
Dengan cepat Yanto menggeleng. "Tidak. Dia cacat karena luka lamanya. Kami pernah ke rumah sakit untuk mengobatinya. Tapi ternyata butuh biaya besar untuk menyembuhkan Bagas. Dan kami tidak punya uang sebanyak itu," pungkas Yanto lalu terdiam sejenak. Dadanya nampak mengempis saat menarik napas dalam.
Lalu Yanto melanjutkan penjelasannya. "Dia mengidap skoliosis yang membuat lengkungan di samping tulang bagian belakang berbentuk seperti huruf S. Dia sering merasakan nyeri di sekujur tubuh terutama pada siku tangan kanan. Dokter bilang itu disebabkan karena adanya masalah pada saraf dan dapat membuatnya merasakan sesak napas. Kami hanya bisa memberikannya oksigen. Itu pun jarang.”
Suyatmi membayangkan anak kecil sepertiBagas harus menghirup oksigen bantuan ketika punggungnya membungkuk kesakitan. Rasa nyeri pasti menghunjam tubuhnya, terutama di bagian punggung.Dan kesakitan itu tidak berkurang karena pasokan oksigen sehingga Bagas masih akan meringis menahan nyeri.
Bayangan tersebut hanya membuat Suyatmi semakin yakin inginmengadopsi Bagas. "Aku akan meyakinkannya untuk mau diadopsi olehku,” kata Nyonya Suyatmi.
Yanto menghela napas. Sepertinya tekad Suyatmi sudah bulat. Kalau sudah begini, dia tidak bisa melakukan apa pun. “Baiklah jika itu keputusan Anda, aku akan memanggilnya kemari," ucap Tuan Yanto beranjak dari kursinya dan memanggil Bagas.
“Terima kasih," balas Nyonya Suyatmi tersenyum.
Tidak lama kemudian, Tuan Yanto datang bersama Bagas yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat di kedua ketiaknya. Peluh turun dari pelipis Bagas. Kedua tangan yang memegang tongkat tampak memerah,menunjukkan betapa susahnya berjalan menggunakan tongkat.
“Bagas, perkenalkan ini Nyonya Suyatmi,” kata Tuan Yanto, tetapi Bagas diam saja.
Nyonya Suyatmi kemudian menghampiri Bagas, membungkuk dan tersenyum di hadapannya. “Aku Nyonya Suyatmi. Senang bertemu denganmu,” sapa Suyatmi.
“Sudah kubilang, aku tidak mau diadopsi siapa pun!” Tiba-tiba Bagas membentak lalu pergi dari ruangan itu dengan tertatih-tatih. Sontak kedua orang dewasa itu terkejut.
“Dasar tidak sopan!" seruTuan Yanto dengan ketus lalu bergegas mengejar Bagas, tapi Nyonya Suyatmi segera menahannya.
__ADS_1
“Tunggu, Tuan, biar aku saja yang bicara padanya,” pinta Nyonya Suyatmi.
“Apa Anda benar-benar yakin ingin mengadopsi anak itu?” tanya Tuan Yanto. Bukan apa-apa, dia hanya khawatir Bagas akan merepotkan Suyatmi dengan sifat keras kepala dan kecacatannya.
“Iya, maka dari itu izinkan aku bicara sendiri dengannya.” Wanita paruh baya itu memohon.
“Terserah Anda saja,” kata Tuan Yanto pasrah.
Nyonya Suyatmi pun langsung menyusul Bagas. Setelah perbincangan yang memakan waktu dan tenaga, akhirnya mereka berdua membuat beberapa kesepakatan.
Nyonya Suyatmi berjanji akan membiayai pengobatan Bagas. Dia juga meyakinkan Bagas bisa sembuh dari penyakitnya. Setelah berpikir panjang, akhirnya Bagas bersedia ikut Suyatmi.
Tapi meskipun Suyatmi bersedia membiayai pengobatan Bagas, Bagas berjanji suatu hari nanti akan menggantinya. Dia tidak ingin dikasihani dan menjadi beban bagi Nyonya Suyatmi. Selain itu Bagas tidak mau diadopsi. Dia hanya ingin ikut untuk sementara waktu dan Tuan Yanto mengizinkannya.
“Iya, terima kasih. Ayo, Bagas, kita masuk,” ajak Nyonya Suyatmi. Bagas pun masuk ke rumah wanita berkeriput itu. Nyonya Suyatmi menuntun Bagas ke ruangan yang dulunya merupakan tempatnya berkumpul dengan anak satu-satunya yang bernama Mira Lesmana dan Gono, suaminya, serta cucunya sebelum mereka meninggal sebelas tahun yang lalu dalam kecelakaan pesawat terbang.
Bagas melihat sebuah foto anak laki-laki yang terlihat lebih muda dari Bagas. Dia sendiri berusia empat belas tahun. "Apa ini foto cucu Nyonya?” tanya Bagas sambil memegang pigura foto.
“Namanya Raka, kalau dia masih hidup mungkin umurnya tidak jauh beda denganmu. Oh ya, jangan panggil Nyonya. Panggil saja Nenek," pinta Nyonya Suyatmi sambil meminum teh.
“Saat aku mendengar kematian mereka, aku sangat terpukul dan hari-hariku jadi terasa sepi,” ceritaNyonya Suyatmi dengan suara lirih. Tangannya bergetar mengingat hari ketika ia pertama kali mendengar berita di televisi mengenai pesawat yang ditumpangi keluarganya tidak tampak di radar sebelum menyusul kabar kecelakaan pesawat pada malam harinya.
__ADS_1
Ia menatap Bagas dengan mata berkaca-kaca. “Maka dari itu aku tau apa yang kamu rasakan. Walau kuyakin hidupmu lebih menyakitkan dariku,” lanjut Nyonya Suyatmi menahan sesak di dada.
“Lalu bagaimana dengan suami Nyonya?” tanya Bagas.
“Suamiku meninggal tujuh tahun yang lalu,” jawab Nyonya Suyatmi lirih seraya menggigit kuat bibir bawahnya.
Sambil memaksakan senyum, ia berkata dengan pelan. "Sekarang sebaiknya kau beristirahat karena besok aku akan mengajakmu kerumah sakit.”
Pagi hari pun tiba. Nyonya Suyatmi mengajak Bagas ke rumah sakit untuk memeriksakan tubuhnya. Di ruangan dengan dinding berwarna putih, dokter memeriksa luka di sekujur tubuh Bagas.
Ia menggeleng dan mendesah pelan.
“Bekas luka di anak ini mirip penyakit TBC. Namun untuk memastikannya, butuh banyak pemeriksaan, cek darah, MRI, dan ronsen,” jelas dokter sambil menurunkan kaus Bagas.
“Apa masih bisa diobati?" tanya Nyonya Suyatmi. Tubuhnya bergerak gelisah seraya menatap cemas sang dokter.
"Kalau itu saya belum bisa memastikan karena lukanya termasuk luka lama. Namun, semoga saja masih bisa. Karena saya melihat masih ada potensi sembuh,” jawab dokter itu.
Bagas, yang tidak pernah mengharapkan apa pun, termasuk peluang kecil kesembuhannya itu, menyela ucapan dokter. “Kalau tidak bisa sembuh juga tidak apa-apa. Aku pasrah."
Dengan cepat dokter menggeleng dan menyanggah ucapan Bagas. ”Bukannya tidak bisa sembuh. Bisa kok, tapi cepat-lambatnya tergantung kamu.”
__ADS_1
"Karena kalau hasil pemeriksaan menunjukkan kamu butuh operasi, kemungkinan kamu harus melakukan operasi berkali-kali dan proses pemulihannya cukup lama," lanjut dokter dengan lugas.
Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊