THE BOSS ON MY BED

THE BOSS ON MY BED
7.


__ADS_3

REMI menguap menatap layar laptopnya. Satu hal yang biasa Remi lakukan di malam hari selain pergi ke kelab adalah begadang menganal pekerjaan kantor. Seperti malam ini. Setelah Stefi mengamuk karena ulahnya yang menanyakan CD pada wanita itu saat ia sedang bersemu-semu menatap seorang pria asing di depan pintu, Alhasil, di sinilah ia sekarang Sendirian di dalam kamar sambil menatap layar laptop. Lehernya bahkan sampai pegal Remi melirik jam di ponselnya yang menunjukkan pukul satu pagi Biasanya, kalau sudah penat dan jenuh seperti ini ia akan langsung berangkat ke kelab yang biasa ia datangi. Tapi, untuk beberapa hari ini, ia tidak lagi terlalu sering ke sana. Ia terlalu sibuk mengatur strategi untuk menjebak Stef


Tapi sekarang ke mana wanita ini? Setelah mengamuk padanya tadi, ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan tidak keluar-keluar lagi. Remi kembali manyun jika mengingat Stefi. Padahal wanita itu sudah berjarak tidak sampai berpuluh-puluh meter darinya, tapi malam ini masih saja tidak dapat belaian.


Stefi keluar dari kamar. Ia melihat ruang tengah yang sudah gelap.


Mungkin Remi sudah tidur atau pria itu pergi keluyuran. Ah, masa bodoh ke mana pria itu. Stefi hanya ingin kembali mengambil kantung belanjaannya yang masih tergeletak di dapur. Ia lapar dan ingin makan cemilan. Ini semua akibat ia terlalu banyak mengamuk pada Remi sampai lupa mengambil belanjaannya dan langsung masuk kamar.


Stefi berjalan menuju meja makan. Masih dengan posisi berdiri. la mengeluarkan sebungkus roti dari dalam kantung belanjaannya. Sementara itu, Stefi tidak menyadari Remi sudah berdiri tepat di pintu menuju dapur. Pria itu menatap Stefi dengan ekspresi terperangah. Bagaimana tidak, Stefi saat ini berdiri di depan sana dengan mengenakan celana pendek dan tanktop ketat.


Remi menelan ludah. Kepalanya dan kepala adik-nya sudah berdenyut tidak karuan. Remi berjalan mendekat menuju Stefi yang tengah mengobrak-abrik semua di atas meja makan. "Lo mau godain gue, ya."


Remi sendiri tepat di belakang tubuh Stefi dan memeluk tubuh itu erat, la bisa merasakan tubuh Stefi menegang karena terkejut. Wanita itu benar-benar terperanjat saat sebuah tangan memeluk perutnya. Bahkan, roti yang baru ingin ia buka, langsung jatuh kembali ke dalam kantung.


"Di sini ada gue, lo gak lupa, kan? Jangan mancing Babe." Stefi memejamkan mata saat sadar telah kocolongan. Sebelumnya. la memakai training dan kaus hitam lengan panjang, tapi saat di kamar dan ingin tidur, Stefi terbiasa menggunakan celana pendek dan tanktop saja la kira tidak akan berpapasan dengan Remi saat keluar, karenaa la mendengar keadaan di luar sudah lenggang.


"Lo pake kaos aja udah bikin gue pengin nerkam lo. Jadi, lo bisa nebak, kan, gimana keadaan gue sekarang, hmm?"

__ADS_1


Stefi memejamkan mata, mencoba untuk tidak melenguh saat bibir Remi sudah menyusuri kulit lehernya, pelan dan lembut. Bahkan, Stefi bisa merasakan bagaimana pria itu mengeluarkan lidah dan menjilati lehernya layaknya sedang kehausan.


"Babe, liat gue." Tangan Remi menuntun Stefi untuk berbalik menghadapnya.


Remi meraih pinggangnya dan langsung ******* ganas bibir Stefi yang sudah terbuka. Saliva, napas, bahkan belitan lidah mereka lakukan. Stefi menyerah jika Remi sudah seperti ini la benar-benar tidak bisa melawan lagi. Sekarang, ia merasakan tangan pria itu sudah menyusup ke balik bajunya.


"Rem.... Stefi mend*sah. Remi melepas ciumannya dan menatap Stefi dengan napas memburu. Remi langsung meraih ujung tanktop Stefi dan melepasnya. Bta milik Stefi pun sudah dilepasnya


"Remi!"


Stefi refleks berteriak saat Remi mengangkat tubuhnya dan langsung mendudukkannya di atas meja makan


Remi langsung meletakkan mulut dan kapalanya di sana.


"Ah, Rem."


"Gue selalu suka dengerin lo men*esah. Gue makin semangat." Stefi berteriak saat tangan Remi mulai masuk ke dalam celananya. la pun makin gelagapan saat dilihatnya Remi sudah berhasil menurunkan celananya sendiri.

__ADS_1


"Kamu mau ngapain buka celana." Remi mendongak "Udah gak tahan. Babe."


"Saya gak mau!"


"What?! Jangan gila,gue adah di ujung."


"Nanti saya hamil." Remi tertegun mendengarnya. Stefi menatap tajam pria itu. Iya, ia tidak mau melakukannya. Bagaimana kalau ia hamil? Apalagi Remi sepertinya tidak berniat memakai pengaman.


"Gue ambil pengaman. Gue ada pengaman!" Remi langsung berlari masuk ke dalam kamarnya, dan tidak lama kemudian ia kembali lagi. Mata Stefi langsung melotot saat Remi dengan tidak sabar membuka bungkusan tipis itu. "Gue udah gak tahan, Babe. Bisa mati beneran kalau gak jadi juga."


Stefi merasakan Remi kembali meraih dan menciumnya ganas ia juga merasakan bagian bawahnya yang sudah tidak tertutup apa pun lagi. Stefi mencoba berpikir jernih. Jika ini dibiarkan begitu saja, maka ini akan menjadi kedua kalinya Remi dan dirinya melakukan s*x. la tidak boleh membiarkan ini terjadi.


Stefi meraih tangan Remi yang tengah mer*mas da*anya. Kemudian. dialetaknya tangan itu dan mendorong mundur pria itu. Remi yang memang sudah dipenuhi gairah tampak tidak siap saat Stefi mendorongnya mundur. Remi menatap Stefi di depannya. Wajah wanita itu tampak merah. Remi kembali maju. Tangannya bahkan sudah ingin menyentuh Stefi lagi, tapi kembali Stefi mengelak.


"Bale, kenapa "


“Saya gak bisa. Sekalipun kamu pake pengaman, saya gak mau!" Remi melongo. "Babe, jangan bercanda."

__ADS_1


"Pokoknya, saya gak mau!" Stefi turun dari meja, lalu meraih pakaiannya yang sergeletak dan membawa kantung belanjaannya. Setelah itu, ia segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan Remi yang masih melongo di posisinya. Tersadar jika ia sudah ditinggal sendiri dalam keadaan tanggung, Remi langsung terkesiap.


"Babe, lo ke mana? Yailah, tinggal masuk aja. Busettt dahhh!" Remi berteriak frustasi. "Babe, harga kacang mahal, oy Babe! Bebeb Stefi"


__ADS_2