Thanatos : War Of The Fractions

Thanatos : War Of The Fractions
Dua. Permulaan.


__ADS_3

“Locke? Tuan Locke?!” sebuah panggilan membangunkanku dari tidur nyenyakku, ternyata lagu dalam playlistku sudah habis, dan pak Matthew memanggil namaku. “Kenapa pak?” dengan malas aku bertanya, kulihat soal kalkulus sederhana di papan, ah dia ingin aku mengerjakan itu rupanya. “Coba kau kerjakan ini dalam kurang dari 30 detik, tuan Locke, jika kau bisa melakukannya, aku akan membelikanmu makan siang dan kuberi kau ijin tidur di setiap kelasku!” dengan bangga pak Matthew menantangku, ini memang bukan soal yang sulit, setidaknya bagiku, kami seharusnya mulai mempelajari kalkulus 2 tahun lagi, mungkin karena itu dia percaya diri sekali. 


Dengan perlahan aku berjalan ke arah papan tulis, jawabannya sudah ada di kepalaku, hanya tinggal kutuliskan. Kutuliskan saja dengan santai, toh 30 detik itu waktu yang banyak. Setelah menulis, aku kembali ke tempatku sebelumnya, “sepertinya aku ingin makan sandwich siang ini.” kataku sebelum menundukkan kepalaku lagi untuk tidur. Mengingat wajah pak Matthew yang terkejut dan teman teman yang seolah melihat hantu menorehkan senyum lainnya di wajahku hari ini, toh soalnya mudah. Aku lanjut berjalan kedalam alam mimpiku, membayangkan semua hal yang aku tak pernah dapatkan. 


    Bel istirahat berbunyi, aku segera membuka mataku dan memandang ke arah Daniel yang sedang mengeluarkan makan siangnya, “Danny ayo ke kantin.” ajakanku hanya dibalas gelengan dan senyum bodohnya, “aku sudah bawa bekal, dasar tukang tidur.” dengan wajah malas aku berjalan keluar pintu, yang lalu disambut tepukan di punggungku, “ayo ke kantin!” Kris tersenyum. Aku hanya ikut tersenyum, lalu mengikuti langkahnya yang lambat. 


Sekitar 2 menit berjalan, aku berpapasan dengan senior yang pagi tadi mencegatku. Dia bahkan tak berani menatapku, yang membuat teman di sebelahnya curiga, “hey, sebagai junior kau harus hormat pada kami! Tundukkan kepala kalian!” katanya kasar. Dengan wajah tak percaya senior yang mencegatku menatap teman bodohnya itu. Kris maju dan menghantamnya di dada, membuatnya sesak nafas, “ayo Gree, kita lanjut.” tanpa basa basi kami berjalan ke kantin, membeli makanan, lalu kembali lagi ke kelas, dimana aku lanjut tertidur lagi hingga istirahat kedua dan pulang. 


    “Gree, bangun, ayo pulang!” aku membuka mataku, memasukkan ponselku ke tas dan berjalan keluar bersama Daniel, “Kris sudah menunggu di bawah, ayo cepat kita ke rumahku!” setelah menuruni anak tangga, kami bertemu Kris dan bertiga kami berjalan menuju rumah Daniel dengan matahari di atas kepala kami menemani perjalanan singkat ini. Di dekat perumahan, aku ingat aku harus mengambil sesuatu di kantor pos, letaknya tak jauh dari sini, “Danny, Kris, aku harus mengambil paket yang dikirim orangtuaku, ada sukarelawan?” Kris tersenyum, “ayo!” berdua kami melompat dan memanjat naik keatas atap atap di dekat kami, “Danny, hati hati di jalan!” Kris tertawa. Aku bisa melihat Danny menghembuskan nafas dan menggelengkan kepalanya. Dengan hawa panas dari matahari, kami melompat lompat menuju kantor pos di selatan. 

__ADS_1


    Setelah sekitar 20 rumah, kami turun ke jalanan, menyebrang dan akhirnya tiba di kantor pos. Aku masuk, mencari petugas dan menyebutkan namaku, ia tersenyum dan memberiku paket kecil, sepertinya pakaian. Setelah berterimakasih aku keluar menuju Kris, yang tak bisa ditemukan dimana mana. “Mungkin dia beli makanan.” pikirku, sambil menunggu, aku duduk di tangga teras kantor pos menikmati angin sejuk yang kontras dengan panas matahari siang. 


Ketika menunggu, sesuatu menarik mataku, SUV hitam yang terdiam di pinggir jalan, di dekat tempat perbaikan senjata milik militer. Aku berjalan mendekatinya, 1805, dia yang menabrakku tadi pagi. Aku penasaran dan berjalan perlahan mendekati kursi penumpang, tepat ketika aku tiba, mobilnya seketika pergi dengan kecepatan penuh. Aku hanya bisa melihat sesuatu yang aneh lewat jendela mobil tadi, rambut putih perak. Saking mencoloknya aku bisa melihatnya dari jendela hitam mobilnya. 


    “Gree!” aku tersentak, Kris memanggilku dari seberang jalan, “Ayo! Ini aku bawakan eskrim!” aku menghampirinya tanpa memberitahukan apa yang sudah aku lakukan padanya. Dengan senyum aku berterimakasih dan dengan cepat kuhabiskan es krim milikku. Kami lalu berjalan sejenak sebelum melompat lompat lagi diatas atap menuju rumah Daniel, lebih cepat dari saat kami meninggalkannya. 


    Setibanya di rumah Daniel, kami disambut oleh ibunya yang ramah, “apa kabar Gree? Tante jarang bertemu kamu lagi! Barang barang yang kemarin kamu titip ada di belakang ya!” aku membuka sepatuku, masuk kedalam bersamaan dengan Kris, dan menjumpai pemandangan yang bodoh. Daniel sedang tertidur di sofa depan tvnya, dengan mulut terbuka lebar. Aku menoleh ke arah Kris, yang sedang menunjukkan wajah nakalnya, ibu Daniel datang lalu menepuk punggung Kris, mengangguk dengan senyum yang sama dengannya. Kukeluarkan spidol dari kantong tasku, ibu Daniel merebutnya dari tanganku dengan bersemangat, “tante duluan ya!” bisiknya. Dengan cekatan kami bertiga mencoret coret wajah Daniel yang bodoh itu sebelum dia terbangun.


Aku hanya tersenyum dan menggeleng, mereka meninggalkan rumah untuk bekerja di luar negeri 5 tahun lalu, dan hanya mengirim paket untukku, dan telepon serta sms untuk kakakku yang bodoh. “Tapi mereka mengirim paket untukku hari ini, sepertinya pakaian.” kataku sambil mengeluarkan paket yang tadi kuambil di kantor pos, lalu merobek pembungkusnya. Sebuah jaket bomber hitam, hitam legam tanpa cela, vantablack mungkin. Aku mencobanya, agak besar, namun pas, aku melipat dan meletakkannya kembali kedalam tasku. 

__ADS_1


    Hari mulai sore, aku senang karena aku tak perlu pulang ke rumahku yang kubenci itu, dengan kakak bodoh yang selalu mabuk dan membuat keributan. “Hey Gree, kau sudah mandi?” Danny membuka pintu kamarnya, mengejutkan diriku yang sedang olahraga ringan, “kau sungguh berkeringat, untuk seorang tukang tidur, badanmu sangat kekar, keren kawan.” katanya sambil melemparkan handuk kecil untukku, “aku harus menunggu sebentar agar tubuhku dingin.” balasku sambil menyeka keringat pada wajahku. 


Kris sedang kembali ke rumahnya untuk mengambil barang barang untuk hari ini dan besok, sekolah bulan ini telah berakhir, karena satu dan lain hal sekolah di kota kami diliburkan selama 2 minggu, jadi beberapa hari lalu kami membuat rencana untuk berkemah di gunung Clarke, yang mana sejauh 15 kilometer dari sini, dan sejauh 5 kilometer dari fasilitas kesehatan terdekat. Sebuah tantangan bagi kami, untuk bersenang senang dan juga membersihkan pikiran dari emosi dan stres akibat sekolah. 


    Setelah mendinginkan badan, aku pergi mandi, selama sekitar 10 menit. Setelah mandi aku bergabung dengan Daniel dan Kris yang sudah kembali dari mengambil perlengkapannya dari rumah. Mereka berdua kelihatannya sedang serius memainkan playstation yang terletak di depan mereka. Mata mereka tak berpindah fokus, pandangannya tetap di layar. Aku hanya duduk dan menonton mereka bermain selama 2 jam, aku memang agak kurang suka bermain game, terlalu mudah bagiku. 


Setelah sekitar 2 jam, jam dinding menunjukkan pukul 20.00, kami berhenti bermain dan mulai merapikan barang barang yang kami perlukan untuk berkemah besok. Tenda, kantong tidur, pisau, tali, dan perlengkapan sederhana lainnya, kami tak membawa bahan makanan, hanya korek api, karena tantangan dari kakak Kris. kalau kami bisa bertahan dalam hutan tanpa makanan selama 2 hari, ia akan memberikan masing masing dari kami bertiga apa yang kami inginkan. Bagi Kris, ini lebih soal harga diri dan tantangan, kami tak peduli tentang imbalannya. Setelah persiapan singkat, kami ke kamar tidur Daniel, bertiga diatas lantai yang dilapisi matras. 


“Danny, pilih class.” Kris memulai pembicaraan, “jangan yang aneh aneh ya.” menatap langit langit kamar kami bertiga terdiam, sebelum Daniel menghembuskan nafas, “Paladin,” katanya tenang, “itu pilihan final.” sambil tersenyum bangga akan pilihannya. “Kau apa Kris?” tanyaku balik, yang disambut seringai di wajahnya, “elementalist!” katanya lugas, “kalian silahkan bertarung, aku akan tidur di garis belakang!” mereka berdua lalu menatapku, “magic knight.” kataku singkat, “tidak ada pertanyaan tambahan, aku ingin ke taman dulu besok pagi.” dengan senyum, kami bertiga tidur dengan tenang malam itu, tanpa beban sama sekali, tidur ternyaman yang pernah aku rasakan dalam 5 tahun. 

__ADS_1


Alarmku berbunyi, sudah saatnya aku olahraga. Dengan perlahan aku mengendap keluar kamar Dan, menuju pintu keluar, berusaha tak menimbulkan gangguan apapun bagi yang lain. “G? Mau kemana?” suara ibu Dan mengejutkanku, ini baru jam 3 dan dia sudah terbangun, bahkan memasak dengan cekatan di dapurnya. “Aku akan olahraga, ke taman di Deer Street, mungkin aku akan kembali sekitar 2 jam lagi.” jawabku singkat. Ibu Dan melihatku dengan tatapan keibuan, berjalan perlahan ke arahku, celemek yang dipakainya terlihat kebesaran, rambutnya terurai indah saat berjalan, lalu mengelus rambutku. “Kau mirip ayahmu,” katanya sambil menyodorkan jaketku, “jangan terlambat untuk sarapan ya.” aku hanya tersenyum. “Jangan menungguku!” bisikku sambil berjalan dengan cepat keluar rumah. 


__ADS_2