The Feel

The Feel
gadis pengasuh part 2


__ADS_3

“Aku bisa melaporkanmu karena telah lalai menjaga anak muridmu dan membiarkannyabermain di jalan,” kata Bagas sembari menatap nyalang Kusuma.


Di tengah perseteruan, datang perempuan bernama Intan, teman Kusuma yang juga seorangguru.Awalnya dia sempat terpesona melihat Bagas yang tampan dan terlihat kaya, tapi langsung menuding Bagas ketika mendengarnya mengancam Kusuma.


“Hei, Tuan, kau yang menabrak, kenapa kau yang jadi marah!” bentak Intan, membela Kusuma.


“Iya, jika kau tidak bertanggung jawab, kami akan melaporkanmu,” sahut anak-anak yang lain. Mereka semua menyilangkan tangan di dada, seolah tidak takut padaBagas.


"Itu benar!Jangan mentang-mentang tampan dan kaya, kau bisa seenaknya saja, ya?" lanjut Intan.


“Iya, iya, aku akan bertanggung jawab penuh,” ujar Bagas sambil merogoh saku celananya dan mengambil dompetnya. “Ini kartu namaku, jika ada apa-apa silakan hubungi aku dan maaf aku sedang terburu-buru.” Ia melirik Tino yang masih meniup-niup luka kecil di bahunya lalu memberikan kartu namanya pada Intan.


Kedua mata Intan langsung berbinar-binar ketika membaca jabatan yang tertera di kartu nama tersebut.


Bagas merupakan seorang CEO di suatu perusahaan bernama Bagas Grub


“Adik Kecil,” katanya dengan lembut pada Tino sambil membuka pintu mobil, “jangan khawatir.Jika ada apa-apa, aku akan segera datang.”


Bagas kemudian menoleh Kusuma yang mengawasinya dengan galak dan Intan yang masih sibuk menelaah kartu namanya. “Maaf, nona-nona,bisakah kalian minggir dari jalanan?” pinta Bagas. Pintu mobil ditutup. Kusuma, Intan, dan anak-anak menyingkir agar mobil bisa melaju di jalan.


Namun, Intan mendadak hendak kembali ke tengah untuk melambaikan tangannya ke arah kaca lanskap mobil Bagas. Ia ingin meminta maaf karena sudah marah-marah pada Bagas, tapi Bagas tidak menghiraukannya dan menginjak pedal gas mobilnya untuk melanjutkan perjalanan ke rumah. Intan langsung mengembuskan napas dan memasang wajah cemberut.


Gagal sudah kesempatan untuk menarik hati seorang CEO.


"Ayo, Tino, aku akan membawamu ke klinik,” ajak Kusuma, mengulurkan tangan pada Tino untuk menggandengnya.

__ADS_1


“Tidak perlu, Kak, terima kasih. Kurasa, aku baik-baik saja,” tolak Tino seraya tersenyum dengan sopan.


“Ya sudah, ayo kita kembali ke kelas.Jika kau merasakan sakit, segera beritau Kakak, ya?” pintaKusuma.


“Baik, Kak,” jawab Tino mengangguk pelan.


“Kak Kusuma, aku telah menghukum orang kaya dan sombong itu,” seru seorang gadis kecil yang bernama Ranti sambil menunjukkan sebuah dompet.


Kusuma membuka mulutnya lebar. “Apa kau mencopet dompet orang itu?” pekik Kusuma, memelotot dengan panik.


"Wow, kau dengan mudahnya mencopet dompet pria itu.Berikan padaku!” perintah Intan, tak sabar ingin menginspeksi isi dompet Bagas.


“Iya, Kak.Dia harus mendapatkan hukuman karena telah memarahi Kak Kusuma,” kata Ranti tersenyum lebar dan membusungkan dada.


“Ck!Sudah berapa kali aku katakan untuk tidak melakukan hal seperti itu lagi?Hentikan kebiasaan burukmu!” hardik Kusuma, menatap tajam Ranti yang memberengut.Kusuma tahu Ranti selama ini hidup dijalanan dan menjadikan copet sebagai mata pencariannya sehingga Ranti sangat ahli melakukannya.


Kusuma menghela napas berat sambil memijat keningnya. “Biarpun dia sudah berbuat jahat pada kita, kita tidak boleh membalasnya dengan kejahatan juga karena itu dapat menimbulkan kejahatan yang lain.Apa kau mengerti?” Kusuma mewanti-wanti dengan nada sabar .


“Iya, aku mengerti,” jawab Ranti pelan sambil menunduk dalam.


“Ingat untuk jangan pernah melakukan seperti itu lagi.Kau tau kan resikonya jika nanti kau melakukan itu lagi dan bisa diketahui oleh orang yang kau copet?” tanya Kusuma. Ranti masih mengangguk dengan kepala menunduk.


“Kau belum mengambil apa pun dari dalam dompet ini, kan?” Kusuma menatap Ranti penuh selidik, khawatir uang di dompet Bagas sudah diambil Ranti.


“Tidak, Kak,” jawab Ranti menggeleng pelan.

__ADS_1


Mata kecilnya yang diselimuti penyesalan membuat Kusuma menganggapnya mengatakan hal jujur. Kusuma pun mengangguk.


“Bagus, aku percaya padamu,” ujar Kusuma sambil mengusap kepala Ranti. Dompet yang kini berada di tangan Intan dilirik oleh Kusuma. “Berikan dompet itu padaku, aku akan mengembalikannya.”


“Aku ikut denganmu. Aku ingin sekalian meminta maaf karena telah membentaknya,” kata Intan.


“Kau ingin ikut bukan karena hanya ingin meminta maaf,” Kusuma menyipitkan matanya pada Intan, “pasti kau juga ingin kenalan dengannya ya, kan?” tuduh Kusuma.


“Ya begitulah.Dan apa salahnya?Kuliat diKTP miliknya, dia juga belum menikah dan tidak ada foto wanita didompetnya, kecuali seorang wanita tua yang berfoto dengan dia yang sepertinya dulu masih remaja.” kata Intan.


“Hei!Tidak baik memeriksa dompet seseorang sampai hal privasi seperti itu!” Kusuma memelototi Intan.


Intan mengibas-ngibaskan tangannya. “Aku tidak memeriksa karena foto itu terlihat jelas saat membuka dompetnya.” Baik di foto maupun dilihat secara langsung, menurut Intan, Bagas memang tampan. Sudah begitu, tampan sejak remaja pula.


“Ya sudah, ayo kita kembalikan segera,” ajak Kusuma.


Kusuma adalah guru sekolah untuk anak-anak jalanan yang kurangmampu. Dia mendirikan sekolah itu tanpa menuntut biaya bersama tiga orang temannya: Mela, Ayu,dan Intan. Sekolah itu beroperasi tiga kali dalam seminggu. Kusuma hanya mengajar pada hari Kamis, yang merupakanhari liburnya setelah bekerja sebagai pengantar makanan di sebuah restoran Padang yang cukup besar.


Intan hanya sekadar membantu disaat libur kuliah dan merasa malas kuliah, lalu Sabtu dan Minggu digantikan Ayu dan Mela yang libur bekerja.


Setelah mengemudi beberapa menit, Bagas pun sampai di rumah dan disambut oleh satpam penjaga rumah Nyonya Suyatmi yang bernama Darmin. Bagas melirik jam tangan di lengan kanannya. Dia lantas melotot. “Wah, gawat!Sepertinya aku terlambat!” pekik Bagas, kemudian segeramenyambar kado di kursi penumpang depan dan keluar mobil dengan langkah terburu-buru. Dia berlari bak orang kesetanan ke arah taman,berharap pestanya belum selesai.


“Selamat ulang tahun,Nenekku tercinta!Semoga sehat, berumur panjang, dan selamat dunia-akhirat, dan aku minta maaf datang jika datang terlambat,” kata Bagas begitu sampai, mencondongkan tubuhnya dengan bersemangat untukmencium kedua pipi Nyonya Suyatmi sambil menyerahkan kado.


“Terima kasih banyak,” kata Nyonya Suratmi, melirik sekilas nasi kuning yang disusun menyerupai bentuk kerucut di meja panjang berselimut satin putih.“Kau tidak terlambat karena tumpengnya belum kupotong.”

__ADS_1


“Bagas, sebenernya kau itu terlambat tapi kakakku ini tidak mau menegurmu.” Tuan Andy menyahuti dengan nada malas.


Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊


__ADS_2