
Vio melihat kesibukan pagi hari yang ia perhatikan selalu terjadi di mansion ini, para pelayan yang sibuk membersihkan rumah dipimpin oleh kepala pelayan.
ia terus berpapasan dengan pelayan, tak lupa mereka yang selalu menunfuk hormat padanya.
tak terasa Vio sudah berada di rumah ini hampir 2 minggu lamanya, ia mencoba dekat dengan kepala pelayan ataupun para pelayan tapi nyata nya tidak bisa, jangankan berbicara santai dengannya ia bertanya mengenai nama mereka saja tidak pernah di beri tau, yang lalu Vio sempat menanyakan mengenai pemilik rubuh ini dan mereka menjawab tapi saat ini Vio tak dapat melihat mereka lagi, para pelayan yang berbicara dengannya sudah di ganti.
meskipun rencana pelariannya selalu gagal ia tetap tidak menyerah. mengetahui Vio yang selalu beralasan ingin keluar dari mansion Leonard memperketat penjagaan di mansion, semua yang keluar dan masuk mansion harus mendapat persetujuan Leonard.
ia bosan di kamar terus
Vio bosan dan mencoba mencari kesibukan, ia mendekati dapur yang sibuk dengan membuat sarapan.
"nyonya" ucap semua yang berada di dapur dengan sedikit kaget dengan keberadaannya
"ada yang bisa kami bantu? nyonya membutuhkan sesuatu?
"apa aku bisa membuat roti?"
"nyonya mau roti?, kami bisa membuatnya untuk nyonya ucap pria yang ia yakini sebagai kepala koki
"aku ingin membuatnya, aku bosan" ucap Vio.
mereka yang mendengar itu saling bertatapan, tidak biasa nyonyanya seperti ini, mereka sudah bekerja di sini sebelum nyonya mereka berada di sini dan tak pernah ada 1 momen nyonya mereka berada di dapur apalagi memasak.
"anggap saja aku tidak ada di sini, aku tidak akan menggangu kalian" ucapnya dengan senyuman
"maaf nona tidak bisa, itu akan membuat nyonya lelah" ucap kepala koki menunduk
" itu tidak akan membuatku lelah, hanya roti, kalian meremehkan ku" ucap Vio dengan menggulung bibirnya
"bukan begitu nyonya hany.."
"sudahlah jangan terlalu berlebihan, aku bisa mengurus diriku sendiri, aku akan berhenti jika sudah lelah"
mau tak mau kepala koki mengijinkan.
Vio dibantu 2 pelayan untuk membuat roti
"apakah ini terlalu sedikit?, aku rasa harus tambah lagi adonannya, kita punya banyak korang disini" para pelayan yang mendengar itu tersenyum dengan betapa baiknya nyonya mereka sekarang, mereka seperti melihat orang lain dalam diri nyonya mereka.
Vio ingin membuat roti yang mengingatkannya pada keluarganya, ia sekarang hanya bisa mengenang mereka lewat roti ini saja, Vio tidak yakin bahwa kehidupannya bersama keluarganya akan kembali, tubuhnya yang sebenarnya mungkin saat ini sudah membusuk. tanpa sadar air matanya menetes.
pelayan menanyakan kondisinya karena khawatir.
"nyonya, apa nyonya baik baik saja?"
"i'm ok, kita lanjutkan lagi" ucapnya dengan senyum uang sulit dibaca
__ADS_1
Vio kesusahan merobek plastik terigu dan tiba tiba seluruh dapur penuh dengan terigu yang berterbangan.
tak ada yang selamat dalam insiden terigu
uhuk uhuk uhuk Vio terbatuk batuk karena Vio yang paling terkena dampak
"maaf maafkan aku" Vio bahkan sampai terduduk di lantai karena kaget
pelayan yang melihat itu langsung ingin membantu Vio tapi malah terpeleset.
Vio melihat pantulan dirinya di dinding marmer dapur dan songak membuat Vio tertawa terbahak bahak melihat dari atas sampai bawah ia menjadi manusia putih
para pelayan yang melihat itu ikut tertawa lepas.
mereka yang tertawa tiba tiba menegang,
"tuan"
"apa yang kamu perbuat"
"memasak"
"hari pertamamu memasak, kamu membuat seluruh dapur berantakan"
"maaf untuk dapurmu"
"aku akan membersihkannya, biarkan aku menyelesaikannya,ini pasti akan enak" ucap Vio
terlihat semua yang berada di dapur bernafas lega, tak terkecuali Vio.
Vio mulai mengibaskan rambut wajah dan pakaiannya, pelayan pun mengambil penyedot debu, ia memilih untuk segera menyelesaikan roti buatannya.
dimeja makan Vio dan Leonard sudah duduk, Leonard masih tak habis pikir dengan wanita di sebelahnya yang masih terdapat terigu di badannya, ia duduk dengan santai dan memakan rotinya
"kamu mau? cobalah?"
"aku menyisakan untukmu"
"Vio mengambil roti dengan tangannya dan langsung memberikannya pada Leonard
"sisa?"
"hmm aku membuat banyak tapi sepertinya kamu tidak akan suka jadi dibagikan dengan pelayan dan pengawal ucap Vio tersenyum
Leonard mengambil piringnya yang sudah terdapat roti yang diberikan Vio dan melemparkannya tepat pada kepala pengawal.
ia langsung berdiri dan meninggalkan Vio yang dengan keterkejutannya.
Leonard sudah dengan pakaian formalnya turun dari tangga dan berpapasan dengan Vio.
__ADS_1
"kamu akan pergi?"
Vio tak mendapatkan balasan apapun dengan pertanyaannya, ia hanya di lewati saja
saat melewati Vio ponselnya berdering
siapkan pesawat, kita akan ke spanyol 3 hari.
Vio mendengar perkataan Leonard. ini kesempatannya. 3 hari waktu yang cukup untuk melarikan diri dari mansion ini, tapi uangnya bagaimana? ia tidak mempunya uang 1 sen pun. jangankan uang keluar dari sini saja tidak pernah diijinkan sekalipun.
ide cemerlang terlintas di kepalanya ia segera berlari mengejar Leonard dan ia mendapati Leonard baru mau menaiki mobilnya.
"aku butuh uang, berikan aku uang, aku istrimu jadi kamu harus membiayai keperluanku" ucap Vio sambil mengulurkan tangannya untuk meminta
Leonard merespon dengan mengangkat satu alisnya, apalagi yang wanita ini rencanaka
Leonard m
Leonard akan mengikuti alurnya.
Leonard memberikan kartu American Express dengan nama yang tertera Leonard Maxwel
Vio yang melihat dengan melongo yak lepas dari pandangan Leonard.
Vio yang sudah berhasil mendapatkan uang segera ia memulai aksi pelariannya.
pergi nya Leonard Vio mulai memesan secara online barang barang seperti Tas, pakaian, bahkan mobil,. itu semua bagian dari rencananya
barang barang yang dipesan Vio mulai berdatangan, bahkan mobilnya pun sudah datang, ia menyibukkan semua orang dengan barang barang pesanannya sementara ia saat ini sedang sembunyi sembunyi masuk ke salah satu mobil yang mengantar pesanannya. ia bersembunyi dengan baik di mobil. dan mobil pun sudah keluar dari area mansion.
ia senang akhirnya bisa bebas. mobil kini sudah terparkir dan ia sudah keluar dari mobil tanpa diketahui. ia menyusuri kota dengan tidak membawa uang cash sedikitpun, ia mencari atm untuk menarik uang untuk biaya nya ke Chicago,.
ia tiba di Chicago dengan hati yang riang, ia turun dari taksi dan melihat pemandangan uang tak asing, Jonathan yang kini sedang menggandeng tangan adiknya masuk ke toko, ia pun mengikutinya sampai di depan toko.
"mama, papa, tadi Vanessa diajak kak Jonathan pergi ke rumah nya untuk bertemu orang tuanya." ucap Vanessa riang
Jonathan tersenyum
Vio memperhatikan semuanya.
"cepatlah menikah, Viona yang ada di atas sana pasti bahagia melihat kalian berdua bersama"
"ayah dan ibu sudah merelakan Viona, mungkin ini yang terbaik untuknya, dia sekarang sudah bahagia dan tidak kesakitan lagi, tidak akan menangis diam diam karena menahan sakit, dan tidak akan pura pura kuat agar kita tidak khawatir"
"dia anak yang baik, riang dan kadang keras kepala, tapi dia selalu menjadi penyemangat dan penghibur dikala kita sedih , ia akan selalu menjadi cahaya di keluarga kita"
__ADS_1
"meskipun berat untuk merelakannya tapi percayalah Viona pasti bahagia bila kita bahagia walau kini tanpanya, mungkin ia sekarang memperhatikan kita walau dari jauh" ucap ayah Viona memeluk ibunya yang menangis, Vanessa menangis dan di tenangkan oleh Jonathan.