
STEFI duduk bersila di kamarnya. Di hadapannya sudah ada beberapa kertas, pena, dan kalkulator. Sesekali, wanita ina menggulir kan layar ponselnya, melihat beberapa iklan hunian. Tidak hanya be berapa iklan kunian, dirinya juga sibuk mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan baru. Sejak kejadian dirinya yang menendang aset atasannya tempo hari, Stefi bergegas mencari informasi mengenai lowongan pekerjaan. Stefi sadar, lambat laun dirinysy pasti akan segera mendapatkan surat pemecatan. Tapi, hingga hari ini, di mana sudah lewat satu minggu sejak kejadian, Stefi belum juga mendapatkan surat pemecatan ataupun
telepon yang memberitahunya untuk segera angkat kaki dari kantor. Padahal, Stefi sudah benar-benar siap. Bahkan, dalam seminggu ini, ia sudah berulang kali mengabaikan perintah atasan ca*ul itu untuk menemuinya lagi ke ruangannya. Menurut Stefi, la sebentar lagi juga akan dipecat, jadi tidak masalah mengabaikan perintah. Lagi pula, ia masih kesal setengah mati dengan pria itu. Itu untuk permasalahan di kantor. Berbeda lagi dengan permasalahan tempat tinggal. Iya, Stefi sedang mencari informasi untuk tempat tinggal barunya juga. Saat ini, la tengah menghitung dana tabungan yang ia punya. la tidak sanggup berlama-lama tinggal bersama Laras. Memang Laras tidak terganggu, tapi tetap saja stefi tidak tahan saat mendengar suara-suara aneh selalu terdengar dari kamar sepupunya itu. Saat dirinya sedang fokus, tiba-tiba sebuah chat masuk. Stefi pun dengan cepat mengeceknya.
Ini nomor gue, save.
Remi
Mata Stefi melotot. Diabaikannya chat itu, berusaha kembali fokus memencet angka di kalkulator. Remi itu playboy, penjahat kel*min, suka berpetualang dari satu Selan*kangan ke Selan*kangan lain. Setidaknya, itu yang Stefi dapatkan dari gosip selama di kantor.
Stefi memejamkan mata. Kepalanya kembali terasa pusing jika mengingat dirinya pernah melakukan s*x dengan Remi. Ditambah ciuman yang hampir membuatnya lupa diri tempo hari. Untung saja saat itu dirinya masih disadarkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Tiba-tiba Stefi sadar akan sesuatu. Diraihnya ponsel dan membuka chat room antara dirinya dan Remi. Dirinya benar-benar ingin bertanya kapan surat pemecatannya keluar. Tapi, belum selesai ia mengetik chat lain masuk untuknya dari Remi.
Jangan tunggu surat pemecatan. Gue nggak akan mecat Lo.
Stefi menganga membaca isi chat itu. Tanpa disuruh pria itu malah memberikan jawabannya sendiri atas apa yang sangat ingin Stefi ketahui selama beberapa hari belakangan. Stefi bingung bukan main saat Remi bilang tidak akan memecatnya. Lantas, apa yang harus dilakukannya? Apa ia berhenti bekerja saja? Tapi pekerjaan ini sangat potensial. Menjadi pegawai di perusahaan besar bukanlah hal yang mudah. Namun, jika ia harus bertahan, tidak menutup kemungkinan ia akan benar-benar berakhir sebagai budak s*x pria itu.
Stefi merinding memikirkannya. Ia harus berbicara serius dengan pria itu. Hubungan mereka tidak sehat. Mereka baru dua kali bertemu, namun sudah satu kali melakukan hubungan badan dan berc*mbu. Pria itu harus mengerti. Kalau tidak, mungkin tidak ada pilihan lain selain benar-benar berhenti.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Sementara itu, disebuah tempat hiburan mewah. Remi menegak minumannya dalam sekali teguk. Pria itu kembali mengecek ponselnya dan tidak ada balasan dari Stefi. Ia mendesis kesal. Sudah lewat seminggu sejak terakhir kali mereka ber*inta. Stefi berhasil menghindarinya. Wanita itu selalu mempunyai berbagai macam alasan untuk jauh-jauh darinya.
“Hai, sendirian aja, Rem?"
Sebuah tangan halus dan lentik menyusup ke dadanya.
Remi menoleh sejenak ke belakang, seorang wanita seksi mendekapnya dari belakang.
“Lo kira aja gue sendirian gak sekarang?" Remi menjawab sewot. Ia lagu kesal karena Stefi.
“Badmood, hmm? Perlu dihibur gak?"Remi melirik Sita- nama wanita itu.
“Lo bisa apa ngehibur gue?"
“No, Ta." Remi langsung memundurkan wajah saat tangan Sita sudah merambat menuju bawah celananya.
“Why Rem? Lo gak percaya sama kemampuan gue?" Remi menggeleng. Ia sedang tidak ingin membuka celananya untuk wanita manapun saat ini.
“No. Gue mau pulang."
“What? Ini baru jam Sembilan, Rem. Demi tuhan. Pulang? Lo mau ngapain di rumah, hah?" Sita langsung bangkit dan berdiri dari pangkuan Remi.
__ADS_1
“Lo gak lagi sakit kan, Rem? HIV?"
Mata Remi melotot. Sembarangan! Bahkan ia baru beberapa Minggu ini melepas keperjakaan.
“Ngasal Lo! Udah, gue mau pulang." Remi bangkit dari kursi dan berjalan keluar. Saat berjalan menuju mobil, pria itu menyempatkan diri melirik ke Selan*kangannya. Sudah satu Minggu benda itu tidak dijamah oleh siapapun.
Ah, masa ia harus main solo lagi? Masalahnya, ia tidak mau wanita lain memuaskannya. Ia hanya mau Stefi. Remi benar-benar sudah di ujung tanduk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi harinya, Stefi bekerja dengan normal. Remi tidak lagi mencari-carinya, meski masih suka mengiriminya chat. Tapi, tidak masalah selama Stefi tidak membalasnya. Saat ini, ia sudah mendapat tamu bulanannya, membuat Stefi bahagia sekali. Ia tidak tahu malam itu Remi menggunakan pengaman atau tidak, namun berhubung datang bulannya sudah tiba, setidaknya Stefi yakin jika kehamilan tidak akan menghampirinya karena satu kali insiden itu.
Ketika Stefi duduk di meja kerjanya, sebuah kesan baru masuk dari agen hunian yang beberapa hari ini ia hubungi. Ia mendapat sebuah hunian layak dengan harga murah. Bisa dicicil hingga dua tahun, bahkan yang mukanya pun tidak terlalu besar. Stefi langsung berminat.
“Halo. Iya, Mas?"
“Dengan Ibu Stefi? Kalau Ibu berminat, silahkan datang ke kantor kami. Kontrakannya sudah siap. Jika Ibu sudah tanda tangan dan langsung membayar uang muka, keesokan harinya Ibu sudah bisa langsung menempati."
“Setelah jam makan siang bagaimana, Mas? Saya nanti ke kantor, Mas."
“Tentu, boleh."
__ADS_1
Stefi pun menutup sambungan telepon dengan wajah bahagia. Akhirnya, ia pindah juga. Sekarang ia bisa tidur nyenyak tanpa suara Laras yang sedang melakukan hal cabul bersama Bram.