Thanatos : War Of The Fractions

Thanatos : War Of The Fractions
Lima. Kucing Kecil.


__ADS_3

“Bangun bodoh.”


Sebuah suara, halus dan berwibawa terdengar menggema di telingaku, aku masih tak bisa melihat apapun selain warna putih cahaya, mataku tak berfungsi dalam situasi ini, sialan. “Kalau kau ingin nyawa, ambillah saja milikku, biarkan kawanku pulang dengan selamat!” teriakku marah. “Aku bukan ingin nyawa,” suara itu terdengar lagi, “aku adalah makhluk yang kau beri nama Lily.” aku terdiam, jika saja aku tak memungut kucing itu kami tak akan berakhir mengenaskan seperti ini. 


“Aku akan memberimu berkah, kau sudah layak mendapatkannya, wahai Griesta putra Locke dan Azalea.”


Pikiranku kosong, lalu berbagai pertanyaan muncul di benakku, semuanya melengkapi dan membuat satu sama lain menjadi sebuah pertanyaan besar, rumit, dan memusingkan. Namun pada akhirnya semua itu berasal dari satu pertanyaan kecil. “Ap-” lidahku tercekat, aku menelan ludah, “Apa kau ini sebenarnya?” cahaya putih yang membutakanku mulai menghilang, tergantikan pemandangan kawan kawanku yang sudah tak memiliki sedikitpun goresan di tubuh mereka, dan rasa sakit di tanganku sudah tak ada lagi. Semuanya sudah sembuh tanpa bekas. 


“Aku ulangi, apa kau ini?”


“Kalian biasa memanggilku ibu bumi, ibu pertiwi, dan sebutan lainnya yang cukup memuaskanku, namun aku akan memberimu hak untuk memanggil namaku.”

__ADS_1


“Kau punya nama?”


“Gaia.”


Ah, aku baru saja berbicara dengan Gaia, ibu dari titan dan dewi penciptaan dalam mitologi yunani. Seekor kucing adalah ibu bumi, serangan manusia serigala, pemandangan teman temanku sekarat, pertemuan dengan gadis perak, kematian orang yang sudah kuanggap keluarga, semua ini seperti mimpi buruk yang selalu menghantuiku. Aku hanya terdiam ketika semua cahaya redup menjadi sebuah bola diatas kepala seekor kucing kecil, Lily mendekatiku, semakin dekat langkahnya semakin pula aku merasakan tekanan yang sangat kuat, namun juga perasaan nyaman dan hangat seperti sedang berada di dalam pelukan. 


Lily sudah berdiri di hadapanku yang terduduk lesu, seperti kucing ia melompat ke pangkuanku. Dengan isyarat ia memerintahkanku untuk menunduk. Kutundukkan sedikit demi sedikit, kepada seekor kucing. Saat sudah menunduk, aku merasakan sesuatu yang lembut menyentuh keningku, dengan sekilas aku melihat Lily meletakkan tapaknya diatas kepalaku, lalu dilanjutkan dengan Danny dan Kris. 


"dan untuk adik kecilmu."


Setelah mengatakan itu ia menghilang, sebuah sentakan terasa di punggungku, aku terkejut, aku di dalam tenda, tak ada luka atau kerusakan, tak ada Lily dan tak ada bekas perkelahian dengan manusia serigala. "aku tak ingat punya adik" gumamku

__ADS_1


Ingatanku masih segar dan tak mungkin salah, di tenda ini hanya ada aku. Ah sialan! Aku melompat keluar dari tenda, dan mendapati kawan kawanku sedang menangkap ikan di sungai. 


“Hey! Kau sudah bangun!” Kris menyapaku sambil menunjukkan ikan yang telah didapatnya. Aku menghembuskan nafas lega, mereka tak terluka sama sekali. Danny mendekatiku, menarikku tanda ia ingin bicara empat mata, aku hanya mengikutinya hingga sedikit jauh dari Kris, “Kau ingat apa yang terjadi kemarin malam?” Danny bertanya dengan wajah serius. Aku diam, “kalau kau sendiri?” tanyaku balik. 


Danny semakin terlihat serius, “aku ingat kita diserang manusia serigala, Kris juga.”


“Aku juga ingat itu.”


“Tapi kenapa kita tak apa apa?”


Aku diam, lalu memberitahunya tentang Lily, dan semua yang terjadi setelah mereka pingsan. Danny tampak tak percaya setelah aku mengatakannya, begitupun diriku. Kami berdua kembali ke Kris dan menceritakannya, lalu membereskan semua barang kami, dan pulang untuk menghindari hal buruk yang mungkin terjadi. Kris sudah memesan taksi untuk kembali ke kota, kami berjalan kembali ke jalan raya, lalu kembali ke kota menaiki taksi. Sepanjang perjalanan tak ada satupun dari kami bertiga yang mengucapkan sepatah kata, semua terdiam, hingga tiba di rumah Danny, kami berpisah dan pergi ke rumah kami masing masing. 

__ADS_1


Aku sendiri kembali ke rumahku, dan sesuai yang aku pikirkan, kakakku menyambutku dengan banyak pukulan dan kata kata kotor, aku tak peduli, aku naik ke kamarku dan menutup lalu mengunci pintunya. Kurebahkan diriku di atas kasur, angin dari pendingin ruangan membuatku mengantuk, dan akhirnya aku putuskan untuk tidur telungkup sambil mengenakan jaketku, tak bergerak dari posisi sebelumnya. 


__ADS_2