The Antagonis Body : Different World

The Antagonis Body : Different World
Leonard Lucca Maxwel


__ADS_3

bagaimana bisa ia masuk kedalam tubuh ini? apakah ini masuk akal?.


3 hari pun berlalu setelah sadarnya Jess di rumah sakit


total sudah 6 hari Jess di rawat di kamar VVIP rumah sakit termahal di Amerika milik suaminya, lebih tepatnya suami di atas kertasnya.


"sayang...apa kamu sudah merasa lebih baik?, " tanya ibu Jess


Jess tidak menjawab dan hanya kembali menutup matanya, dia mencoba mencerna semua yang terjadi.


apa sebenarnya yang terjadi?.siapa orang-orang ini?, mengapa mereka mengaku sebagai keluargaku, siapa pria yang mereka bilang sebagai suamiku, begitu banyak pertanyaan yang ada di kepala Jess.


dokter pun datang untuk memastikan keadaan Jess,


"nyonya Maxwel, apakah anda sudah merasa lebih baik?"


dibalas anggukan oleh Jess


"tuan dan nyonya Welros, bisa kita bicara di kantor saya?"


"tentu saja dok".


kantor dokter


"saya ingin menyampaikan hasil pemeriksaan nyonya Maxwel,.


nyonya sepertinya kehilangan semua ingatannya, melalui hasil pemantauan kami, nyonya sama sekali tidak mengenal siapapun, bahkan nyonya tidak mengetahui namanya sendiri, hasil foto menunjukan tidak terjadi trauma pada otaknya, jadi kami menyimpulkan nyonya hanya shock karena kejadian itu, mungkin seiring berjalannya waktu ingatan nyonya akan kembali dengan sendirinya, saya akan meresepkan obat untuk nyonya, dan saya akan memantau nyonya kedepannya"


"dok, apakah anak saya sudah bisa pulang?"


"nyonya sudah bisa pulang"


"baiklah dok, terima kasih dok"


"sama sama nyonya Welros"


Jess sudah di jemput supir, Jess berpisah dengan ayah dan ibunya


Jess kaget begitu memasuki gerbang yang mungkin mencapai 10 meter yang dijaga ketat para penjaga lengkap dengan senjatanya menunduk hormat atas kedatangannya. butuh waktu menyisiri taman sebelum mobil terparkir di Mansion indah dan megah.


Jess kaget melihat pemandangan yang ia lihat.


"siapa sebenarnya wanita pemilik tubuh ini?"


tentu saja ia bertanya tanya karena ia adalah Viona yang entah kenapa terperangkap di tubuh milik wanita asing ini.


begitu banyak pertanyaan yang ia tampung dalam otaknya. ia memutuskan untuk mencoba mengikuti alurnya sambil mencari tau apa yang terjadi.


ia hanyut dalam lamunannya , namun disadarkan dengan pintu mobil yang terbuka.


"silahkan nyonya"


"selamat datang nyonya?


begitu ia turun ia di kagetkan dengan suara serentak dari para pelayan, ia memperkirakan ada 20an bahkan lebih pelayan yang menyambutnya. belum juga para penjaga.


"tuan ada di ruangan kerjanya, sebentar lagi makan malam akan siap." ucap seorang wanita yang ia yakini sebagai kepala pelayan karena diantara para pelayan ia terlihat lebih tua dan juga tidak memakai seragam seperti yang lainnya.


"tuan?"


"iya nyonya, Mr Maxwel suami anda"


"yy yaa" betapa bodohnya ia karena melupakan apa yang dia dengar di rumah sakit tadi bahwa pemilik tubuh ini sudah menikah.


ia masuk kedalam sambil terpukau dengan apa yang dilihatnya desain dan interiornya sungguh diluar akal sehatnya.


"nyonya, tuan memanggil anda untuk ke ruang kerjanya"


"baiklah, bisa kamu antarkan saya?, saya memiliki masalah dengan ingatan saya"


pelayan yang mendengar itu kaget atas respon yang di berikan nyonyanya, meskipun sudah mengetahui kondisi kesehatan nyonyanya tapi tidak ada yang menyangka akan separah ini


tok tokk tokkk


pintu di buka menampilkan ruangan yang dipenuhi dengan buku yang terpajang rapi



ia dapat menduga bahwa pria ini menyukai buku. setelah mengantarkannya kedua pelayan yang mengantarnya pamit.

__ADS_1


"nyonya, kami permisi dulu"


"oo oke, thank you"


pintunya tertutup. ia berjalan menyusuri lorong buku sambil terpana. ia melihat 1 buku yang sangat mencolok tapi berada di atas. ia melihat sebuah tangga dan menggesernya. ia mengambil bukunya dan membukanya. itu adalah buku silsilah keluarga Maxwel, yaitu keluarga suaminya, dimana ia dapat melihat foto, biodata, bahkan pencapaian yang di torehkan, ia kaget melihat apa yang tertera di dalam buku itu bukan hanya bisnis dunia atas, terlihat tidak seberapa di bandingkan dengan bisnis dunia bawah yang dijalankan keluarga itu.baru ia ingin menggeser halamannya


"puas dengan keingintahuan mu?"


ia tidak siap dengan posisinya yang masih di atas tangga kaget dan terjatuh tepat pada pria itu. kedua tangan pria itu menyanggahnya, ia pun mengalungkan tangannya dan tatapannya tertuju tepat di wajah pria itu.


apakah ini nyata?, apakah dia manusia?, ketampanannya sangat tidak manusiawi. ia tersadar dari lamunannya dan bergegas turun.


"ma..maaf kan aku, aku tidak sengaja melihatnya"


"kata pelayan kamu memanggilku?" dengan kegugupannya


bukannya menjawab, pria itu malah mendekatkan wajahnya ke wajah Vio, Vio yang tidak siap membelalak kaget sambil memundurkan kepalanya. matanya berkedip.


"apa yang kamu lakukan?"


"sepertinya kamu memang benar kehilangan ingatan"


"pergilah"


Vio dengan sigap pergi meninggalkan pria itu


smirk penuh tanda tanya timbul di wajah tampan itu


Vio diantar pelayan ke kamarnya yang berada di lantai 3, di lantai itu hanya terdapat 2 kamar yaitu 1 untuknya dan 1 lagi untuk pria itu


"ada lagi yang bisa kami bantu nyonya?"


"kalian pergilah"


"baik nyonya kami permisi"


Vio merebahkan badannya


"ini terlalu tidak masuk akal, Vio pusing dingan apa yang ada di pikirannya saat ini, pria itu berbahaya, Vio melihat catatan kerja yang terdapat dalam buku itu."


"aaaaa aku harus bagaimana?. aku harus kembali ke tubuhku, aku harus bertemu dengan keluargaku.


ia segera membuka pintu


"nyonya, makan malam sudah siap, tuan sudah di meja makan"


aku harus menghindar dari pria berbahaya itu, aku harus melarikan diri dan kembali ke keluargaku, mungkin aku hanya bertukar tubuh dengan pemilik tubuh ini, aku harus kembali ke Califotnia, ya harus kembali ucapnya dalam hati


"aku sudah kenyang, aku sudah makan tadi sebelum pulang"


tanpa mendengar jawaban pelayan ia langsung menutup pintu dan segera pergi ke tempat tidur.


pelayan segera turun kebawah menyampaikan informasi itu pada tuannya.


dimeja makan telah tersaji makanan berbagai macam rupa, itu adalah sesuatu hal yang wajar disini.


"Tuan, nyonya tidak akan ikut makan malam, kata nyonya ia sudah kenyang" ucap pelayan itu


pria yang mendengar itu hanya diam tanpa ekspresi. dan ia segera memakan makannya. setelah selesai ia memerintahkan kepada pelayan,


"buang semua makanan ini, jangan ada yang tersisa"


"baik tuan" ucap para pelayan


jam menunjukan hampir tengah malam, Vio yang terlelap dalam tidurnya tiba tiba terbangun karena perutnya keroncongan.


ia segera bangun berjalan menyusuri lorong rumah sambil memegangi perutnya, ia pergi mencari dapur. butuh waktu untuknya untuk menemukan dapur di rumah yang super besar itu.


"itu dia" ucap Vio senang, ia berpikir akan ada sisa makan malam tapi nihil, ia tidak menemukan makanan di dapur besar itu, ia memutuskan untuk mencari di kulkas dan hanya menemukan buah buahan dan bahan makanan mentah.


dia dapat melihat bahan untuk membuat stik, ia dapat melihat daging yang sangat mahal terkumpul di kulkas.


ia memutuskan untuk membuat stik, ia tentunya bisa memasak, dia sering membantu ibunya di dapur, bahkan mempelajari berbagai menu masakan.


ia hampir selesai namun perutnya tidak dapat menunggu, ia segera mengambil apel dan memakannya selagi menunggu masakannya selesai.


masakannya selesai, dan ia sangat gembira, ia mencicipi stik itu


"wahh ini sangat enak, daging mahal memang tidak pernah mengecewakan"

__ADS_1


ia makan di meja makan dengan lahapnya, lampunya hanya lampu dapur, ia memilih tidak menyalakan lampu agar supaya ia tidak menarik perhatian.


makanannya telah habis, ia pergi ke dapur dan mencuci piring yang telah ia gunakan


"selesai juga" ia segera membalikkan badan


bruk..


ia kaget dengan orang yang ia sambar yang berdiri tepat dibelakangnya, mata mereka saling bertemu, Vio yang sadar langsung memberikan jarak.


"apa yang kamu lakukan disini?" tanya Vio


" bukankah itu pertanyaan untuk dirimu sendiri" jawabnya datar


Vio yang gengsi menjawab bahwa ia lapar, karena tidak menemukan makanan jadi ia memasak.


"mencuci piring, yaa mencuci piring, aku melihat piring yang lupa di cuci, jadi aku mencucinya," ucap Vio sambil tersenyum canggung dan menghindari kontak mata dengan pria itu


"semua pelayan di rumah ini berarti harus dipecat, mereka tidak becus"


Vio yang mendengar itu kaget dan segera menatap pria itu.


"bb bukan itu maksudku, aku harus pergi" Vio memutuskan untuk tidak berinteraksi lebih lama dengan pria ini ia berjalan cepat melewati pria itu namun tangannya di cekal.


"besok pagi turun sarapan" tanpa mendengar jawaban Vio pria itu pergi meninggalkan Vio.


Vio dibangunkan pelayan untuk sarapan, Vio yang mau menolak kembali teringat perkataan pria itu tadi malam.


Vio langsung turun tanpa memperbaiki penampilannya, ia melihat pria itu sudah duduk dimeja, dan sarapan berbagai macam telah disediakan.


" morning.." ucap Vio sambil duduk


ia baru akan makan tiba tiba terdengar suara wanita yang menangis meminta ampun, Vio yang penasaran langsung meninggalkan meja makan dan mencari sumber suara dan ia menemukannya.


ia kaget melihat 3 orang wanita yang memakai seragam pelayan di cambuk bergantian oleh seorang pria.


"nyonya" ucap pria itu beserta para pelayan yang di cambuk


"kenapa kamu melakukan itu?"


"mereka tidak becus menjalankan tugasnya, mereka pantas mendapatkannya," ia kembali berancang ancang untuk meneruskan cambukan nya


"hentikan, hentikan" Vio menjadi tameng untuk para pelayan itu dan Vio yang terkena cambukan


mereka kaget akan apa yang mereka saksikan itu


"nyonya saya harus menjalankan perintah tuan untuk mencambuk mereka masing masing 100 kali fan ini baru yang ke 27"


"hentikan omong kosong mu," ucap Vio emosi dan menantang


"hentikan Mark" suara itu mengagetkan mereka semua


mark segera mundur 2 langkah, Vio menatap pria itu yang perlahan mendekat. tanpa di duga ia menendang wajah ketiga pelayan itu dan mereka tersungkur. Vio teringat dengan apa yang dibacanya di buku itu


Leonard Lucca Maxwel, 30 tahun,direktur utama Mx Compeny, pemimpin mafia Xcosta dengan bisnis bawah tanah, narkoba, perdagangan senjata, perdagangan manusia, bahkan seorang pembunuh berdarah dingin yang tak segan segan menghabisi musuhnya. semuanya tertulis lengkap di buku silsilah keluarga, Vio tentu sadar bahwa pria ini bukan orang sembarangan.


"Vio tidak tega melihat Leonard menendang mereka dengan membabi buta, ia menyingkirkan ketakutannya dan menarik tangan Leonard menjauh dari para pelayan itu


"apa yang kamu lakukan, apa kamu ingin membunuh mereka?"


Leonard hanya menatap tangan yang menarik tangannya, Vio yang sadar itu langsung melepaskan tangan Leonard,


"mereka pantas mendapatkannya"


"what?"


"bukankah kamu sendiri yang mengatakannya?"


Vio kembali mengingat kejadian tadi malam dimana ia mengatakan mencuci piring karena terdapat piring kotor


__________


Jangan lupa komen dan like nya yahh


agar author lebih semangat nulisnya


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian


Next.....

__ADS_1


__ADS_2