
"Karena kalau hasil pemeriksaan menunjukkan kamu butuh operasi, kemungkinan kamu harus melakukan operasi berkali-kali dan proses pemulihannya cukup lama," lanjut dokter dengan lugas.
“Berapa kalipun operasinya, aku siap,” jawab Bagas tegas seolah tidak takut sama sekali.
Dokter itu terkejut lalu tertawa pelan. Baru kali ini dia menemukan pasien seberani dan setegar Bagas. “Kamu sungguh hebat. Tapi kamu harus bisa nahan sakitkarena tubuhmu akan kesakitan setelah dioperasi." Dokter memberi peringatan serayamenatap dalam mata Bagas.
“Bukan masalah besar. Saya sudah berteman dengan rasa sakit," timpal Bagas datar. Ya, hampir setiap hari tubuh Bagas rasanya seperti dikoyak dari dalam, seolah ada gunting yang mampu merobek setiap inci dagingnya. Sekujur tubuhnya akan terasa nyeri ketikapenyakitnya kambuh. Terkadang Bagas merasa lebih baik nyawanya dicabut daripada sakit terus-menerus dan merepotkan orang lain.
"Hahaha ... kita lihat nanti, yah? Kalau memang kamu harus dioperasi, saya akan menjadwalkan operasinya. Yang sabar, ya?" kata dokter sambil mengusap pundak Bagas.
“Kalau begitu terima kasih banyak,Dokter,” tutur Nyonya Suyatmi lembut. Wanita beruban itu legadan bersyukur mengetahui Bagas punya harapan untuk sembuh.
“Iya, sama-sama,Nyonya Suyatmi,” balas dokter.
“Sampai bertemu kembali, Dok,” pamit Suyatmi berdiri lalu membungkuk sembilan puluh derajat sebagai salam perpisahan. “Iya,Nyonya, sampai bertemu kembali,” jawab dokter menyunggingkan senyum.
Saat sudah diluar, Suyatmi dan Bagas disambut Haris, asisten pribadi Suyatmi. Haris membungkuk sedikit lalu berkata, "Nyonya pulang saja. Biar aku yang mengurus sisanya."
"Terimakasih," timpal Suyatmi seraya tersenyum lalu menggandeng Bagas ke tempat parkir,sementara Haris langsung ke kasir untuk membayar tagihan.
Di dalam mobil, tidak ada yang bicara. Bagas memperhatikan jalanan dari balik kacasementara Suyatmi memperhatikan Bagas. Manik polos anak kecil itu tampak bersinar setelah mendengar ucapan dokter.
__ADS_1
Suyatmi agak lega melihat perubahan raut wajah Bagas. Walau begitu, Suyatmi khawatir sebenarnya Bagas takut menjalani operasi hanya saja tidak berani mengatakannya.
"Bagas," panggil Suyatmi. "Kalau suatu saat nanti kamu memang harus dioperasi, apa kamu siap?" tanya Nyonya Suyatmi. Dia hanya ingin cucu angkatnya melakukan operasi bukan atas keterpaksaan, melainkan atas keinginannya sendiri.
"Iya, Nyonya, saya siap kalo nanti saya memang harus dioperasi," jawab Bagas tanpa keraguan sedikit pun.
Suyatmi tersenyum. Bagas memang anak yang kuat. Penderitaan hidup yang bertahun-tahun Bagas alami telah membuat anak seumuran dirinya tidak takut padaapa pun, batin nyonya suyatmi sambil memandang Bagas.
“Oh iya, apa kau ingin membeli sesuatu?” tanya nyonya Suyatmi.
“Tidak, Nyonya, terima kasih banyak. Dibawa ke rumah sakit oleh Nyonya saja sudah membuat saya senang. Karena mungkin akhirnya saya bisa sembuh,” jawab Bagas.
Beberapa minggu kemudian semua pemeriksaan telah Bagas lewati. Dari cek darah, MRI, sampai rontgen. Hasil pemeriksaan menunjukkan Bagas menderita TB tulang, skoliosis, dan kerusakan sendi[1]. Ditambah paha bagian kanannya rusak dan keluar dari persendian.
Mendengar semua penjelasan dokter, bahuNyonya Suyatmi merosot. Malang nianBagas harus melalui hal berat dan berisiko untuk sembuh.
Bagas tanpa ragu langsung menerimanya. “Karena hanya itu pilihan yang ada, saya siap, Dok. Yah, walaupun harapan berhasilnya kecil. Lagipula, meskipun tidak dioperasi, tubuh saya sering kesakitan,” jawab Bagas.
“Aku paham yang kau rasakan, Nak. Kau hebat bisa bertahan dan seberani ini,” timpal Dokter, mengelus rambut Bagas.
Beberapa minggu kemudian, hari operasi pertama Bagas pun tiba. Sebelum operasi tulang belakang, Bagas melakukan operasi pergantian sendi dahulu. Selagi bagas dioperasi, Nyonya Suyatmi menunggu dengan harap-harap cemas di ruang tunggu. Operasi memakan waktu sampai sepuluh jam. Saat dokter baru saja keluar dari ruang operasi, Nyonya Suyatmi langsung menghampiri dokter tersebut.
__ADS_1
“Bagaimana operasinya, Dok?” tanya Nyonya Suyatmi dengan gelisah.
“Alhamdulillah, operasinya berjalan dengan baik,” balas dokter sambil tersenyum.
Nyonya Suyatmi tersenyum lega lalu menemani Bagas yang masih belum sadarkan diri. Tidak lama kemudian, datanglah adik satu-satunya Nyonya Suyatmi yang bernama Andy.
Dia datang bersama istri dan anak perempuannya, Tamara dan Harti, serta mengajak menantunya juga, BudiHarti. Harti dan Budi membawa anak mereka, Bima dan Andin. “Assalamualaikum, Kak,” sapa keluarga Andy serempak.
“Waalaikumsalam, silakan masuk,” sahut Nyonya Suyatmi.
“Terima kasih,” kata Tuan Andy kemudian duduk di salah satu sofa.
“Siapa dia, Nek?” tanya Bima, cucu pertama Andy saat melihat Bagas yang terbaring lemah di atas ranjang.
“Dia adalah kakak sepupumu,” jawab Nyonya Suyatmi.
Kedua alis Bima menukik tajam mendengar kata ‘sepupu’. “Bukannya Kakak Sepupu sudah meninggal?” tanya Bima dengan polos.
Mendengar itu, ayah Bima langsung menatap Bima dengan raut serius. “Bima, kau tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Budi.
“Tidak apa-apa. Dia kan masih anak-anak, jadi belum mengerti,” timpal Nyonya Suyatmi.
__ADS_1
(Catatan untuk yang tidak tahu apa itu penyakit TB tulang, skoliosis, dan juga operasi penggantian sendi yang rusak. Kalian bisa cari tahu dengan browsing sehingga tahu bagaimana perasaan pengidapnya dan rasa sakitnya, atau mungkin kalian yang pernah mengidapnya pasti tahu. Tetap semangat untuk kalian yang sedang menderita penyakit tersebut. Insyaallah bisa sembuh. Yang sehat juga semangat!)
Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊