The Feel

The Feel
gadis pengasuh part 4


__ADS_3

Kusuma langsung berhenti.Wajahnya mendadak berkeringat dan mulutnya terbuka tapi tidak sanggup mengatakan apa pun. Bagaimana ini?Apakah dia akan menerima jika aku jelaskan dengan jujur? katanya dalam hati,masalah yang satu baru saja terselesaikan. Sekarang sudah muncul masalah baru lagi?


Bagas berdeham, membuat Kusuma terkesiap. “Bisakah kau jelaskan?” tanya Bagas.


Kusuma menghela napas. Sampai di dadanya, napas itu malah membuat perutnya tegang. “Baik, akan aku jelaskan tapi kau harus berjanji untuk tidak mempermasalahkannya,” kata Kusuma kemudian.


“Baik.” Bagas mengangguk. “Tapi tergantung penjelasannya.”


“Anak murid ku yang telah mencopet dompetmu karena kau telah menabrak temannya,” terang Kusuma.


Bagas langsung melotot. “Apa?Jadi anak-anak itu sengaja menyeberang dan mencari mangsa untuk dicopet?” tuduhnya.


Kusuma menggoyangkan telapak tangannya ke kanan dan kiri. “Tidak-tidak! Bukan seperti itu!” Dia berpaling dan mendesis


mengurut pelipisnya yang berdenyut-denyut.“Kau jangan langsung berasumsi sepihak!”


“Lantas seperti apa?” tantang Bagas.


Kusuma meliriknya dengan jengkel. “Dia marah karena temannya kau tabrak dan aku tidak tau kalau dia melakukan itu.Tapi begitu mengetahuinya, aku langsung mengembalikannya tanpa mengambil apapun kecuali KTP milikmu. Dan itu pun hanya kupergunakan untuk melihat alamatmu.” jelas Kusuma.


“Lalu kenapa dia bisa mencopetku tanpa aku menyadarainya?” tanya Bagas. Bukankah seharusnya dia merasakan sentuhan walau hanya pelan di bagian saku celananya? Tapi kemarin Bagas bahkan tak berpikir dompetnya menghilang dari sakunya.


“Itu karena mereka semua adalah anak jalanan.Maka dari itu, aku mohon kau memakluminya dan jangan memperpanjang ini, ya? Aku mohon sekali.” Kusuma bahkan sampai mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dahi. “Karena mereka itu sebenarnya anak-anak yang baik.”

__ADS_1


“Baiklah, aku akan memafkannya, tapi didiklah mereka semua menjadi anak-anak yang lebih baik lagi,” kata Bagas.


Mendengarnya, Kusuma langsung meniupkan napas keras-keras sampai punggungnya tampak menekuk dan bahunya merosot. “Pasti, pasti.Terima kasih banyak atas pengertianmu.Permisi.”


“Iya, sama-sama,” jawab Bagas. Kusuma pun melenggang pergi. Handphone Bagas di saku celananya bergetar. Pertanda adanya sebuah panggilan masuk. Bagas langsung menerimanya sambil berjalan. “Halo, assalamualaikum, Nek.”


“Waalaikumsalam.Apa kau sudah selesai mensurveinya?” tanya Nyonya Suyatmi.


“Sudah,Nek. Nenek harus tahu bahwa biar perusahaan itu kecil, mereka bertindak dengan sangat profesional,” jawab Bagas.


“Ya sudah,Nenek minta kau segera menemui Nenek di sebuah Resto Raos untuk makan siang dengan Nenek,” kata Nyonya Suyatmi.


“Baik,Nek, aku akan segera kesana.Nenek pesankan gado-gado, ya?”


“Tentu saja.Nenekkan tau makanan favoritmu.Ya sudah,Nenek tunggu.Hati-hati, Bagas!”


“Waalaikumsalam.” jawab Nyonya Suyatmi.


Di Resto Raos,Nyonya Suyatmi ternyata mengajak sertateman bisnisnya, yaitu Tuan Arman. Nyonya Suyatmi juga telah meminta Tuan Arman membawa anak perempuannya yang bernama Rizka.Begitu Tuan Arman tiba di restoran, Nyonya Suyatmi melambaikan tangan untuk memberitahunya lokasi meja mereka.


“Maaf telah membuat Anda menunggu,Nyonya,” kata Tuan Arman.


Nyonya Suyatmi mengibaskan tangannya seraya tersenyum. “Tidak masalah, kok.Kau tepat waktu, silakan duduk,” jawab Nyonya Suyatmi.

__ADS_1


“Terima kasih.” Tuan Arman menoleh ke sampingnya.“Perkenalkan, Nyonya, ini anakku, Rizka Putri Mentari,” kata Tuan Arman.Rizkapun mencium tangan Nyonya Suyatmi dan memperkenalkan dirinya dengan sopan.


“Cantik sekali kamu,” ujar Nyonya Suyatmi sambil menggeleng-geleng dengan takjub,“pasti akan sangat serasi dengan Bagas.” Kata-katanya membuatRizka tersenyum.


“Aku ingin minta maaf,Nyonya, karena tidak bisa datang saat ulang tahunmu, tapi aku sudah menyiapkan kado sepesial untukmu.” Tuan Arman lalu merogoh ke dalam tas belanja kertas yang dia letakkan di atas meja dan memberikan sebuah kotak kado kecil pada Nyonya Suyatmi.


“Kau tidak perlu meminta maaf karena aku sebenarnya juga tidak ingin membuat pesta.Kau kan tahu usiaku ini sudah cukup tua.Dan juga, sebelumnya sudah kukatakan tidak usah membawa hadiah.” Nyonya Suyatmi belum mengulurkan tangan untuk menerima hadiah pemberian Tuan Arman.


“Ya baiklah, tapi tolong terima saja,Nyonya, karena ini adalah pemberian yang ikhlas dari sahabatmu.” Tuan Arman bersikeras menyodorkan kado pada Nyonya Suyatmi.


Rizka memasang wajah memelas. “Iya,Bibi, tolong terimalah. Jika Bibi tidak menerimanya, hati ayahku akan kecewa.”


Nyonya Suyatmi pun tersenyum. “Baiklah, aku akan menerimanya.Terima kasih banyak, ya?”


Tuan Arman membalas senyum Nyonya Suyatmi. Dadanya naik tinggi-tinggi saat ia menghela napas dan turun perlahan-lahan. “Dengan senang hati,” jawab Arman.


Setelah melalui beberapa menit dengan berbincang-bincang,Bagas pun tiba di Resto Raos dan langsung diantar oleh pelayan resto menuju meja pesanan VIP neneknya.


“Silakan,Tuan,” kata seorang pelayan resto ketika mereka tiba di meja Nyonya Suyatmi.


“Terima kasih,” kata Bagas pada pelayan wanita itu.


“Sama-sama,Tuan,” jawab pelayan wanita itu, kemudian langsung bergegas pergi.

__ADS_1


Bagas mengangkat alisnya mendapati dua kursi ekstra yang diduduki oleh seorang pria paruh baya dan seorang wanita muda yang tidak dikenalnya. Dia pikir Nyonya Suyatmi hanya mengundangnya seorang diri. Bagas menggeleng-geleng seraya mengembuskan napas.Aku sudah menduga ada alasan lain kenapa Nenek ingin aku mengecek perusahaan ekspedisi itu, padahal itu adalah tugas anak buahnya.Ternyata Nenek hanya mengulur waktu sampai mereka datang sebelum aku.Pasti ada yang Nenek rencanakan, pikir Bagas dalam hati.


Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊


__ADS_2