata ada yang janggal, tatapan mataku menyapu seluruh sudut taman yang tampak dibawah lampu.
“Ah ada mobil disana” warnanya tersamarkan oleh terangnya lampu depan dan gelapnya malam. Dengan perlahan aku turun, mungkin pak tua membawa beberapa barang penting sehingga harus menggunakan mobil. Dengan segera aku mengunjungi kios pak tua dengan senyum di wajahku, namun ketika tiba, aku tak pernah menyangka senyumku akan berubah menjadi suatu perasaan kosong.
Seorang dalam setelan hitam berdiri di bawah sorotan lampu taman, dengan sebuah gundukan di kakinya. “Jangan kemari bocah kecil!” suara pak tua terdengar lirih, hingga akhirnya nafasnya tak terdengar lagi. Dengan kakinya, ia menginjak mayat seseorang yang sudah kuanggap keluargaku.
“Ahh, halo nak, aku First Lieutenant Miller dari Special Corps Of Peculiar Enigma, apa yang adik kecil sepertimu lakukan disini??” tanyanya dengan suara yang berat, mencoba menyembunyikan tangannya di balik badannya. “Ah aku tersesat, apakah komandan bisa bantu?” tanyaku, berusaha sebisa mungkin menyembunyikan amarahku dengan berpura pura bodoh.
“Ahh begitu, mari aku antar keluar.” katanya sambil berbalik, aku sudah tak bisa menahannya lagi, ketika ia berbalik, dengan cepat kutendang persendiannya, membuatnya menjatuhkan pisau yang disembunyikannya dengan wajah terkejut.
__ADS_1
Seekor singa tak akan menunggu buruannya siap. Kusambar pisaunya dan kusabet punggungnya yang terbuka lebar. Bajunya terbuka lebar karena potonganku, dan ia sudah siap bertarung walau masih kebingungan.
Sebelum ia benar benar siap kulempar pisauku ke wajahnya, dengan cepat ia menghindar sambil melihat pisau yang melewati wajah brengseknya itu, namun maaf saja, kelas beladiriku sebagian besar tidak menggunakan senjata. Kutendang perutnya dengan sekuat tenaga, saat ia menunduk memegangi perutnya aku berlari, kupegang kepalanya dan kuhantamkan tempurung lututku ke wajah brengseknya.
Tiba tiba sebuah hantaman datang dari arah kiriku. “SIALAN!!” teriakku ketika aku terpental jauh dari orang brengsek itu. “Meminta izin pemusnahan.” sebuah suara, lembut dan indah, namun tak memiliki bumbu perasaan didalamnya, muncul, disertai seorang gadis berambut putih perak. Ah, mereka. “Nak! Siapa namamu?!” komandan palsu itu bertanya sambil memegangi wajahnya, “dan kau itu apa?!” aku tak mengerti pertanyaannya, namun seperti disihir aku mengatakannya, “Aku Locke! Griesta M. Locke!” teriakku. Dan aku melihat wajahnya yang tertegun seakan melihat hantu, sebelum aku merasakan hantaman lain di kepalaku dan semua menjadi gelap.
Aku terbangun oleh suatu suara, kubuka mataku perlahan, sadarnya diriku disambut oleh pemandangan langit hitam berawan. Tersentak, aku menggeledah diriku sendiri, semua barang yang aku bawa dalam jaketku masih ada, dan rasa sakit hantaman gadis aneh itu juga masih ada.
Aku cek jam di kantong dalam jaketku, sudah 1 jam aku pingsan. Kulihat tempat aku bertemu komandan palsu itu, tak ada lagi gundukan, tak ada lagi pak tua bodoh yang menjadi keluargaku. Kulemparkan jaketku keatas kiosnya yang masih berdiri di bawah rindangnya pohon, dan aku mulai berlari.
__ADS_1
Berlari tanpa henti, sekitar 10 menit, hujan mulai mengguyur, semakin deras dan deras, hingga akhirnya setelah putaran yang tak terhitung aku berhenti. Aku berjalan ke kios pak tua, menyandarkan punggungku ke tembok seng kiosnya, dan menangis sejadi jadinya tanpa suara.
Aku berjalan menuju rumah Daniel, tidak ada lompatan, tidak ada ketegangan, hanya berjalan. Aku tiba setelah setengah jam berjalan, langit sudah merah merona, jalanan mulai sibuk, dan aku tiba di tempat Daniel dengan perasaan hampa. Tapi aku harus bergerak maju, akan kulupakan tentang ini agar kawan kawanku tak khawatir.
Ibu Dan menyambutku dengan hangat, “kau terlambat, ayo sarapan.” katanya dengan senyum yang cerah sambil mengambil handuk dan melemparkannya padaku. Aku hanya mengangguk dan berjalan sembari mengeringkan tubuhku. Dengan tatapan kosong aku berjalan menuju kamar mandi, “G, kau sudah sarapan?” Kris menyapa sambil menepuk pundakku, aku hanya tersenyum dan menggeleng, melanjutkan kegiatanku hingga selesai tanpa suara.
Setelah sarapan dan semua peralatan disiapkan, Daniel memesan taksi, aku dan Kris menunggu di luar gerbang, sedangkan Danny masih mendapat ciuman dan pelukan perpisahan dari ibunya. Tak sampai 10 menit taksi tiba di tempat kami, menuju Gunung Clarke untuk menjernihkan pikiran.
Dalam perjalanan, Kris dan Danny tak berhenti menanyakan apa yang terjadi pagi tadi, dan aku membalasnya lewat sms untuk menjaga privasi. Kuceritakan segala yang terjadi pada kedua kawan baikku, wajah mereka perlahan lahan berubah menjadi lebih suram, namun aku tak mau merusak acara kami. Kutepuk punggung mereka dan menunjukkan senyum di wajahku, setelah beberapa topik aku akhirnya tertidur, “bangunkan aku nanti ya.”
__ADS_1