The Feel

The Feel
harapan dalam gelap. part 4


__ADS_3

Kedua alis Bima menukik tajam mendengar kata ‘sepupu’. “Bukannya Kakak Sepupu sudah meninggal?” tanya Bima dengan polos.


Mendengar itu, ayah Bima langsung menatap Bima dengan raut serius. “Bima, kau tidak boleh bicara seperti itu,” tegur Budi.


“Tidak apa-apa. Dia kan masih anak-anak, jadi belum mengerti,” timpal Nyonya Suyatmi.


“Jadi anak ini yang ingin Kakak adopsi?” tanya Tuan Andy.


“Iya,” balas Nyonya Suyatmi sambil melengkungkan bibirnya ke atas.


“Siapa namanya, Nek?” tanya Andin, adik Bima.


“Namanya Bagas Lesmana,” jawab Nyonya Suyatmi, menambahkan nama belakang Bagas dengan nama almarhum suaminya.


“Apa setelah ada dia, Nenek tidak akan sayang lagi pada kami?” tanya Bima. Ia khawatir Nyonya Suyatmi tidak akan mau memanjakan dia lagi denganmembelikan apa pun yang dia mau. Ketimbang orang tuanya sendiri dan kakek neneknya yang selalu sibuk, Nyonya Suyatmi adalah orang yang paling perhatian padanya.


“Tentu saja tidak, Nenek akan tetap menyayangi kalian dan Nenek harap kalian bisa berteman baik dengan Kak Bagas,” jelas Nyonya Suyatmi.


Tidak terasa satu bulan telah berlalu dan Bagas sudah diperbolehkan pulang oleh dokter. Saat sedang membantu Suyatmi memasukkan pakaian ke tas, Bagas berkata sambil menoleh ke Suyatmi. “Nyonya, saat kita pulang, Nyonya tidak perlu merayakan kepulangan saya.”


Suyatmi berhenti memasukkan barang ke tas dan membalas tatapanBagas. “Memangnya kenapa?” tanya Nyonya Suyatmi.

__ADS_1


"Karena itu pemborosan dan saya tidak mau Nyonya mengeluarkan banyak uang lagi untuk saya,” tutur Bagas, merasa tidak enak selalu merepotkan nyonya Suyatmi.


“Begitu, ya?Tapi kepulanganmu wajib untuk dirayakan,” ujar Nyonya Suyatmi.


Bagas menggeleng. “Tapi saya tidak ingin, Nyonya,” tolak Bagas seraya menatap dalam Suyatmi.


Suyatmi pun menghela napas. Sepertinya percuma berdebat dengan Bagas. Anak kecil itu terlalu keras kepala. “Baiklah, terserah kau saja,” putus Nyonya Suyatmi sambil tersenyum. “Oh iya, setelah kamu pulang, kamu akan bersekolah di rumah, aku sudah menyiapkan seseorang guru privat,” imbuh Nyonya Suyatmi.


Bagas memiringkan kepala.


“Memangnya bisa seperti itu?” tanyanya dengan polos. Dia tidak tahu kalau sekolah bisa dilakukan dari rumah. Maklum saja, Bagas dilahirkan oleh keluarga tidak mampu dan kurang berpendidikan.


Suyatmi terkekeh pelan. “Tentu saja bisa. Omong-omong, kalau kau memang ingin membayar hutangmu padaku ...” kata Nyonya Suyatmi, menggantung kalimatnya kemudian melangkah mendekati Bagas yang duduk di tepi ranjang.


Bagas tertegun dan menatap wajah lembut Suyatmi. Baru sekarang dia diperlakukan sebaik ini. “Terima kasih banyak, Nyonya,” balas Bagas.


“Bisakah kau berhenti memanggilku Nyonya?” pinta Nyonya Suyatmi, tidak ingin hubungan mereka terlihat sekaku itu.


“Lalu aku harus memanggil apa?” tanya Bagas bingung.


“Panggil aku Nenek. Kau itu sudah kuanggap sebagai cucuku,”  jawab Nyonya Suyatmi.

__ADS_1


Bagas tidak bisa menahan rasa haru. Matanya tampak berkaca-kaca.“Terima kasih, Nenek,” ujar Bagas, langsung memeluk wanita tua  itu.


“Terima kasih kembali,” timpal Nyonya Suyatmi sambil tersenyum.


Waktu terus berlalu. Bagas melakukan operasi lagi dan semua berjalan lancar. Selama satu tahun itu, Bagas tidak boleh putus mengonsumsi obat TB. Akibatnya, Bagas sering merasa pusing dan mual walau tidak semua pasien yang mengkonsumi obat TB mengalami pusingdan mualkarena efek samping obat TB pada tiap orang berbeda-beda.


Dan akibat operasi tersebut, Bagas mengalami lumpuh total selama satu tahun meskipun pada akhirnya dia bisa berjalan kembali. Setiap pasien yang pernahmelakukanoperasi TB tulang belakang akan mengalami efek lumpuh total yang berbeda-beda. Ada yang lumpuh selamanya, ada yang tidak terlalu lama, dan bahkan ada yang tidak lumpuh.


Bagas termasuk yang beruntung karena hanya lumpuh sementara. Dia punya semangat yang besar untuk sembuh, didukung Nyonya Suyatmi yang merawatnya dengan penuh kesabaran.


Empat belas tahun kemudian, Bagas sudah menerima keputusan untuk diadopsi oleh Nyonya Suyatmi dan kini Bagas memiliki perusahaan ekspedisi terbesar kedua di Indonesia, memiliki perusahaan penyiar radio yang sudah sangat terkenal, dan memilikidua kedai kopi.


Keluarga adik Nyonya Suyatmi, yaitu keluarga Andy, kecuali Tuan Budi dan Tamara, kini tinggal di rumah Nyonya Suyatmi karena perusahaan kontraktor Andy telah bangkrut.Tuan Budi telah bercerai dengan Harti karena sudah tidak tahan dengan sifat Harti yang hanya mementingkan dirinya sendiri dan istri tuan Andi, Tamara, telah meninggal tujuh tahun yang lalu akibat serangan jantung saat mendengar perusahaannya bangkrut.


Nyonya Suyatmi pun mempekerjakan adiknya itu untuk menjadi manajer di perusahaannya. Nyonya Suyatmi juga memberikan modal pada Bima untuk mendirikan kembali perusahaan kontraktor kakeknya dan bekerjasama dengan perusahaan properti Nyonya Suyatmi yang sudah besar. Dia juga menyekolahkan Andin sampai perguruan tinggi.


Hari ini, bertepatan dengan ulang tahun Nyonya Suyatmi yang ke-68, mereka mengadakan pesta kecil dan sederhana di taman rumah Nyonya Suyatmi. Semua keluarga dekat dan teman Nyonya Suyatmi berkumpul kecuali Bagaskarena Bagas hari ini disibukkan olehpermasalahan di dua perusahaannya sekaligus.


Tapi dia akan tetap menyempatkan diri untuk datang tepat waktu dan Bagas sudah memesan kado istimewa untuk Nyonya Suyatmi. Saat Bagas bersiap pulang, sekretarisnya menelepon. Dengan enggan, Bagas mengangkat telepon itu. ”Maaf, Presdir, ada …,” kata sekretarisnya tapi langsung dipotong oleh Bagas.


“Ada apa telfon? Bukankah sudah kubilang aku ingin pulang?” ujar Bagas dengan ketus dari dalam ruangan sambil merapikan meja kerjanya.

__ADS_1


Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊


__ADS_2