
ia memeriksa kontak yang ada di Handphone nya
ia kaget, satu satunya nomor Telephone yang ada di situ hanya tertulis Husband.
ia bahkan tidak mengetahui nomor ponsel ayah dan ibunya Jesseline,
dilain sisi, Leonard yang sedang ada pertemuan dengan salah satu rekan bisnis nya di Club miliknya mendapat Telephone dengan nama yang tertera yaitu Wife.
Leonard meletakan jari telunjuknya di bibirnya tanpa bersuara, mereka yang sementara berbicara pun segera menutup rapat bibirnya.
"ha halo apa kamu mendengar suaraku?" tanya seorang wanita yang berada smdi seberang Telephone
"bicaralah"
"tolong bantu aku, bisakah kamu pinjamkan aku uang?, ...aku pasti akan menggantinya, aku tidak tau kenapa kartuku tidak dapat digunakan padahal semalam bisa"
"bisa kamu kirim orang kemari?.aku mohon bantulah aku, aku tidak akan diijinkan keluar sebelum membayar." bujuknya dengan suara memelas
"katakan apa alasanku untuk membantumu"
"tentu saja kamu harus membantuku kamu suamiku, meskipun kamu tidak pernah menganggap ku" ucap Vio emosi
Leonard yang mendengar itu mengangkat alisnya dan sedikit berekspresi senyum.
"diamlah disitu"
tutt tutt
panggilan terputus sepihak
"dia mematikan telephone nya, dia menyuruhku diam disini apakah dia akan membantuku atau membiarkanku di tahan?... aaaa aku pusing"
Vio tersadarkan akan sesuatu
"wait, bukannya dia tadi tidak menanyakan lokasinya?... aaaa pria itu menelantarkan ku"
ia berjongkok sudah seperti gembel yang di tawan di toko branded
sudah setengah jam ia menunggu yang tak pasti, para pegawai toko menatapnya dengan sinis.
ia hampir menangis saat tiba tiba mendengar suara yang ia kenal, saking senangnya ia memeluknya, meskipun sesaat karna tersadar langsung di lepaskan.
"mm mengapa kamu yang datang? bukannya kamu sibuk?, kenapa bisa secepat ini sampainya?. tanya Vio bingung
ia hanya menatap Vio tanpa ekspresi, vio yang tersudut langsung bungkam dan menghindari kontak mata dengan Leonard.
telepon yang di berikan Mark pada Vio sudah di sadap, semua aktivitas yang Vio lakukan di telepon itu semuanya dalam pemantauan Leonard.
mengetahui Vio yang akan pergi ke Chicago Leonard langsung memerintahkan Mark agar menyiapkan Jet pribadinya, mereka akan mengadakan pertemuan dengan rekan bisnisnya.
Leonard bersama dengan Mark dan para pengawalnya yang kini sudah berpencar ke berbagai tempat.
melihat siapa yang datang sontak seluruh pegawai yang bekerja di store H kaget, siapa yang tidak mengenal pria ini.
Mark langsung mengurus pembayaran belanjaan Vio,
belum sempat Mark selesai Leonard membalikkan badan untuk pergi, Vio yang melihat itu langsung mengekor di belakang Leonard. sesampainya di parkiran Vio bingung akan belanjaannya, bagaimana dengan pelariannya?.dia harus memberikannya kepada keluarganya, tapi dilain sisi dia takut ketahuan. ini bukan salah Vio tapi dia memang tidak bisa berbuat apa apa. supir membukakan pintu untuk Leonard dan Vio, Leonard segera masuk tapi tidak dengan Vio. ia memikirkan alasan untuk tidak kembali bersama Leonard.
__ADS_1
"terima kasih sudah membantuku, aku pasti akan menggantinya, a aku masih punya urusan"
"aku belum bisa ikut", ucap pelan hampir tak terdengar"
mendengar itu Leonard yang awalnya bersandar menutup matanya kini terbuka
"masuk" 1 kata yang keluar dari mulut Leonard
"ta tapi aku harus menyelesaikan urusanku, aku janji tidak akan lama" ucapnya
Vio kaget Leonard tiba tiba keluar dari mobil dan berjalan mendekatinya. pada saat ia sampai tepat di depan Vio bunyi tembakan terdengar, Vio sontak berjongkok sambil berteriak kaget.
ia melihat bahwa badannya masih utuh tidak ada luka, ia menatap leonard dan berdiri,
salah satu pengawal terluka tepat di pundaknya
Vio pergi melihat keadaan pengawal yang kini sudah pucat menahan sakit
"kenapa kalian hanya diam saja?, cepat bawah ke dokter" ucap Vio emosi sekaligus panik, para pengawal melihat Leonard dan sepertinya tidak ada penolakan, akhirnya salah satu dari mereka membantu membopong temannya yang mungkin akan kehabisan darah.
"Vio dia memandang Leonard, ia berjalan melewati Leonard dan langsung masuk ke mobil disusul Leonard dan diikuti para pengawalnya,
mereka tiba di bandara, dan di arahkan ke area khusus,
akibat terlalu emosi Vio sampai tak memperhatikan kalau mobil yang mereka tumpangi berada di area lintasan pesawat.
hancur sudah semua rencananya,
Vio melihat kemewahan Jet pribadi itu, tapi tentu saja ia gengsi untuk mengutarakannya. di dalam Jet pribadi terdapat kamar tidur dan kursi sebanyak 18 buah, terdapat bar, dapur dan juga toilet.
Vio segera masuk ke kamar, ia sedih meninggalkan Chicago, ia melarikan diri dan tinggal disini, meskipun tak dapat tinggal dengan keluarganya karena tubuh ini tapi ia ingin tinggal berdekatan dengan mereka meskipun dengan identitas yang berbeda, ia bahkan belum bertemu dengan adiknya Vanessa dan juga Jonathan.
susah payah ia merencanakan semuanya tapi gagal, ia juga sudah meninggal di keluarganya mana mungkin ia mengaku sebagai Viona dengan tubuh yang berbeda, apakah ada orang yang akan percaya?.
karena kelelahan Vio tertidur.
mereka sudah sampai. Leonard mencoba membuka pintu kamar tapi nihil, Vio mengunci dirinya.
Dorrr..
Leonard menembak kunci pintu dan terbukalah pintu, ia dapat melihat perempuan itu berbaring dengan mata sembabnya, ia dapat melihat bahwa perempuan itu tertidur karena menangis, ia bahkan tidak terbangun saat Leonard menembak kunci pintu.
Vio merasakan tubuhnya bergerak, ia merasa aneh dan mencoba menyadarkan dirinya, aroma ini? ia membuka matanya mendadak. benar saja saat ini dia di gendong Leonard, mereka tepat di pintu pesawat,
"Lepas, lepaskan aku, aku bisa jalan, aku tidak lumpuh!" Vio protes, ia masih emosi dengan Leonard. teganya pria ini menggagalkan semua rencana yang ia buat.
"diam, atau saya lempar kamu kebawah"
Vio refleks langsung melingkarkan tangannya di leher Leonard, bagaimana tidak jarak dari pintu perawat dan lantai mungkin 4 atau 5 meter, memang ia tidak akan mati, tapi mungkin cacat.
Leonard memasukkan Vio ke mobil tanpa dibantah oleh Vio di perjalanan tak ada pembicaraan antara keduanya, Leonard sibuk dengan tab nya sedangkan Vio sibuk dengan isi kepalanya.
mereka sampai di rumah, para pelayan dan pengawal seperti biasa menyambut mereka,
Vio keluar bahkan sebelum pengawal membuka pintu, ia dengan berjalan cepat memasuki rumah meninggalkan Leonard, semua yang menyaksikan itu hanya bisa terdiam, Leonard pun tidak menghiraukan nya.
Vio yang sudah tiba di kamarnya mencoba memikirkan cara mendapatkan nomor Telephone Mark, ia ingin menanyakan barang barang yang ia beli, ia mondar mandir memikirkan caranya sambil menggigit kukunya.
__ADS_1
"aku harus tanya pada pelayan, aku tidak mungkin bertanya pada pria itu, dia pasti akan curiga dan berujung menggagalkan rencananya."
Vio mengintip keluar kamar, ia melihat Leonard yang akan memasuki kamarnya tak lupa 4 penjaga yang mengikutinya segera mengambil tempat masing masing di depan pintu kamarnya, Vio yang melihat pria itu sudah menghilang bergegas lari ke arah tangga untuk turun ke bawah, Vio tiba di lantai paling bawah dan segera menemui kepala pelayan, ia yakin kepala pelayan memiliki nomor Telephone Mark.
"permisi, apakah kamu memiliki nomor Telepon sekertaris Mark, tolong berikan padaku?" tanya Vio terburu buru
"maaf nyonya, saya tidak dapat memberikan nomornya karena saya juga tidak tau, kami hanya menghubungi tuan Mark lewat telepon rumah, nyonya tinggal menekan angka 1 dan memanggilnya"
"terima kasih" ucap Vio tersenyum melambai dan segera pergi mencari telepon rumah
"maafkan saya nyonya" ucap kepala pelayan pelan selepas melihat nyonyanya pergi
Vio sudah menemukan telepon rumah, ia segera menekan tombol sesuai dengan hang di katakan kepala pelayan
dan telepon pun berdering dan diangkat
"Mark dimana belanjaan ku, pastikan jangan ada yang tercecer, bisakah aku meminta bantuanmu?". berikan aku nomor teleponmu aku akan menghubungi mu
"aku akan membakarnya"
"what no..why..y" Vio menjauhkan telepon dari telinganya, suara berat khas dari seseorang yang sangat ia kenal
"Le leonard?, Vio kaget dan langsung menutup telepon ia kaget, bahkan air matanya tanpa sadar keluar, kenapa pria itu lagi, ia menyadari bahwa telah di bodohi kepala pelayan. ia bisa gila jika begini terus, ia memutuskan untuk kabur ke kandang kuda, padahal waktu sudah menunjukan pukul 07:20 malam, ia memutuskan untuk tidak makan malam.
ia menemui kudanya dan mencurahkan isi hatinya pada kuda itu, tidak ada yang bisa di ajak bicara di rumah besar itu, bahkan semua orang kecuali Leonard, selalu menjauhinya padahal rumah itu penuh dengan manusia tapi jangankan bicara menatap saja tidak ada yang berani, ia di perlakukan seperti nyonya yang harus di takuti seperti mereka menakuti Leonard. sedang asik dengan kudanya tiba tiba hujan lebat disertai petir mulai turun, sudah sepuluh menit ia menunggu tapi tak ada tanda hujan akan berhenti,.
Vio memutuskan untuk lari ke mansion tapi seperti yang di duga jaraknya tak sedekat yang ia perkirakan, ia sudah basah kuyup dan menggigil. begitu ia sampai di muka rumah, ia masuk dengan kondisi yang mengenaskan ia terlihat seperti gelandangan dengan baju basah dan kaki berlumpur, lampu sudah mati dan tersisa lampu malam, para pelayan sudah kembali ke paviliun sedangkan pengawal sanya tersisa yang berjaga di luar karena peraturan di mansion ini jam 10 malam tidak ada lagi yang dapat berkeliaran di dalam mansion tentu saja kecuali Leonard.
Vio mengendap endap masuk, naik dengan sedikit berlari ke lantai 3,.
baru ia akan membuka pintu tiba tiba ia di tarik disandarkan ke dinding.
"beberapa hari lalu kamu kembali penuh lumpur, sekarang kamu kembali penuh air hujan"
" bukan urusanmu, lepaskan aku" vio gugup
Leonard tiba tiba menciumnya dengan paksa, Vio berusaha melepaskan diri namun nihil, kekuatannya sama sekali tak sebanding dibandingkan Leonard. ia tiba tiba di pikul seperti karung beras dan di bawah masuk ke kamar Leonard, kamar yang asing tentu untuk Vio.
Vio dibanting ke tempat tidur
"apa yang mau kamu lakukan?"
"menagih kewajiban mu, yaitu hak ku"
"kamu pikir meskipun aku hilang ingatan aku tidak tau?, kita hanya suami istri kontrak kamu bahkan yang menulis kontraknya, kamu hanya tidur dengan ******" mu, kamu bahkan jijik saat melihatku apa lagi mau menyentuhku" Vio tanpa sengaja menemukan buku harian Jesseline. sewaktu ia menggeledah kamar Jesseline dia menemukannya.
"mungkin itu dulu, aku berubah pikiran" Leonard langsung merobek pakaian Vio dan melepaskannya tanpa meninggalkan sehelai benangpun, malam pun berlalu.
__________
Jangan lupa komen dan like nya yahh
agar author lebih semangat nulisnya
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Next.....