The Feel

The Feel
Harapan dalam gelap. part 1


__ADS_3

Di suatu siang yang tidak cukup terik, sebuah mobil berhenti di depan sebuah panti asuhan. Plakat bertuliskan Mutiara Kasih tergantung di atas pintu masuk kayu bercat biru langit.


Pintu kemudi dibuka, seorang laki-laki yang mengenakan seragam berbahan katun berwarna biru tua mengitari mobil untuk mencapai pintu penumpang di bagian depan. Laki-laki itu membukakan pintu sambil membungkuk. “Silakan, Nyonya,”kata laki-laki itu.


Keluarlah seorang wanita paruh baya yang mengenakan kaca mata berbingkai keemasan. Gaun putihnya yang licin jatuh sampai ke lutut ketika dia berdiri tegak di atas sepatu berhak lima sentimeternya. “Terima kasih," jawab wanita paruh baya itu sambil mengangguk.


Sang sopirkembali ke mobil setelah nyonyanya masuk ke panti asuhan. Dia memarkirkan mobil di lahan yang disediakan panti, berupa sebuah lapangan ber-paving yang bisa dimuati tiga truk sekaligus.


Wanita paruh baya yang tadi masuk ke panti bernama Ratih Suyatmi atau biasa dipanggil Nyonya Suyatmi. Keinginannya untuk mengadopsi anak sudah mantap sehingga langkah-langkahnya yang tegas langsung membawanya untuk menemui penanggung jawab panti asuhan.


Di dalam ruangan, Nyonya Suyatmi disambut seorang lelaki bernama Yanto, sang penanggung jawab panti asuhan sekaligus pemilik Yayasan Mutiara Kasih. Setelah dipersilakan duduk, Suyatmi mengatakan tujuannya datang ke panti asuhan. Yanto mengangguk lalu bertanya, “Jadi Nyonya ingin mengadopsi seorang anak dari panti ini?”


"Iya, benar," jawab Nyonya Suyatmi.  “Kalau begitu mari saya antar mememui anak-anak,” ujar Tuan Yanto seraya menunjukkan jalan ke tempat anak-anak berkumpul.


Tuan Yanto mengajak Nyonya Suyatmi mengunjungisemua anak yang ada dipanti agar Suyatmi bisa memilih salah satu dari mereka. “Hei, anak-anak, kemarilah! Ada yang ingin bertemu dengan kalian semua!” seru Tuan Yanto. Mereka langsung menghampiri Tuan Yanto kecuali satu anak yang tengah duduk menyendiri di dekat pohon sambil menggambar. Bagas.


“Ayo semuanya salim pada Nyonya Suyatmi,” perintah Tuan Yanto. Mereka semua langsung mencium punggung tangan Nyonya Suyatmi secara bergantian. Terlihat jelas raut bahagia sekaligus penuh harap di wajah anak-anak malang itu. Ekspresi yang wajar ditunjukkan anak panti saat dikunjungicalon orang tua angkat.


Saat satu persatu anak mencium tangan Nyonya Suyatmi, matanya tertuju pada seorang anak laki-laki yang tengah duduk sendiri. “Siapa anak yang disana itu?” tanya Nyonya Suyatmi.


"Oh ... dia Bagas. Dia sering menghabiskan waktunya dengan menggambar disana," jawab Tuan Yanto.

__ADS_1


“Apa dia bagian dari panti seperti anak-anak ini?” tanya Nyonya Suyatmi lagi.


“Iya, tapi dia tidak pernah mau datang saat ada calon orang tua yang ingin mengadopsi," jelas Tuan Yanto.


Suyatmi terdiam sejenak. Dia merasa ada sesuatu yang menarik dari anak itu. "Bolehkah aku menghampirinya?” pinta Nyonya Suyatmi.


"Silakan,” balas Tuan Yanto.


“Terima kasih." Nyonya Suyatmi langsung menghampiri Bagas.


“Kenapa dia malah menghampiri anak cacat dan aneh itu?" ujarsalah satu anak dengan sinis ketika Suyanti menghampiri Bagas. Bukan tanpa alasan dia berkata seperti itu. Fisik Bagas memang tidak normal. Bahu kanannya lebih tinggi dari bahu kirinya sehingga Bagas harus menggunakan tongkat saat berjalan. Jadi dia merasa seharusnya Nyonya Suyatmi lebih memilihnya daripada si cacat Bagas.


“Assalamualaikum. Selamat siang,” tegur Nyonya Suyatmi, tetapiBagas diam saja dan terus menggambar. Merasa diabaikan, Suyatmi kembali bertanya, “Apa yang kau gambar, Nak?” tanyanya.


“Boleh aku melihatnya?" pinta Nyonya Suyatmi. Tanpa mengucapkan apa pun, Bagas menunjukkan gambarnya pada Nyonya Suyatmi.


Mata Suyatmi terbelalak kemudian berkaca-kaca setelah melihat gambar Bagas. Terlihat seorang anak lelaki duduk sendirian di tengah larik-larik horizontal, gerombolan awan, dan coretan abstrak berwarna merah yang sendu. Kedua alis anak laki-laki digambar dengan pensil warna hitam, melengkung turun sebagaimana bentuk bibirnya.


Perpaduan warna hitam dan merah itu menguasai hati Suyatmi dengan kesepian dan kemarahan. Dua emosi yang berbelit dan memelintir jantungnya.


Ia mengelus kepala Bagas dan berkata dengan lembut. “Aku juga pernah merasakan hal yang sama denganmu.”

__ADS_1


Setelah itu Nyonya Suyatmi langsung berbicara pada Tuan Yanto di ruangannya. “Jadi Nyonya ingin mengadopsi Bagas?” tanya Tuan Yanto memastikan.


“Iya, aku ingin mengadopsinya,” jawab Suyatmi tegas sambil mengangguk.


Tuan Yanto mengetuk ketiga jemarinya bergantian di meja. “Aku tidak yakin kalau dia mau diadopsi,” urai Tuan Yanto.


Nyonya Suyatmi mengerutkan alis. “Kenapa Anda bicara seperti itu?” tanya Nyonya Suyatmi.


“Sebenarnya Bagas masih mempunyai keluarga dan dia datang kemari atas kemaunnya,” jelas Tuan Yanto setelah menghela napas berat.


Alis Suyatmi semakin berkerut. Ia membuka mulut dan tergagap sesaat, lalu bertanya, “Kenapa bisa seperti itu?”


"Karena Bagas tidak mau jadi beban kedua orang tuanya. Dia sadar orang tuanya yang miskin tidak akan mampu merawatnya. Bagas bersikeras minta orang tuanya menitipkan dirinya di panti.


Setelah diskusi panjang, akhirnya dengan terpaksa mereka menyetujui keinginan Bagas," tutur Tuan Yanto dengan bibir tertekuk ke bawah dan alis terkulai.


Nyonya Suyatmi semakin penasaran. Sambil mengerutkan alis, ia bertanya, "Lalu?"


"Setelah dia tinggal disini, dia selalu menyendiri dan menolak untuk diadopsi oleh siapa pun. Karena dia tidak ingin menjadi beban orang yang mengadopsinya,” jawab Tuan Yanto.


Nyonya Suyatmi mengangguk paham. Bagas anak yang unik sekaligus menyedihkan. Tapi ada yang tidak Suyatmi pahami dari cerita Yanto. “Kalau boleh tau,apa yang menyebabkandia cacat? Apa sejak lahir?” tanya Suyatmi lagi.

__ADS_1


Dengan cepat Yanto menggeleng. "Tidak. Dia cacat karena luka lamanya. Kami pernah ke rumah sakit untuk mengobatinya. Tapi ternyata butuh biaya besar untuk menyembuhkan Bagas. Dan kami tidak punya uang sebanyak itu," pungkas Yanto lalu terdiam sejenak. Dadanya nampak mengempis saat menarik napas dalam.


Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊


__ADS_2