
Beberapa jam sebelum kejadian.....
STEFI bergerak gelisah di sofa ruang tengah. Telinganya memanas. Sejujurnya, baru tadi pagi ia tiba di apartemen sepupunya yang bernama Laras. Awalnya, ia tidak terlalu memikirkan kondisi apartemen yang berantakan. Namun, malam ini, ia akhirnya mengerti, Laras sering melakukan kegiatan dewasanya bersama sang kekasih di mana pun. Berhubung hari ini ada Stefi, alhasil Laras berada di kamarnya. Stefi tahu, ibu kotu pasti berbeda dan lebih liar. Namun, mendengar de***an Laras dan pacarnya di dalam kamar sana, membuatnya serba salah.
"Bram! Oh My!"
Stefi menatap ke layar televisi yang masih hidup, Dirinya bingung Di satu sisi, ia ingin mematikannya, lalu segera masuk ke dalam kamar Tapi, jika ia langsung mematikan televisi, suara Laras dan pacamya justru akan semakin jelas terdengar.
Tiba-tiba suara bel berbunyi. Stefi mendongak. Buru-buru ia meletakkan remote yang sedari tadi ia genggam dengan erat ke atas meja.
"Stef, ada yang dateng ya? Ah, Bram bentar! Stef, buka pintu, please. Siapa yang — Aw!"
Stefi langsung bergerak cepat menuju pintu. Bulu kuduknya meremang saat Laras berbicara kepadanya dengan iringan de***an seperti itu. Setibanya di depan pintu dan membukanya, Stefi menemukan seorang pria berusia sekitar empat puluhan berada di sana.
“Dengan Stefi Almira?"
“Iya, saya Stefi."
“Ini ada surat untuk anda."
Stefi melongokkan kepala sejenak. Ah, dari tempat kerjaku yang baru.
“Terimakasih, Pak."
Setelah menerima surat tersebut, Stefi langsung menutup pintu dan kembali duduk di atas sofa. Seperti halnya kemarin, Stefi kembali mendapatkan surat yang berisikan dokumen data diri tambahan yang harus dia isi untuk kemudian ia serahkan kepada HRD saat hari Senin nanti.
"Besok aja deh gue isi." gumam Stefi pelan. Tapi, untuk lebih memahami, Stefi terlebih dahulu membacanya. Butuh beberapa waktu untuk membaca isi amplop besar di tangannya, apalagi dengan iringan de***an Laras di dalam kamar sana.
“Stef, tadi siapa?"
Stefi langsung menoleh saat Laras bertanya. Ia pun mendongak dan menemukan Laras yang sudah berdiri di depannya, hanya dengan menggunakan ****** ***** dan b*a.
“Surat dari kantor, Mbak."
“Oh, Senin udah kerja, kan?"
“Iya"
“Ras, cepet kita siap-siap. Kita cabut." Itu suara pacar Laras.
“Iya, kamu pake baju dulu aja."
Mata Stefi mengamati dalam tenang. Sepertinya, Laras akan pergi keluar dengan pacarnya.
“Kamu mau pergi, Mbak?"
“Iya, malam Minggu dong. Mau ikut?"
__ADS_1
Stefi menggeleng, ia mau dirumah saja.
“Ikut ajalah, Stef. Besok juga masih libur. Sebelum Lo sibuk kerja."
“Kemana emangnya?"
“Adalah, yuk ikut aja. Sekalian jalan-jalan."
“Gak deh, Mbak."
“Yah, payah Lo. Udah, ikut aja."
“Iya, ikut aja. Tenang, ntar kita jagain." Bram ikut-ikutan mendesak Stefi agar mau ikut bersama mereka.
Stefi berpikir beberapa saat. Ia tidak enak untuk menolak ketika sudah ada dua orang yang mendesaknya seperti ini
“Iya deh, Mbak."
************
Di antara kelap-kelip cahaya lampu dan musik disko yang berdentum, di salah satu ruang kecil di sana, tampak seorang pria yang sedang duduk dengan mata mendongak ke langit-langit. Satu tangannya memegang gelas berisi cocktail, dan satunya lagi mendorong sebuah kepala wanita yang tengah berjongkok di bawahnya.
“G*de banget punya lo, Rem. Sesuai kabar."
Reni tersenyum mendengar ucapan wanita yang tengah melakukan blo**ob dengannya.
Wanita di depannya pun sudah berdiri dan berjalan mendekat Tanpa aba-aba, langsung duduk di pang***nnya.
“Gak mau, Rem? Celup dikit, lho. Hmm?"
Remi merasakan wanita itu dengan sengaja ber***ak di atasnya.
“Gue gak mau."
“Kenapa, jangan-jangan rumor itu bener? Lo masih perjaka?"
Remi hanya tersenyum saja mendengar ucapan wanita itu.
“Liat,. lo udah te**ng gini. Gue buka celana di sini juga hayuk. Gimana?"
Gerakan itu makin intens, Remi munafik jika tidak tera***ang.
“Na*su gua belum sebesar itu buat main cel*p aja, apalagi sama Lo, so get out."
Mendengar ucapan Remi, wanita ini pun berdiri dan menjauh. Sebenarnya, dirinya juga sudah bisa menebak jika sosok pria di hadapannya ini tidak akan begitu mudah untuk diajak have s*x. Dengan gerak hati-hati,
wanita itu meraih wajah Remi dan menc***nya pan*s. Tangannya dengan gesit memasukkan sesuatu ke dalam gelas milik Remi.
__ADS_1
Apa tadi pria itu bilang? Na*sunya gak cukup besar? Lihat aja sebentar lagi.
“Lo mau tetep goda gue, gue udah bilang gak na*su."
“Oke, fine. Gue nyerah. Gue kadang gak ngerti, Rem, Lo bej*t kok nanggung sih.
Setelah mengatakan hal itu, wanita tersebut berlalu dari sana. Remi memakai celananya lagi dengan benar. Matanya menelisik suasana kelab dari ruang kecil berdinding kaca tempatnya duduk sendiri saat ini. Sambil kembali menikmati isi gelas. Remi menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa. Tiba-tiba seorang wanita masuk ke dalam tempatnya dengan langkah sempoyongan. Remi nyaris terlonjak saat wanita itu berjalan mondar-mandir di depannya.
“Mas, saya numpang duduk, ya. Saya pusing."
Remi mengernyitkan dahi. Wanita ini mabuk? Diperhatikannya penampilan wanita itu. Jins hitam panjang, dipadu kaos dengan lapisan jaket berwarna biru.
Gak salah alamat nih cewek?
Tiba tiba wanita itu melepas jaketnya dan hanya berpakaian kaos saja. Remi memperhatikan dalam diam bagaimana sosok ini menggulung rambutnya yang terurai, menampakkan wajahnya yang dari tadi tertutupi rambut dan berpeluh keringat.
Tiba-tiba Remi merasakan adrenalinnya terpanggil. Dadanya terasa panas, napasnya memburu, bahkan sensasi ini melebihi saat ia sedang di-bl***ob. Remi bendiri dan bergerak semakin mendekat. Didudukinya tempat di samping wanita itu.
“Lo, kenapa?"
“Pusing."
Remi sepertinya tahu kalau wanita ini tidak kuat minum. Lalu, kenapa minum? Tapi, melihat reaksinya yang seperti ini. Remi kurang yakin hanya karena minum. Sepertinya, wanita ini juga diberi obat.
Saat sedang serius melakukan pengamatan, tiba-tiba wanita it menarik kepala Remi mendekat. Dengan memasang wajah sayu wanita itu berbicara.
"Tolongin gue, please." Remi sudah ingin melepaskan tangan wanita itu darinya, tapi tiba-tiba wanita itu tidak juga menjauh. Apalagi sosok itu malah bergerak menubruknya sampai terjengkang tidur di sofa. Remi hampir berteriak marah, namun suaranya tidak jadi keluar saat merasakan seseorang sedang duduk di atas pahanya. Wanita itu tampak masih linglung di atasnya, bergerak gelisah.
****!
De***an keluar dari mulut Remi saat wanita itu bergerak nakal di atasnya yang masih terbalut celana. Bahkan, saat di-bl***ob tadi saja ia tidak semudah ini men***ah.
“Lo, jangan gerak."
Remi berbicara pelan. Matanya sudah terpejam menahan nikmat. la juga mulai merasakan ada yang aneh pada tubuhnya.
"Gue mau berdiri, tapi susah."
Remi mendengar ucapan wanita itu. Ia ingin berdiri tapi karena mabuk, jadi ia hanya bergerak-gerak dengan nikmat di atasnya.
"Lo bikin gue tegang, Stop gerak Sangat munafik jika ia berkata untuk menjauh. Sejujurnya, gerakan ini sangat membuatnya tera***ang.
"Ah, sial, gue gak tahan!"
Remi kembali duduk Diraihnya pinggang wanita itu dan menariknya lebih merapat.
"Gue mau lo. Kita cari kamar, ok?" Saat itu juga Remi langsung mel**at bibir wanita itu. Menjejalkan
__ADS_1
lidahnya dengan ganas dan melilitnya dengan penuh na*su. Remi sudah tidak tahan. Persetan dengan keperjakaan! Daripada ia mati lemas, hajar saja!