THE BOSS ON MY BED

THE BOSS ON MY BED
5.


__ADS_3

REMI rensenyum penuh maksud saat membaca dokumen mengenai data diri milik Stefi. Mungkin memang dalam satu minggu ini wanita ini bisa melarikan diri darinya. Tapi, jangan anggap enteng sikap diam Remi selama ini. Selama pekan sunyi yang Remi alami, dengan semua akses beserta koneksi yang ia miliki, tidak akan sulit untuknya memperhatikan gerak gerik Stefi ataupun mengetahui data diri milik wanita itu.


Menurut dari data yang ia baca, Stefi merupakan gadis yang pintar. Nilai ijazahnya tinggi. Semasa kuliah, wanita itu akif mengikuti berbagai lomba hingga tingkat nasional mewakili almamaternya.


Ah, Remi sangat menyukai gadis pintar. Apa lagi yang kurang dari wanita itu? Pintar di akademis dan pintar menyenangkan nya.


Sialan. Memikirkannya saja sudah membuat juniornya menegang “Ntar ya, Bro. Bentar lagi kita ada yang ngelus. Tenang, gak lama." Remi mengelur-elus adik-nya ina. Tiba-tiba senyum licik muncul dari bibir Remi. Ia teringat akan kontrak apartemen yang ia sabotase guna memancing Stefi. Tidak lama lagi, Stefi akan benar-benar menjadi miliknya. Stefi ingat sekali bagaimana wajah murung Laras saat ia berpamitan untuk pindah. Sepupunya itu tampak berat hati membiarkannya pergi. Tapi, mohon maaf saja, ia masih memiliki akal sehat untuk tidak terjebak dalam sebuah ruangan di mana ada dua muda-mudi yang saling bercinta. Dan, di sinilah Stefi sekarang. Setelah kemarin menyelesaikan masalah penandatanganan kontrak dengan pihak penyedia, hari ini ia memutuskan untuk pindah. Pas sekali ini hari minggu.


Stefi menggeret kopernya dan berhenti sepat di depan sebuah pintu. Dengan kode pintu yang ia dapat, akhirnya ia pun berjalan masuk. Mungkin nanti akan la setting ulang kode keamanannya.


Hal pertama yang Stefi lihat adalah gelap. Ruangan itu sepi, tentu saja karena Stefi akan tinggal sendirian. Stefi pun mencari sakelar dan segera menyalakan lampu. la cukup terperangah melihat beberapa perabotan yang sudah tersedia. Memang pihak penyedia berkata jika perabotan yang ada adalah bekas dari penyewa sebelumnya yang sudah pindah. Tapi, Stefi tidak rahu kalau perabotan itu terlihat masih sangat bagus. Saat Stefi tengah serius memperhatikan setiap titik sudut ruangan tersebut, tiba-tiba sebuah suara mengagetkannya.


"Gimana! Suka?” Stefi languang berbalik dan memekik kaget. Matanya bahkan hampir keluar saat melihat kehadiran pria cabul yang sudah beberapa hari ini ia hindari.


"Hei, ekspresi lo bikin tersinggung, biasanga kalau cewek liat gue awaannya mau langsung buka baju sambil melorotin celana. Ini lo kayak lihat hantu."


"Kenapa kamu bisa di sini!" Stefi langsung bertanya. Ia tidak mungkin salah mengenali. Siapa lagi pria cabul yang gemar berbicara cabul selain Remi, atasannya yang entah kenapa sama sekali tidak pernah bersikap selayaknya atasan terhadapnya.


"Gue? Mulai hari ini gue tinggal di sini. Mohon bantuannya." Ekspresi Stefi makin horor saja mendengar ucapan Remi sedangkan pria itu tampak santai duduk di atas sofa.


“Saya nggak pernah setuju tinggal sama kamu!"


Remi meringis mendengar suara Stefi yang meninggi "Kontraknya udah resmi. Kalau lo batalin, nanti lo dituntut bayar denda, mau? Miskin deh nanti. Mending diem kel*nan sama gue di sini. Enak.


Remi ingin tertawa melihat ekspresi Stefi. Pria itu menyodorkan kontrak yang ia bawa ke atas meja, meminta Stefi untuk mengeceknya. "Baca, lo yang tanda tangan."


Stefi segera berjalan mengambil kontrak tersebut dan kembali menjauh dari Remi. la harus tetap menjaga jarak dengan pria itu. Stefi pun membaca serius ini kontrak, tanpa menyadari mata Remi yang tidak bisa lepas memandangi Stefi. Senyum cabulnya terbit memandangi tubuh aduhai wanita itu. Adik-nya pun mulai berdenyut-denyut minta dibelai


"Ini penipuan!"


Khayalan cabul Remi langsung buyar saat suara Stefi kembali menggelegar.


"Ini tanda tangan lo, penipuan apanya?"


"Kemarin, mereka gak bilang harus berbagi apartemen dengan orang asing, apalagi kamu"


"Kan, kemarin. Sekarang ada, sah. Buktinya, ini gue lagi leyeh-leyeh di sofa."


Stefi megap-megap melihat sikap Remi "Makanya, kalau tanda tangan itu dibaca lagi kontraknya. Kena tipu, kan?" Remi sok menasihati, tidak sadar kalau penipunya itu adalah ia sendiri.

__ADS_1


"Saya gak mau tinggal sama kamu!"


Tiba-tiba tubuh Stefi terduduk di lantai. Wanita itu menutup wajah. Ia menangis. Remi pun langsung berdiri.


"Eh...jangan nangis.” Remi mondar-mandir kebingungan.


"Kamu pasti mau ngapa ngapain saya. Kamu pasti mau bersikap cabul sama saya kalau tinggal bersama."


Remi terperangah. Niatnya sejelas ini kah bisa dibaca oleh Stefi?


Stefi melepas tangannya yang sedari tadi menutupi wajahnya.


"Saya gak mungkin mau mesum sama kamu"


"Iya, iya, gak mungkin. Udah, jangan nangis lagi."


Remi menepuk punggung Seefi mencoba menenangkan. Tapi lama-kelamaan tangan itu justru turun hingga ke bawah.


"Tangan kamu jangan macam-macam."


Stefi mendelik tajam, membuat Remi cuma nyengir dan kembali menaikkan tangannya menepuk punggung Stefi


"Saya beneran bakal tinggal sama kamu?"


Stefi berbicara masih dengan posisi duduk di lantai dan Remi yang menepuk punggungnya.


"Gak bisa dibatalin lagi? Kamu kan kaya, tinggal di mana aja bisa"


"Gak bisa. Gue udah gak bisa nahan."


"Nahan apa!"


"Yakin mau dijawab? Atau lo pura-para gak tahu?" Stefi masih bingung Tapi, ketika melihat senyum cabul Remi, ia pun mulai paham apa yang tidak bisa ditahan lagi oleh pria itu.


"Kamu gak malu!" Tiba-tiba Sefi bertanya.


"Malu? Malu kenapa?"


"Saya ini orang asing. Kamu gak mala bahas masalah begituan di depan saya?!"

__ADS_1


"Ngapain mau sama lo, yang telanjang kan bukan cuma gue doang. Lo juga. Atau, lo mau reka ulang Boleh, nih, mau yang di kelab apa di kantor!" Stefi menyesal sudah bertanya. Pria ini sudah tidak punya malu lagi!


Mulut Stefi tidak berhenti mengomel. Saat ini la sedang menyapu lantai apartemen. Meski ruangan ini mewah dan perabotannya sangat layak, tapi tetap saja sudah lama tidak dihuni. Masalahnya, ia bukan mengocehkan ajang bersih-bersihnya, melainkan karena Remi yang sedari tadi memandanginya dari atas sofa sambil tersenyum-senyum. Dari senyumnya saja Stefi sudah tahu kalau pria itu pasti sedang memikirkan hal jorok


"Kamu bantuin, dong Jangan duduk ajal Sebenarnya, Stefi tidak masalah jika pria itu tidak membantu asal ia berhenti memandanginya dengan wajah mesum seperti sekarang.


"Boleh, tapi ada imbalannya,"


"Kamu mau apa emangnya?"


Mungkin aku bisa menyegak Remi dengan makanan batin Stefi yang begitu polos.


"Tapi, imbalannyaimbalannya Tiba-tiba Remi sudah berdiri di belakangnya. Pria itu berbisik tepat di telinganya. Stefi pun merasa merinding sekaligus geli.


"Kamu, jangan macam-macam. Saya lagi pegang sapu."


Remi terkekeh mendengar gertakan Stefi Bahkan, sekarang dipukuli sapu pun Remi sudah tidak peduli, la sudah tidak bisa menahan gairahnya lebih lama.


"One kiss. Itu imbalannya."


Stefi diam. Sekali aja, kan? Kalau itu bisa bikin pria ini sedikit jinak, gak masalah,


"Oke."


Senyum Remi melebar mendengarnya. "Deal"


Stefi merasakan tangan Remi sudah memeluknya. Jemari pria in mengelus perumya dengan gerak lambat. Dengan sekali sentakan, pria itu memutar tubah Stefi dan langsung *bibir gadis itu. Tangan Remi memeluk pinggang Stefi dan merapatkan tubuh mereka. Lidahnya mulai menyusup bermain di dalam mu*ut Stefi. Bahkan, tanpa sadar tangan Remi sudah meremas bo*ong Stefi gemas, membuat Stefi langsung menepis tangan nakal itu.


"Ups, kelepasan Sorry" Setelah meminta maaf, Remi langsung kembali membenturkan bibirnya. Kembali dilu*atnya, dihi*apnya, bahkan sesekali digigitnya bibir Stefi. Suara des*han Stefi akhirnya muncul. Sebuah suara yang selalu membuat Remi makin gila. Berhubung ia harus mendapatkan izin hanya sebatas berc*uman, Remi pun dengan sebisa mungkin memanfaatkan kesempatan. Gair*hnya akan ia salurkan melalu ciuman panjang dan pa*as ini. Sementara itu, Stefi mulai kehabisan napas. Salah sekali ia mengiyakan tawaran Remi. Iya, satu ciuman, tap sangat panjang.


"Babe, tahu gak yang paling menyenangkan?" Stefi yang sedari tadi memejamkan mata pun seketika membuka matanya saat Remi menghentikan ciumannya. Pria itu masih belum berminat untuk menjauhkan wajahnya, hanya saja bibir mereka sedang tidak mel*mat saja.


"Memangnya apa" Remi tersenyum.


"Yang paling menyenangkan itu, liat ekspresi lo kalau lagi gue cium. Bawaannya mau langung buku celana."


Stefi langsung mendorong pria itu hingga terjengkang ke belakang Remi memang cabal, tapi yang paling membuat Stefi kesal adalah melihat orang cabul yang tidak malu lagi akan kecabulannya. Macam Remi ini.


"Babe, sakit!" Remi mengaduh dan mengelus bokongnya yang menyentuh lantai.

__ADS_1


"Kamu yang ngepel!"


Setelah mengatakan hal itu, Stefi langsung pergi menjauh dari pria itu. Bagaimana caranya agar terhindar dari Remi? Bahkan, sekarang ia akan gila.


__ADS_2