
STEFI mengintip ke ruang tengah, la penasaran apa yang dilakukan Remi di sana. Terakhir kali, Stefi menyuruhnya untuk mengepel lantai dan pergi begitu saja karena tidak tahan dengan perkataan ca*ul pria itu. Sekarang. Stefi justru menemukan Remi yang tengah menonton TV.
Jadi, dia gak ngepel!!
Stefi pun kembali menuju ruang tengah. Ia sudah berpakaian cukup rapi dan lumayan santai. Stefi merasakan pijakannya di lantai terasa bersih. Sepertinya sudah dipel. Remi memperhatikan Stefi yang menginjak-nginjak lantai keramik. Keberadaan wanita itu selalu menjadi fokus perhatiannya. Lagi pula, sekarang ia cukup penasaran apa yang sedang ingin Stefi lakukan.
“Udah dipel, Bersih, Kinclong”
“Hmm. Iya, dong, harus. Kamu udah janji. Stefi merespons ucapan Remi dengan datar. Kalau di awal pertemuan mereka di kantor, wanita itu masih ada rasa segan padanya. Sepertinya, kali ini sudah benar-benar tidak ada lagi. Iya, sih, gimana mau segan kalau Remi salah kerap kali bersikap kurang ajar kepadanya. Ditambah lagi, pria itu dengan terang-terangan menjebak Stefi dalam urusan tempat tinggal. Masih untung Stefi tidak mencekiknya. Tapi, tidak masalah. Remi malah senang kalau Stefi tidak terlalu segan padanya la juga tidak menganggap Stefi sebagai karyawannya. Stef itu miliknya.
“Lo mau ke mana?"
“Keluar."
"Ya gue tahu lo mau keluar. Tapi, ke mana? Ah, gue cium juga, nih. Gemesin, ya."
Stefi langsung bergerak mundur. Ekspresi wajahnya kembali horor mendengar ucapan Remi. Sepertinya, ia harus membiasakan diri untuk kedepannya.
"Mau cari makan, sekalian jalan-jalan di sekitar apartemen."
"Wah, ikut dong"
“Gak!" Stefi pun buru-buru keluar dari apartemen sebelum Remi benar- benar memutuskan untuk ikut. Lebih baik ia segera keluar dan mencari makan malamnya.
Stefi kembali ke apartemen setelah satu jam berkeliling. Di tangannya sudah menenteng satu bungkus nasi padang dan satunya lagi kantung berlogo sebuah minimarket. Stefi melirik Remi yang masih berada di atas sofa saat melewati ruang tengah. Di mejanya tampak sekotak pizza ukuran medium serta soft drink. Sepertinya ia melakukan delivery. Stefi sadar jika Remi kembali memandanginya. Namun, ia terus berjalan menuju dapur dan segera duduk di sana, lalu membuka bungkusam Nasi padangnya.
“Lo belanja gak ngajak-ngajak.”
Stefi mendelik waspada saat sebuah suara horor itu kembali muncul. Remi sudah ikut duduk di sampingnya. Pria itu mengintip isk belanjaan Stefi.
“Makan lo banyak, ya”
Stefi kembali mendelik. Porsi nasi padang, kan, memang banyak Remi gak pernah lihat nasi padang atau gimana sih?
“Emang udah porsinya segini.”
Stefi kembali menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Ini Remi ngapain, sih? Kan, jadi gak enak makan sendirian.
“Sekarang gue ngerti kenapa lo bisa gini, makan lo banyak.”
“Gini? Maksudnya gini apa!”
__ADS_1
“Mo*tok. Enak banget dipeluk. Duh, jadi tegang sendiri, kan.”
Stefi tersedak nasi saat mendengar ucapan Remi. Sumpah, ya. Mau makan aja banyak banget cobaannya. Stefi mencari-cari botol air Mineral di dalam kantung belanjaan dan segera meminumnya.
“Kamu ngapain sih di sini? Gak keluar! Main gitu.”
“Mau keluar? Yuk”
“Saya nanya kamu Saya gak mau ke mana-mana.”
“Yah, padahal bisa tuh kita mengulang malam pertama kita di kelab. Beuh, itu panas banget, loh, Babe. Masih terasa sampai sekarang”
“Otak kamu itu emang isinya mesum semua!” Stefi pun Memilih tidak mengacuhkan Remi. Lebih baik ia fokus makan dan saat selesai nanti, la akan langsung masuk ke kamar. Tapi, tiba-tiba Stefi melirik Remi yang masih duduk di sampingnya. Pria itu tampak tenang mengamatinya yang sedang makan. Stefi menghela napas panjang. Ia mengambil satu buah sendok lagi, lalu menyodorkannya pada Remi
“Kenapa ngasih gue sendok?”
“Kamu ikut makan. Saya gak senang kalau makan sendirian”
Sementara kamu ngeliatin saya yang lagi makan.” “Gak usah. Gue gak mau.”
“Kamu belum pernah makan nasi padang ya jangan-jangan? Kamu Ngeliatin makanan saya sampe segitunya.”
“Emang kalau belum, bakalan aneh?”
“Coba sesendok”
Stefi menyendokkan nasi dengan sendok yang baru ia ambil tadi dan menyodorkannya ke mulut Remi
“Buka mulut kamu.”
“Wih, lo udah mau gue buka mulut aja. Pake lidah juga gak? Mau yang mana dulu? Atas atau bawah?”
Stefi melotot saat Remi kembali bicara mesum. Melihat pelototan Stefi, Remi pun menyambut sodoran sendok nasi dari Stefi dan mengunyahnya.
“Gimana?”
Stefi malah makin penasaran dengan pendapat Remi. Ia jadi tertantang mencekoki pria ina yang belum pernah makan nasi padang Sebelumnya
“Enak.”
“Tuh, kan”
__ADS_1
“Bakal lebih enak kalau lo nyuapin gue pake mulut lo.”
Stefi kembali mengubah ekspresinya menjadi datar. Seharusnya, ia tidak boleh lupa kalau Remi tidak mungkin berhenti bersikap me*um. Stefi pun kembali melanjutkan makannya.
“Selesai juga.”
Stefi segera bangkit dari kursinya bersamaan bunyi bel. Diliriknya Remi yang tidak terganggu dengan suara bel dan malah asyik bermain ponsel. Stefi pun berjalan menuja pintu dan membukanya. Setelah pintu terbuka. Steh terperangah melihat seorang pria tampan berdiri di sana. Mulutnya bahkan tidak sadar terbuka takjub
“Selamat malam. Maaf mengganggu. Saya baru pindah malam ini. Saya Cuma mau menyapa.”
“Baru pindah ya! Sama”
“Ah, iya, salam kenal. Saya Stefi.” Stefi mengulurkan tangan.
“Adit.”
Stefi belum puas memandangi ketampanan pria bernama Adit di depannya ini. Sebenarnya, pria di dalam dapur sana juga tidak kalah tampan. Tapi, berhubung kelakuannya minus, jadi penglihatan Stefi agak mengabur. Belum puas memandangi sosok tampan di depannya,
Tiba-tiba suara Remi terdengar “Beb, liat CD aku gak?
Stefi terkesiap. Dahinya berkerat, la mencium aura tidak beres dari nada bicara Remi. Dan juga. CD apa yang ia tanyakan di saat Stefi andang bersama seorang pria tampan di sini
"Kamu... sudah menikah?”
Stefi megap-megap Kepalanya menggeleng lalu mengangguk, terus menggeleng lagi. Bahkan. Adit bingung dengan reaksi Stefi.
"Wah, ada tamu, Beb. Siapa?"Tangan Remi sudah melingkari bahunya. Stefi melotot ke arah Remi. Bukannya ia tadi tidak peduli dengan suara bel? Kenapa sekarang muncul
“Saya barua pindah di sebelah. Saya cuma mau menyapa.” Remi hanya mengangguk kecil.
"Oh, ya. Beb, CD aku di mana ya?"
"CD musik Di atas TV.” Stefi dengan cepat menjawab. Tangannya juga sudah mendorong pria itu menjauh.
"CD musik apa sih, Beb? ****** *****, Beb, ****** *****. Yang kamu lempar barusan waktu kita”
"Adit, salam kenal dan selamat malam!"
BRAK!
Dengan sanu gerakan, Stefi menutup pintu apartemennya. Napas- nya memburu dan wajahnya memerah. Ia menoleh ke samping dan tidak menemukan sosok Remi di sana, Pria itu sudah berlalu begitu saja ke dalam kamar tanpa memedulikan Stefi yang sudah mendidih.
__ADS_1
"REMI!!!!!”