
Satu hari setelah kejadian ...
STEFI sudah siap dengan setelan kerjanya. Namun, saat baru keluar dari kamar, ******* Laras kembali menemuinya. Kadang Stefi heran, apakah Laras dan Bram selalu berc*nta? Mereka selalu berisik. Stefi berdehem. la teringat kejadian kemarin malam, saat ia menyerahkan keperawanannya begitu saja pada pria tak dikenal. Ia begitu syak saat pagi harinya ia terbangun di salah satu kamar dengan kondisi tanpa menggunakan sehelai benang apa pun. Oleh karena itu, tanpa menunggu, dirinya langsung pergi dari tempat itu.
Saat ini, Stefi ingin berangkat kerja. Namun, ia bingung bagaimana harus berpamitan pada Laras yang tengah sibuk di dalam kamar sana. Pada akhirnya, Stefi memilih untuk mengirim pesan saja. "Stef, udah mau pergi?"
Stefi berhenti saat melewati kamar Laras. la tidak berbalik badan. Sepertinya, Laras melihatnya yang lewat dari celah pintu yang sedikit terbuka.
"Iya, Mbak. Aku pergi kerja, ya." Stefi pun langsung membuka pintu cepat dan keluar. Sepertinya, ia harus segera pindah dari sini.
Remi turun dari mobilnya dan segera memasuki gedung kantor. Wajah pria itu tampak suntuk. Pikirannya masih terganggu akibat menghilangnya wanita yang sudah mengambil keperjakaannya malam itu. Remi pun sadar, jika ia juga telah mengambil keperawanan wanita tersebut. Namun, tetap saja Remi merasa badmood.
Saat tiba di ruangan, Remi langsung duduk. Setumpukan pekerjaan sudah menantinya. Terdengar ketukan di pintu.
"Masuk."
Remi mendongak saat suara pintu yang terbuka terdengar. Dari balik sana sekretarisnya yang seksi pun masuk. Remi tersenyum, entah kenapa dirinya selalu geli jika melihat para wanita yang sering kali terang-terangan menggodanya. Tak terkecuali sekretarisnya ini.
"Selamat pagi, Pak. Pegawai baru rekrutan gelombang pertama kemarin sudah mulai bekerja hari ini. Ini data para pegawai tersebut." Sekretarisnya itu membungkuk begitu rendah saat memberikan map hitam itu padanya. Remi pun bisa begitu jelas melihat belahan dada nan bulat itu. Remi tersenyum. Kalau saja mood-nya tidak buruk hari ini, mungkin akan diladeninya wanita yang terang-terangan sudah siap mengangkang untuknya ini.
Remi membaca beberapa data di sana. Namun, lembaran itu berhenti di salah satu data seorang pegawai yang begitu menyita perhatiannya. Remi yang mulanya tampak santai dengan posisi duduk bersandar, kini tiba-tiba langsung menegakkan posisi duduknya. Matanya dengan lekat memandangi data diri beserta foto pegawai baru di hadapannya sekarang. Tiba-tiba Remi tertawa pelan. Bahkan, sang sekretaris tampak
bingung dengan perubahan sikap sang atasan. Remi menutup map itu segera. Kepalanya langsung mendongak kembali menatap sang sekretaris.
Ah, perasaannya tiba-tiba kembali membaik.
"Suruh pegawai ini datang ke ruangan saya. Segera." Mendengar perintah sang atasan, entah kenapa sekretaris itu tidak bisa menahan perasaan kesalnya. Tentu saja ia tahu apa yang akan dilakukan bosnya yang terkenal playboy itu. Apalagi menurut pengamatannya, pegawai yang dimaksud lumayan cantik. Dengan berat hati, ia pun mengangguk.
__ADS_1
"Baik, Pak."
********
"Permisi. Pak."
Stefi masuk ke dalam ruangan yang dituntun oleh sekretaris bos utama. Menurut informasi, bos utama ingin bertemu dengannya. Kursi itu berbalik padanya, menampakkan seorang pria yang bisa dibilang mungkin lebih tua beberapa tahun saja darinya.
"Hai, long time no see, Babe. Ingat gue?"
Stefi tertegun. Suara ini....
"Masih belum ingat, hmm?
Stefi tidak sadar jika bosnya sudah berada di depannya. Bahkan,jaraknya terlalu dekat.
"Sa... saya pegawai bar—"
Remi tidak peduli apa yang diucapkan Stefi. la hanya ingin membahas insiden wanita itu yang malah kabur setelah kejadian mereka bercinta. Ah, membayangkan kejadian malam itu membuat kejantanannya berkedut minta dilepaskan. Apalagi wanita yang sangat menggodanya sudah berada di hadapannya. Kenapa dengan wanita ini. Ia tidak terlalu seksi, tidak pula begitu cantik, bahkan wanita-wanita Remi yang lainnya lebih segala-galanya.
"Saya tidak ingat."
"Really?"
Stefi mundur menjauh. Namun, sang atasan justru semakin mendekatkan diri.
"Lalu, lo keluar dari kamar kemarin, gak sadarkan diri?" "Saya... tidak ingat."
__ADS_1
Ternyata Stefi masih keras kepala. Remi meraih pinggang wanita itu dan membawanya merapat pada tubuhnya.Tubuh Stefi menegang. Entah kenapa, ia bisa merasakan percikan-percikan tak kasat mata antara dirinya dan pria ini.
"Minta diingetin ternyata, gak masalah. Dengan senang hati."
Setelah itu, Remi langsung membungkam bibir Stefi. Dilu*atnya beringas benda kenyal itu. Lid*hnya pun sudah bermain di sana. Stefi terkesiap dengan serangan mendadak. Tentu saja ia ingat pria yang tengah menci*mnya ini. Tapi, ia terlalu malu untuk mengakuinya. Terlebih saat menyadari, jika pria itu adalah atasannya di kantor ini. Bersikap tidak tahu menahu menurutnya pilihan yang tepat. Stefi mend*sah di antara luma*tan. Tangannya terangkat mencari telapak tangan Remi yang sudah masuk ke dalam roknya, meremas bok*ngnya dengan begitu nakal.
"Yakin mau berdiri?"
Stefi tidak bersuara. Tangan Remi yang telah terlepas dari bok*ngnya pun berpindah di pinggangnya. Stefi merasakan tubuhnya diputar menghadap dinding. Kec*pan halus dan nakal terasa di lehernya. Stefi ingin menghentikan kegiatan mereka, tapi tubuhnya sangat mendambakan sent*han Remi.
"Jangan, Pak."
Stefi mend*sah lirih saat gigitan halus mendarat di telinganya.
"What? Lo mau gue berhenti?"
Stefi kembali mel*nguh.
"Gue selalu mikirin lo sejak malam itu. Tapi, lo malah kabur begitu aja. Gue tersinggung."
Remi langsung menyeret Stefi ke dalam ruangan kecil yang ada di dalam ruangan itu. Sebuah sofa dan meja terdapat di sana. Apa ini macam ruang rahasia? Ruangan untuk hal seperti sekarang?
"Gue mau balas dendam. Gue mau lo tahu seberapa frustrasinya gue sejak malam itu."
Stefi bisa merasakan bibirnya kembali dibungkam dengan panas dan keras. Ia terus mencoba untuk melepaskan diri. Tapi, lagi lagi ia tidak mengerti ada apa dengannya. Pria ini benar-benar bisa membuatnya menyerah dengan mudah. Sejujurnya. Stefi bukanlah wanita yang penurut. Dirinya adalah tipe wanita yang lumayan keras kepala.
Seketika Stefi tersentak. Ya, benar, ia bukanlah tipe penurut, ia keras kepala. Diperlakukan seperti ini oleh seorang pria tak dikenal meski itu adalah atasannya merupakan hal yang tidak bisa ia biarkan. Mungkin malam itu Stefi bisa kalah karena pengaruh alkohol, tapi ini ia tidak akan kalah. Apalagi dengan kondisi yang sepenuhnya sadar Stefi merasakan tubuhnya dibawa mundur. Dengan kondisi bibir yang masih berc*mbu, Stefi mengangkat satu tungkai kakinya. Dengan sekali sentak, Stefi melayangkannya ke bagian bawah tubuh sosok di depannya. Mata Stefi membulat melihat bagaimana pria itu ambruk di depannya.
__ADS_1
Oke Selamat datang surat pemecatan.
********