
“Griesta, anakku, maafkan ibu.” wajah ibu yang bersedih, dengan cepat berganti menjadi wajah yang berlumuran darah, pemandangan di sekitarku berubah menjadi merah, badanku tak bisa digerakkan, suaraku tercekat, aku meronta ronta, berusaha menyelamatkan ibuku. “Sialan! Ibu! Kembali!” pikirku. Lalu sesosok wanita berambut merah panjang, dengan baju biru yang mencolok mendekati ibuku dari belakang, tangannya menyentuh leher ibu, dengan pisau di genggamannya, seringainya membuatku merinding, lalu secepat kilat aku melihat kepala ibuku tergeletak di hadapanku, dan sebuah suara tawa pria terdengar menggema.
“BAJINGAN!!!!”
Aku terbangun dari mimpi burukku, punggungku rasanya panas, seolah terbakar. Aku bangun, hari ini harusnya masih liburan. Kulihat jamku, 2.30 pagi, aku ingin olahraga ke taman. Kubuka lemariku, lalu memasukkan beberapa baju ganti ke dalam tasku, semua yang aku perlukan sudah ada di tas, jadi aku hanya perlu sepatu dan jaketku.
“Ah, aku kan tidur dengan jaket.” pikirku, lalu aku berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Ketika aku melewati cermin di wastafel, mataku hampir melompat keluar, aku berusaha mencubit diriku sendiri, lalu kutampar pipiku. Aku punya sayap. Aku, seorang manusia, memiliki sayap di punggungku.
Aku segera mengganti celanaku, lalu mengenakan sepatuku, dan pergi ke balkon. Angin sepoi sepoi dan hawa sedingin es mengawali pagiku, sayapku berwarna hitam, seperti jaketku, jadi aku berniat menggunakannya untuk terbang. Aku tahu itu tak sepenuhnya mungkin, tapi menurutku tak sepenuhnya mustahil, maksudku, ayolah.
“Aku melawan werewolf, bertemu dewa, dan aku tak bisa terbang dengan sayap pemberiannya? Jangan bercanda.” aku merasakan sensasi aneh dari punggungku, seolah aku memiliki tangan. Kucoba membentangkannya, itu jadi lebih besar, dengan begini kemungkinan aku terbang lebih besar. Aku melipatnya lagi, lalu melompat lompat ke atap rumah dan apartemen lain, sayapku tak terasa berat, hanya terasa seperti membawa tas sekolahku. Ketika aku sampai di bangunan tertinggi yang aku bisa temukan, aku berdiri di pinggirnya.
Aku melompat, sesaat setelah aku jatuh aku membuka kembali sayapku, aku tertarik ke atas, lalu kucoba kepakkan, aku terbang! Aku mencoba membiasakan diri sejenak, setelah mungkin 5 menit aku sudah mulai bisa terbang ke segala arah. Aku ambil tasku yang kugeletakkan, lalu aku coba terbang ke taman. Jujur, ini menyenangkan, mengetahui aku bisa bepergian kemanapun aku mau ketika bulan muncul dari persembunyiannya, dan para manusia kelelahan. “Aku akui Gaia, ini adalah berkah yang bagus!” kataku sembari melesat di langit malam. Tak sampai 1 menit aku sudah tiba di taman, aku putuskan untuk melihat apa berkah yang diberikan Gaia ini hanya sebuah sayap, ataukah ada yang lain. Dengan perlahan aku mendarat di tengah taman, kubayangkan sayapku terlipat dan menjadi satu dengan jaketku, lalu benar saja, sayapku hilang.
Kulepaskan jaketku lalu pergi ke kios pak tua, kiosnya masih ada, namun sudah kosong, seolah tak pernah ada orang disana. Kulemparkan tasku ke atas atapnya, lalu kulakukan rutinitasku, push up, lari, sit up, pull up, dan beberapa lainnya.
Aku kembali ke kios setelah selesai melakukan set ku, lalu mengambil tasku. Setidaknya ini baru jam 4 pagi, “ah aku harap ada lawan tanding disini.” kataku sembari menghembuskan nafas, aku membayangkan berkelahi bayangan, pasti seru.
Tiba tiba bayangan di depanku menjadi lebih hitam, semakin hitam dan naik menjadi sebuah figur manusia, yang tak bisa kupercaya, mirip denganku. “Apalagi ini.” aku berdiri, figur itu mendekatiku, aku sudah siap bertarung, namun ia menunduk hormat, lalu membuka kuda kudanya, “ah, ini yang kubayangkan tadi.” aku pun menyiapkan diriku, lalu ia menyerangku dengan tendangan, aku berhasil menghindar, ia tak banyak memiliki celah. Tapi ia bukanlah aku.
Aku mengambil ancang ancang, ketika ia menendang aku masuk lebih dalam ke jarak serangannya, semakin dekat aku semakin sedikit rasa sakitnya. Kupukul dia di perutnya, “Sial! Seperti memukul batu!” ia mundur, lalu menggunakan tangannya untuk memukulku di perut juga, sebelum sampai kutepis tangannya, lalu kuputar tubuhku dan kutendang kepalanya, “Sampai kapan kau bisa bertahan?”
__ADS_1
Ketika ia mundur, kakiku menyambar perutnya, ia terdorong ke belakang, lalu aku berlari dan melompat, sebelum ia bisa berdiri dengan benar kugenggam kepalanya, lalu kuhantamkan ke tempurung lututku. Ia lalu terdiam dan menghilang. Sungguh menyenangkan memiliki teman bertarung, aku akhirnya menyadari berkah sebenarnya dari Gaia, aku bisa menciptakan apapun dari pikiranku.
Dengan senyum di wajahku aku mengganti bajuku, lalu kukemas semuanya dan aku menumbuhkan sayapku lagi, “kemana kira kira aku harus pergi sebelum aku ke rumah Danny ya?”
Langit sudah mulai biru, aku segera melesat ke rumah Danny, membayangkan apa yang didapatnya dari dewi yang memanggilku anak bodoh itu. Sesuatu tak dapat kusingkirkan dari pikiranku, jika kami bisa mendapat ini dari Gaia, berarti Aku mendarat dengan perlahan di atap apartemen dekat rumah Danny, aku tak mau ambil resiko kemampuan ini diketahui oleh orang lain, “bisa bisa aku berakhir di meja percobaan.” aku sembunyikan sayapku lalu turun ke tanah dan berjalan dengan santai ke rumah Danny.
Ketika aku tiba di gerbang setelah menyebrang jalan, ibu Danny terlihat tergesa gesa keluar rumah, “Ah! Gree!” sapanya sambil menutup gerbangnnya, “masuk saja, hari ini semua orang dewasa dikumpulkan di balai kota, jadi mungkin Kris juga akan kemari nanti.” ia lalu menepuk kepalaku dan pergi terburu buru ke balai kota. Yang mengurus Danny selama ini adalah ibunya, ayahnya bekerja dengan ayahku, begitu juga orang tua Kris, jadi ayah Danny sudah lama tak terlihat, namun tak selama orangtuaku.
Aku membuka gerbang, dan melangkahkan kakiku dengan perlahan, “aku tak mau membangunkan orang bodoh itu.” kututup gerbang dan aku masuk ke ruang tamunya. Setelah menutup pintu ruang tamu, sebuah teriakan keras terdengar dari kamar Danny, aku waspada, dengan cepat aku berlari dan kubuka pintu kamarnya.
“Kau kenapa?!” aku tertegun melihat pemandangan aneh di depanku. Ada seorang manusia besi di kamarnya. Ia berjalan mendekatiku dengan kedua tangannya terangkat, seperti ingin mencekik leherku. “Bajingan! Mana Danny?!” aku bayangkan sebuah pedang di tanganku, “ayo bekerjalah!” sebuah pedang hitam muncul dari bayangan tanganku, segera kugenggam dan kutepis tangannya, ini ringan dan keras! Ketika ia panik melihat apa yang kulakukan, kutendang dia hingga jatuh, kuhunuskan pedang ke lehernya, “Mana kawanku Danny?!”
“Baik, tunggu.” Danny terlihat menutup matanya, dan sedikit demi sedikit tubuhnya kembali seperti sebelumnya. Aku mengeluarkan catatanku, “Danny, shapeshifter.” tulisku pada catatanku. “Kalau kau apa G?” Danny bertanya dengan wajah penasaran, “pemanggilan benda kah?” aku menggeleng, wajahnya kulihat semakin penasaran.
“Pembentukan bayangan?”
“Kurang tepat.”
“Ilmu pedang?”
“Bukan.”
__ADS_1
“Lalu?”
Aku menatap Danny, “penciptaan benda, Gaia terlalu baik dalam memberi berkah.” kataku, “aku sedang mencari batasannya, mau kau bantu aku?” Danny mengangguk saja tanda setuju, kami lalu berjalan ke dapur untuk sarapan, Danny tak bisa masak, jadi aku menyalakan kompor, memecah telur, memasak apapun yang tersedia dalam kulkas.
Setelah 5 menit berkutat dengan kompor, aku menghidangkan makanan buatanku pada Danny, “Hanya masakan seadanya, jangan mengeluh.” Danny melongo, “aku tak akan mengeluh kalau sarapanku tiap hari seperti ini.” katanya sembari memotong dan mengunyah makanan yang aku buat, wajahnya saat makan itu menjijikan, aku tersenyum kecil dan merapikan dapur untuk ibunya Dan. “hey Gree,” aku menoleh, “Kenapa?”
“Apa nama masakan ini?”
“Hah?”
“Ayolah.”
“Gyudon sunny side up.”
“Setelah makan ayo latih berkahmu, aku ingin mengunjungi Kris.” kataku pada Danny yang baru saja menyelesaikan makanannya. Ia hanya mengangguk, lalu kami berjalan menuju kamarnya, kututup jendela, pintu, tirai, semua yang memungkinkan orang melihat kedalam, untuk jaga jaga. Kuhidupkan lampu, lalu menyuruh Danny berdiri di tengah ruangan. “Coba kau bayangkan tanganmu berubah menjadi sesuatu, palu mungkin?” aku berjalan dan duduk diatas tempat tidurnya.
Danny terlihat berpikir keras, lalu wajah seriusnya berubah menjadi senyum nakal padaku. Seketika dari tubuh Danny tumbuh bulu bulu, ia menggulung badannya seperti janin, sebuah cahaya menyilaukan muncul, membutakan, dan aku tak bisa percaya dengan mataku sendiri. Danny berubah menjadi burung, dengan bulu hitam dan kuning, penampakannya seperti elang seukuran manusia dewasa. “Heh, hanya begitu?” aku membuka pintu dan berjalan keluar menuju halaman diikuti Danny burung di belakangku.
Kubentangkan sayap hitamku, “Ayo kita kunjungi Kris.”
__ADS_1