
"PLEASE, berhenti."
Stefi memejamkan mata saat pria inu bermain di bagian bawah tubuhnya. Jari-jarinya begitu lihai mengusap dan mengelus kulitnya, membuat napas Stefi kian memburu. Tubuhnya terasa panas.
"Please, stop."
Sejujurnya, Stefi tengah merasakan pergolakan batin luar biasa. Di satu sisi, ia begitu mendambakan sebuah sentuhan yang bisa meredam kobaran api yang tengah membakar gairahnya. Namun, di sisi lain, akal sehatnya masih tersisa cukup banyak untuk menghalau setiap kemungkinan yang bisa saja terjadi jika ia terpaksa harus pasrah.
Stefi meraih tangan pria itu, lalu mencoba menjauhkannya, dan berhasil. Napasnya tersengal-sengal, matanya kembali terbuka. Saat itu ia berhasil melihat wajah pria yang bahkan tak ia ketahui namanya.
"Siapa bilang gue udah selesai?"
Stefi terbelalak melihat pria yang kini tengah berlutut tepat di depannya dan menyerukkan wajahnya di bagian bawah sana. "Lo.... apa yang lo....please.... stop.
__ADS_1
Stefi meraih bahu pria itu dan memegangnya erat. Napasnya memburu. Pria itu berhenti sejenak untuk menatap dan mendongak ke arah Stefi. Gairahnya kian meledak-ledak saat memandang ekspresi wanita di atasnya yang terlihat begitu menikmati permainannya.
"Sekarang giliran lo yang muasin gue, ucap pria itu sambil menjatuhkan Stefi di atas tempat tidur.
Stefi berusaha mundur. Namun, percuma saja, pria itu sudah berada di atasnya dan langsung menciumnya liar. Stefi kembali merasakan tubuhnya meremang saat tangan pria itu mulai menyentuh setiap jengkal tubuhnya. Semua yang menutupi tubuhnya pun sudah terlepas dan kini ia sudah tidak memakai sehelai kain pun.
"Lo seksi, Babe."
"Lo harus ngerasain. Kulit lo malah kerasa manis di lidah gue." Stefi tidak menjawab dan semakin bergerak gelisah. Tiba-tiba Stef merasakan sebuah benda keras menyentuh pahanya. Bahkan kakinya juga sudah terbuka lebar.
"Percaya. Buka lebar kaki lo, dan lo akan tahu apa yang bakal gue lakuin."
Saat itu juga, pria itu memasukkan miliknya ke dalam tubuh Stefi, membuat wanita itu mengejang. Apalagi, saat pria itu mulai bergerak. Stefi memekik tertahan. la tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Rasa perih menghunjamnya, namun kenikmatan juga tidak bisa ia abaikan.
__ADS_1
"Please, terus.... jangan berhenti."
Pria itu menyeringai mendengar ucapan wanita di bawahnya. Ditariknya tubuh Stefi, lalu kini tubuh wanita itu sudah berada di atasnya. Tidak lupa, ia meraih wajah Stefi dan menciumnya ganas sembari terus bergerak sesuai irama.
"Lo hebat. Babe. Gue mau ngerasain lo lagi sepanjang malam ini." Stefi tidak menjawab. Kepalanya terasa berat. Yang ia ingat hanyalah pria itu yang bergerak makin liar di dalamnya. Namun, tiba tiba pria itu mengubah posisinya menjadi duduk dengan Stefi yang masih berada di pangkuannya.
"Kita gerak sama-sama," bisiknya sensual dengan mata yang sudah mengabur akibat birahi yang memuncak. Keduanya pun terus bergerak bersama dengan berulang kali mendesah penuh kenikmatan. "You're amazing. I'm addicted."
Pria itu merasakan napasnya memburu. Wanita yang berada di pelukannya ini benar-benar luar biasa. Untuk beberapa saat, ia tampak amatir. Namun, di beberapa kesempatan, wanita ini bisa membuatnya mengeluarkan ******* penuh kenikmatan.
Mereka berdua berhasil merasakan puncak kenikmatan dalam waktu hampir bersamaan. Perlahan, pria itu meraih tubuh sang wanita, lalu memeluknya.
"Next time, gue gak mau pakai ******," bisiknya pelan.
__ADS_1