
Bukkk !
Suara pukulan yang sangat besar tentu saja terdengar, bahkan wajah Xu Yang sampai terdorong ke samping dengan sangat kuat. Karena dia menerima pukulan itu mewakili ibunya.
"Minggir !" Teriak Ayahnya dengan marah.
"Jangan membuat keributan disini. " Ucap Xu Yang dengan nada rendah.
"Sebentar lagi rumah ini akan ku berikan kepada istri baruku. " Balas Ayah Xu Yang.
Ayah Xu Yang bahkan menggunakan kata kata yang begitu formal yang menunjukkan bahwa tidak ada apapun yang tersisa di antara mereka.
"Jika ingin menikah lagi maka silakan saja, tapi jangan lupa, rumah ini atas nama Ibuku. Kamu tidak berhak atas apapun , apalagi memaksa untuk memberikannya kepada istri barumu. " Ucap Xu Yang dengan dingin.
"Kau ?! Berani beraninya menolak permintaanku ! Jangan lupakan bahwa Tuan Yue menitipkan mu padaku dan memintamu untuk melakukan apa yang aku minta !" Teriak Ayah Xu Yang pada Ibunya.
Ibunya adalah putri tunggal dari keturunan bangsawan sehingga tata krama nya sangat baik dan tidak terbiasa untuk melawan, dia hanya bisa menerima perlakuan dari suaminya selama ini.
Tapi, Xu Yang tidak rela, dia tidak mampu melihat semua ini.
"Apakah kamu melakukan apa yang dia minta ?! Kakek menitipkan ibu untuk kamu, tapi kamu tidak melakukannya dengan baik. " Bentak Xu Yang.
Ibunya menarik lengannya dan menandakan agar dia lebih sabar.
"Yang'er, dia adalah ayahmu. " Bisik Ibunya.
Xu Yang tidak menjawab dan hanya melirik ibunya dengan tatapan yang rumit.
"Aku bersedia untuk menyerahkan sebagian perusahaan asalkan kamu menyerahkan rumah ini dan tidak menganggu aku dan putraku lagi. " Ucap Ibu Xu Yang.
"Tidak, aku ingin seluruh perusahaan. " Balas Ayahnya.
Xu Yang berdiri di depan Ibunya dengan ekspresi dingin, bahkan jika bibirnya berdarah karena pukulan tadi masih tidak membuatnya gentar.
__ADS_1
"Jika kamu tidak setuju maka kamu bisa pergi. " Ucap Xu Yang.
Ayahnya menatapnya dengan kesal dan ingin memukulnya lagi tapi kali ini dia sudah siap dan menahan tangan Ayahnya lalu mendorong pria itu ke belakang.
"Pergi ! " Perintah Xu Yang.
Ayahnya mendengus kesal sebelum akhirnya menarik wanita cantik itu untuk pergi bersama dengannya dari rumah mewah itu.
Xu Yang memastikan bahwa Ayahnya benar benar pergi sebelum akhirnya kembali untuk memeriksa keadaan Ibunya.
"Ibu baik baik saja ? Maaf aku terlambat tiba. " Ucap Xu Yang dengan penyesalan.
"Baik baik saja, tenang saja. Ibu melihat bahwa kamu sangat bahagia tadi pagi, apakah kamu bertemu dengan kekasihmu hari ini ?" Tanya Ibu Xu Yang.
Ibu Xu Yang mengelus kepala putranya dan merasa sedih karena luka yang ada di wajah Xu Yang. Bibirnya masih berdarah sampai saat ini.
"Tidak, tapi segera. Semoga aku dan dia akan bisa cepat menjadi kekasih. " Ucap Xu Yang dengan antusias.
"Apakah masih sangat sakit ? Ibu akan memanggil dokter. " Balas Ibunya dengan khawatir.
"He he he, luka kecil seperti ini tidak akan bisa membuatku sakit. Yang penting ibu Baik baik saja maka aku juga akan merasa baik. " Ucap Xu Yang dengan tawa bahagia.
Ibunya masih merasa sangat khawatir padanya tapi Xu Yang berulang kali meyakinkan kepada Ibunya bahwa dia baik baik saja dan dia akan secara alami sembuh dengan luka kecil ini.
Xu Yang mengantar Ibunya kembali ke kamar dan menghidupkan wewangian ruangan yang mampu menenangkan tubuh dan pikiran.
Xu Yang mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur lalu menyelimuti tubuh Ibunya dengan hati hati seolah olah dia sedang memegang porselen.
Xu Yang juga memijat dibagian telapak kaki dan kepala Ibunya untuk memastikan bahwa Ibunya merasa nyaman.
"Tidur yang nyenyak, Ibu. " Ucap Xu Yang dengan lembut sebelum akhirnya berjalan keluar.
Xu Yang duduk di balkon kamarnya dan mengambil gitarnya lalu mulai memainkan nada acak yang ingin dimainkan olehnya.
__ADS_1
Dia merasa agak sakit dibagian lukanya dan memutuskan untuk menempelkan plester di bagian dekat bibirnya.
Setelah itu, dia kembali duduk di balkon dan melihat pemandangan bulan yang sangat terang malam ini. Memikirkan jalan jalannya pagi ini membuat suasana hatinya menjadi sedikit lebih baik.
Melihat senyum tulus dari wajah gadis yang dicintainya tentu saja adalah hal yang paling membahagiakan bagi dirinya.
Sebentar lagi akan ada pertandingan lagi antar sekolah, pilihannya hanya dua, apakah dia yang akan terpilih atau kelompok Zhou Meng yang terpilih.
Jika dia terpilih maka itu adalah hal yang sangat membahagiakan. Mereka tidak akan pernah digabungkan karena mereka seperti air dan api, mereka juga memiliki kelompok masing masing.
Sulit bagi sekolah untuk menggabungkan kedua kelompok itu, sehingga Sekolah hanya bisa mempertandingkan kedua kelompok itu untuk memutuskan yang mana yang akan dipilih untuk mengikuti lomba.
Seandainya kelompoknya bisa lolos maka itu adalah hal yang sangat membuatnya bahagia. Mereka bukan kelompok yang buruk hanya saja seringkali mereka kalah dengan kelompok Zhou Meng hanya dengan beberapa poin ketinggalan.
Disisi lain, Qian Yueyue yang sudah selesai menyeka air matanya , memutuskan untuk duduk di balkon nya dan memandang bulan purnama hari ini.
Tanpa disadari, pada saat ini, Qian Yueyue dan Xu Yang melakukan tindakan yang sama hanya saja dari tempat yang berbeda.
Qian Yueyue berpikir, seandainya dia bertemu dengan Xu Yang terlebih dahulu sebelum dia bertemu dengan Zhou Meng. Apakah mungkin dia bisa menyukai Xu Yang dan tidak menyukai Zhou Meng ?
Menurut Qian Yueyue, keterlibatan Zhou Meng di dalam hidupnya sangatlah besar dan ketika mereka hampir tidak terlibat satu sama lain membuat dirinya merasa hampa.
Qian Yueyue menghela nafas berulang kali dan merasa kedinginan tapi dia masih enggan untuk berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Angin malam buruk untuk kesehatan tapi menurutnya itu bisa menenangkan pikirannya , esok hari dia sudah harus bersekolah yang berarti dia harus bertemu lagi dengan Zhou Meng.
Dengan kondisi mereka terakhir maka mereka jatuh ke dalam posisi yang canggung satu sama lain.
Qian Yueyue merasa menyesal karena telah mengatakan kata kata tadi tapi pada saat yang sama juga tidak menyesal, karena pada akhirnya dia telah mengatakan apa yang ingin di pendam olehnya.
Zhou Meng selalu menjadi orang yang pendiam dan melakukan sesuatu dengan tindakan, itu adalah Qian Yueyue yang selalu mengejarnya dan mengajaknya untuk melakukan sesuatu.
Selalu Qian Yueyue yang memulai percakapan atau mengajak sesuatu, jika Qian Yueyue tidak melakukannya maka Zhou Meng juga tidak akan melakukannya.
__ADS_1
Qian Yueyue merasa pusing dengan pikirannya sendiri sehingga dia memijat dahinya dengan perlahan lahan.