Thanatos : War Of The Fractions

Thanatos : War Of The Fractions
Empat. Berkemah.


__ADS_3

“Hoi Gree! Bangun kawan, kita sampai.” suara Kris membangunkanku dari mimpi burukku, sebisa mungkin kubuka mataku, berusaha membedakan mana mimpi dan kenyataan.


“Ayo, sisa 1 kilometer lagi!” Kris menyodorkan tasku, aku sudah sadar sepenuhnya setelah 5 detik, kusambar tasku lalu menepuk punggungnya tanda aku sudah sadar. Kulihat Danny sedang memotret beberapa burung yang berdiam di tanah untuk mencari makan.


Lalu kami berjalan ke arah utara, dimana lokasi kemah kami akan dibangun. Kami berencana membangun tenda di wilayah lembah di balik gunung, wilayahnya belum biasa digunakan, dan citra satelit menunjukkan bahwa berkemah di wilayah itu memungkinkan. Selama perjalanan aku berusaha melupakan hal yang telah terjadi dengan membuka pembicaraan dengan Kris dan Dan, dan mereka sepertinya paham akan situasinya, yang mana membuatku lebih tenang. 


    “Di sini?” setelah beberapa menit berjalan kami tiba di dekat sebuah sungai kecil, alirannya deras dan airnya jernih, kulihat beberapa ikan sedang berenang dengan lincah, sumber makanan dan air sudah ada, tanah di sekitarnya juga datar, dan suara riak air memberikan ketenangan tersendiri.


Ini adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kulirik kedua kawanku, mereka mengangguk tanda setuju. Aku hanya tersenyum, “aku akan mendirikan tendanya, kalian bersenang senang, cari makan, kayu bakar, atau lakukan apapun yang ingin kalian lakukan.” Kris dan Danny tersenyum, “bagaimana kalau kita tukar saja, kau saja yang jalan jalan.” Kris menarikku lalu mengambil alih tenda yang belum jadi. Aku hanya menurut dan berjalan menuju hutan untuk mencari kayu bakar. 


    Ketika aku berjalan, samar samar kudengar suara seekor kucing, mungkin saja masih bayi. Dengan perlahan aku mengikuti arah suaranya, mataku menyisir setiap sudut yang aku temui. Pasti ada yang meninggalkannya di tengah hutan, tak mungkin ada suara kucing rumahan di dalam hutan yang jauh dari kota.


Setelah beberapa menit aku mencari, melewati beberapa semak dan pohon, aku menemukan kucing kecil sedang mengeong di balik sebuah batu. Ukurannya bahkan lebih kecil dari tanganku, dengan tubuhnya yang berukuran kecil itu, aku khawatir ia akan menjadi makanan gratis bagi penghuni hutan lainnya. Kugendong dia dan kumasukkan dalam saku jaketku, kepalanya menyembul keluar mencari udara, untuk ukuran kucing yang baru lahir dia sangat jinak, bahkan tak mengeluarkan cakarnya padaku sama sekali.


    Setelah mengumpulkan beberapa ranting dan kayu bakar aku berjalan melalui jalanku tadi kembali ke dekat sungai, dan tak diduga ada sebuah tenda yang bagus berdiri di depan mataku. “Akhirnya kau kembali,” Danny menyambutku, “Kris sudah menangkap beberapa ikan, ayo kita masak!” katanya sembari merebut kayu bakar dari genggamanku.


Aku hanya mengikutinya sembari mengelus kucing kecil yang sedang menikmati indah dunia ini. Di dekat sungai Kris terlihat sedang membawa 3 ekor ikan, aku tak tahu bagaimana caranya menangkap 3 ekor ikan itu tanpa adanya peralatan memancing, namun sepertinya perutku sudah tak peduli, aku hanya mengikutinya menuju Danny yang sedang mencoba menyalakan api. Berkali kali Danny mencoba menyalakan api, namun gagal. “Kris kau saja yang nyalakan.” kataku, Danny mengangguk dan tertawa kecil lalu duduk di sebelahku, “ah, siapa sobat mungil ini?” katanya sambil mencoba mengelus kucing kecil dalam kantungku, “kau sudah ada nama untuknya?” 

__ADS_1


Aku menatap Danny, “Lily.” sahutku, “Lily itu nama yang bagus.” danny hanya melebarkan senyumnya sembari terus mengelus Lily. api sudah dinyalakan, ikan ikan sedang dibakar, kami bertiga berkumpul, melepaskan penat dengan tidur diatas rumput yang nyaman, dengan Lily bermain main di dadaku, dan aroma ikan bakar yang halus, membuat pikiranku menjadi lebih tenang.


Tak lama setelah pikiranku menjadi jernih kembali, Kris menyodorkan ikan bakar yang dibuatnya, kupotong sedikit untuk Lily dan makan sembari menikmati mentari tenggelam di langit ungu yang indah.


    Sesudah makan, kami menyalakan api unggun di dekat tenda. Udara yang dingin membuat suasana malam terasa sedikit mencekam, namun jika kupikir lagi, mencekamnya malam ini tak sebanding dengan kesenangan yang kudapat bersama kedua teman bodohku.


Aku duduk diatas rumput, memandangi Kris dan Danny berjalan memasuki tenda dengan mengantuk, “Kau jaga pertama ya, nanti bangunkan aku!” Kris menepuk punggungku dengan senyum di wajahnya. Aku hanya mengangguk, mataku tertuju pada jaket baruku yang tergeletak di tanah menyelimuti Lily yang sedang berkelana ke alam mimpi.


Bulan yang benderang menyinari tempatku duduk, bulannya sedang dalam masa purnama, mengingatkanku akan cerita cerita manusia serigala yang biasa diceritakan saat berkemah, yang mana aku tak pernah mendengar secara langsung dan jelas. 


    Lamunanku terhenti ketika mendengar gemerisik semak yang agak jauh dari tenda, perlahan kuangkat Lily dan kukenakan jaketku, lalu kumasukkan kucing kecil itu kedalam kantungku, sepertinya ia tidur sangat nyenyak dan tak menyadari apa yang kulakukan.  Beberapa saat kemudian terdengar suara cipratan air sungai, kira kira dari jarak yang sama dengan semak tadi, yang lalu disusul oleh 3 suara gemerisik lagi.


Aku tak tahu apakah itu karena perasaan waspada atau panik, suara mereka terdengar semakin dekat, segera aku buka tenda dan membangunkan Kris dan Danny, “Ayo bangun, ada yang mendekat kemari!” bisikku. 


    Kris cepat tanggap dan merogoh rogoh sakunya mencari pisau, Danny berusaha menyadarkan dirinya, kulempar sebuah ranting yang cukup besar pada Danny, kami bertiga sudah siap sekarang. Suara gemerisik berubah menjadi langkah kaki, samar samar kudengar suara geraman seperti anjing hutan.


Semakin mendekat dan mencekam, detak jantungku mulai terdengar di kesunyian malam ini, aku yakin Danny dan Kris juga begitu, semakin dekat, dan dekat, dan akhirnya suaranya sangat jelas, sekitar 10 meter dari tenda kami, bayang bayang manusia berbadan kurus, dan juga, berbulu?

__ADS_1


Lily mencakarku sedikit, raut wajahnya terlihat ketakutan. Sebuah geraman terdengar, salah satu dari mereka berdiri di samping tenda kami, bayangan yang dihasilkan cahaya bulan menembus kain tenda, sesosok manusia kurus berbulu, memiliki ekor dan juga bentuk wajah seperti serigala. Werewolf.  


    Aku seorang yang realistis, mendapat suatu kejadian yang tak terduga seperti ini. Manusia serigala asli, berdiri di hadapanku, kemungkinan hal yang akan terjadi ada 2, mereka membunuh kami karena telah melihat hal yang tak seharusnya, atau kami yang membunuh mereka. Sebuah lolongan terdengar dari luar tenda, dengan mataku aku menyaksikan robeknya tenda kami oleh kuku kuku panjangnya.


Dan disanalah dia, seekor makhluk mistis yang ternyata benar benar eksis. Haruskah aku pergi? Haruskah aku teliti mereka? Peduli setan! Mereka ingin membunuh kami, mana mungkin aku biarkan.


“Bajingan!” teriakku sembari menusukkan pisau kecil ke dadanya, dengan cepat ia menghindar, Kris dan Danny pergi mengurus yang lain, aku sendiri. Ketika ia menghindar tanganku yang satunya segera menghantamkan ranting ke leher di bawah dagunya, pingsan, 1 selesai, sisa 4.


Dua ekor kawan satu kelompoknya menghampiriku, kuayunkan ranting di tanganku sebagai pengalihan, salah satunya menghindar, dan ketika aku akan menusukkan pisauku, kawannya segera menggigit lenganku.


“Enyah!” teriakku sembari memukul kepalanya, sepertinya aku tak sengaja membuatnya tak sadarkan diri, dan akhirnya yang terakhir tersisa. Dengan hanya satu tangan yang berfungsi apakah yang harus kulakukan? Masa bodoh! Kulempar pisauku, ia tak menghindarinya dan itu mengenainya tepat di jantung, tertancap namun tak dalam, masa bodohlah, kuterjang saja dan kuhindari cakaran cakarannya, saat tubuhnya terlalu keras mengayun, kutendang pisau di dadanya masuk. 3 habis, sisa 2 lagi. 


Aku menoleh ke belakangku, seekor dari mereka menggandeng 2 buah barang. Ah. itu Danny dan Kris yang sedang tak sadarkan diri. Sialan! Aku menjatuhkan senjataku ke tanah.


Tanpa kusadari ia sudah berada di depanku, dengan cakarnya yang siap menyambar leherku. Ah, apakah aku akan tamat disini? Mungkin hidupku itu tak ada tujuannya ya.


“Gree!” sebuah teriakan datang dari belakang figur bodoh itu, aku tak mau mati. Kutendang kakinya hingga ia terjatuh, kusambar kayu yang tadi kujatuhkan, lalu kuhancurkan tengkorak makhluk bodoh itu. Semua selesai. Kuhampiri Danny dan Kris yang terlentang tak berdaya, Danny sudah tak bisa mempertahankan kesadarannya dan Kris sudah sekarat. Kondisi kami bertiga hampir sama, menyedihkan. 

__ADS_1


Seketika Lily melompat keluar dari sakuku, kucing kecil itu menatapku dengan sinar mata yang aneh,  perlahan lahan semua bulu di tubuhnya mulai mengeluarkan cahaya redup, semakin lama semakin terang, hingga akhirnya aku tak dapat melihat apapun.


Semua kejadian tak masuk akal beruntun ini membuatku sadar, ternyata sesuatu yang diluar nalar manusia itu benar ada ya. Aku hanya pasrah, tersenyum menghadapi kemungkinan aku akan mati disini. Paling tidak aku bersama teman temanku.


__ADS_2