
Vio terbangun, ia mendapati tangan kekar memeluknya dari belakang tubuhnya remuk, ia kembali mengingat apa yang terjadi, ia menyingkirkan tangan itu dengan kasar, mencoba bangun tapi bagian bawahnya sangat sakit, dengan susah payah ia akhirnya bisa duduk di pinggiran kasur, ia dapat melihat jejak keperawanannya yang di renggut.
dengan berjalan tertatih ia menuju ruangan pakaian pria itu dan mengambil kemeja untuk dipakai, itu semua karena pakaiannya yang semalam sudah tidak berbentuk lagi.
banyak sekali tanda kemerahan di leher dada perut bahkan pahanya .
meskipun ia tak pernah pacaran dan berhubungan sebelumnya tapi Vio sedikit tau dengan hal ini.
hanya tinggal 1 kancing untuk dikenakan ia dipeluk oleh tangan kekar dari belakang,
Leonard menciumnya dengan rakus, pemberontakan Vio sama sekali tak dihiraukan Leonard dan mereka melakukannya lagi lagi dan lagi.
Leonard sudah pergi untuk mengurus pekerjaannya, Vio mendengar pria itu mengangkat teleponnya tadi. ia bersyukur pada orang yang menelpon. Vio bangun dan segera pergi ke kamarnya. sekarang sudah pukul 1 siang, ia berapa kali dibangunkan dari sarapan hingga makan siang tapi tak ada yang dihiraukannya, badannya sangat sakit, ponselnya berdering tapi ia tidak ingin mengangkatnya tapi ponsel itu terus berbunyi mau tak mau ia mengangkatnya.
"turun, kamu melewatkan sarapan, tapi tidak dengan makan siang." tanpa menghiraukan Vio mematikan ponselnya. setengah jam berlalu sejak ia mematikan ponselnya
brak!! pintu di buka paksa Vio diangkat dari tempat tidur seperti karung beras. Vio yang sadar langsung memberontak
"apa yang kamu lakukan, lepaskan"
mereka tiba di meja makan yang sudah tersedia makanan Mark datang dan segera mencambuk dengan membabi buta para pelayan yang tadinya berbaris rapih Vio terkejut dan langsung menatap Leonard yang duduk bersandar dan hanya menatap Vio , para pelayan meringis kesakitan.
"Mark berhenti, apa yang kamu lakukan?" tapi tak dihiraukan oleh Mark
ia yang saat ini merasa tidak enak badan memaksakan dirinya untuk berdiri dan menghentikan Mark
alhasil Vio terduduk dan merintih,
Leonard dengan santainya mengangkat dan mendudukkan Vio kembali pada kursinya.
"aku mohon berhentilah menyiksa mereka"
"Mark, hentikan" Mark yang mendengar perintah itu langsung menghentikannya
"baik tuan" ucap Mark hormat pada tuan nya.
mereka makan tanpa ada perbincangan, mata Vio tak pernah lepas dari Mark yang berdiri di belakang Leonard. Leonard menyadari itu,
__ADS_1
Brak.. Leonard membanting pisau dan garpu yang di pegangnya, sontak membuat semua orang kaget.
"Mark"
"ia tuan"
"kembali ke kantor tanpa aku, dan selesaikan urusan kantor" ucap Leonard tanpa mengalihkan pandangan pada Vio, Mark pun pamit untuk pergi meninggalkan Vio dan Leonard di meja makan, para pengawal dan pelayan sudah diperintahkan untuk meninggalkan ruang makan
Vio tegang tak tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
Leonard berdiri mendekati Vio dari belakang, menghirup leher Vio dan tentu saja itu membuat Vio bergidik ngeri, Vio berancang ancang kabur tapi tangannya segera di cekat
"apa yang kamu lakukan,? lepaskan aku"
"apa urusanmu dengan Mark?"
"ti ti tidak ada, aku hanya ingin menanyakan belanjaanku"
"untuk siapa itu semua" Vio bingung harus menjawab nya, tidak mungkin ia mengatakan bahwa itu untuk keluarganya, ya keluarga nya yang asli.
"ituu untuk mm temanku, yaa temanku, keluarga temanku, aku kasian pada keluarga temanku yang di tinggalkan dengan begitu cepat tanpa dapat mengatakan kata kata terakhirnya." Vio mengatakan dengan sendu yang memaksa untuk tetap tersenyum baik baik saja.
"aku ingin belanjaanku, bukankah aku selalu belanja, ini bukan kali pertamaku belanja, aku tau aku sering menghabiskan uangmu tapi ini terakhir kalinya aku menyusahkan mu, aku akan menggantinya begitu kartu ku diperbaiki. aku janji, percaya padaku"
"tentu saja aku ingat, aku berniat untuk memulai hidup baru dan aku sudah menghabiskan begitu banyak uang mu, bahkan suntikan dana untuk keluargaku"
"aku membaca kontraknya dan di situ tertera bahwa masa pernikahan kita hanya 1 tahun dan kita menikah sudah 10 bulan, sisa 2 bulan lagi"
"aku akan meninggalkan rumah ini tanpa membawah apapun"
"kamu pikir segampang itu? bermimpi lah"
Vio tak habis pikir dengan respon yang diberikan Leonard, bukannya seharusnya ia senang akan berakhirnya kontrak ini, kenapa respon yang diberikan Leonard sangat berbeda dengan yang Vio pikirkan.
Vio sendiri mengetahui semua yang dilakukan oleh pemilik tubuh ini, ia menemukan diary dan juga kontrak pernikahan nya dengan Leonard.
Leonard tiba tiba mencium Vio dengan agresif, Vio tentu saja berusaha melepaskan diri meskipun tubuhnya saat ini sangat lemah dan kesakitan.
Leonard terus saja menjamahnya.
Vio terbangun di kamar Leonard, setelah mereka melakukannya di meja makan Leonard melanjutkannya sampai di kamar. ia tidak menemukan Leonard, ia berusaha untuk ke toilet untuk membersihkan diri. selesainya ia pergi ke kamarnya menggunakan handuk.
__ADS_1
jam menunjukan pukul 7 pagi, ia turun kebawah dengan hati hati karena bagian bawahnya masih sakit.
seorang wanita datang dengan gaya glamor dan mobil mewahnya.
klakson mobilnya berbunyi. ia membuka pintu mobil serta kacamatanya. setelah mengetahui siapa wanita itu para penjaga gerbang mension membukakan pintu gerbang.
ia tiba di depan pintu rumah dan segera dibukakan pintu oleh para pelayan.
Vio yang baru tiba di lantai bawah berpapasan dengan wanita yang baru saja masuk.
lihat pakaian dan gaya wanita ini, berapa uang yang ia habiskan untuk merombak tubuhnya, terlihat tak alami, masih mending pemilik tubuh ini, ia menjaga tubuhnya dengan baik. pikir Vio dalam hatinya sambil memperhatikan penampilan wanita itu
siapa wanita ini?dan apa keperluannya kemari, itu menjadi tanda tanya bagi Vio.
"Wow wow wow, nyonya yang tak pernah di anggap, akhirnya kita bertemu lagi, pantas saja pria yang menjadi suamimu itu tak mau menyentuhmu lihat saja penampilanmu yang kusam ini. Vio memperhatikan penampilannya dan menurutnya tidak ada yang salah dengan penampilannya.
"terakhir kali kita bertemu kamu sama menyedihkannya dengan ini, bahkan suamimu lebih memilih pergi denganku dari pada membantumu yang jatuh terkilir, kamu bahkan tidak dapat berkata kata, wah sungguh menyedihkannya." wanita itu tertawa lepas
pemilik tubuh yang Vio tempati saat ini tak bisa berkutik jika dihadapkan dengan suaminya, karena itulah wanita ****** didepannya ini memandangnya remeh.
"kamu tidak layak menjadi nyonya di rumah ini, aku yang lebih layak, pria yang menjadi suamimu selalu meminta kepuasan padaku, dan tentu nya itu karena ketidakbecusan wanita yang saat ini menjadi istrinya " ucapnya dengan percaya diri
"benarkah?, kasihan yah, nyatanya kamu hanya jadi ****** nya saja, perbanyaklah berdoa pada Tuhan agar ia mengabulkan keinginanmu . *****!" ucap Vio tak kalah sinisnya
para pelayan yang menyaksikan perdebatan keduanya hanya mampu diam tanpa ikut campur.
"apa katamu?"
"selain wanita ****** kamu ternyata tuli"
__________
Jangan lupa komen dan like nya yahh
agar author lebih semangat nulisnya
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
__ADS_1
Next.....