
“Terima kasih banyak,” kata Nyonya Suratmi, melirik sekilas nasi kuning yang disusun menyerupai bentuk kerucut di meja panjang berselimut satin putih.“Kau tidak terlambat karena tumpengnya belum kupotong.”
“Bagas, sebenernya kau itu terlambat tapi kakakku ini tidak mau menegurmu.” Tuan Andy menyahuti dengan nada malas.
Bagas menatap Nyonya Suyatmi dengan kerutan yang dalam di dahinya. “Benarkah,Nek?” tanyanya.
“Jangan hiraukan dia, ayo kita potong tumpengnya,” ajak Nyonya Suyatmi.Nyanyian ulang tahun pun dilantunkan secara serempak untuk Nyonya Suyatmi. Tepuk tangan yang seirama juga mengiringi nyanyian mereka.
“Nenek pasti akan suka dengan kado yang kuberikan tadi,” bisikBagas pada Nyonya Suyatmi di tengah-tengah nyanyian dan sorak-sorai.
“Bukankah sudah kubilang kautidak usah membawa kado?” Nyonya Suratmi balas berbisik sambil memelototi Bagas dengan main-main. “Yang kubutuhkan itu hanyalah kau datang kemari membawa pasangan.”
“Maaf,Nek,” sahut Bagas, meringis memikirkan permintaan Nyonya Suratmi,“kalau yang itu aku belum bisa.”
“Kenapa?Kau itukan tampan dan pintar, apa kau tidak menyukai wanita?” tanya Nyonya Suyatmi. Kecurigaan terselip dalam suaranya.
Di sebelah kiri Bagas,Bima melirik Bagas dan Nyonya Suyatmi dengan tatapan sinis.
“Kakak homo?” sahut Andin. Bagas nyaris tertawa melihat kedua mata adik sepupu angkatnya itu membulat sempurna dan kedua alisnya turun dengan putus asa.
“Siapa bilang?Diluar sana itu aku mempunyai banyak wanita tapi tidak ada wanita yang pantas untuk kuperkenalkan pada Nenek,” jawab bagas kemudian, tepat saat lantunan lagu ulang tahun selesai dinyanyikan. Mereka memintaNyonya Suyatmi untuk langsung memotong tumpeng setelah meniup lilin.
“Pokoknya kau harus membawa wanita kemari mumpung aku masih sehat. Bagas, aku ingin kau segera menikah.Jangan kecewakan aku,” kata Nyonya Suyatmi.
Kenapa tiba-tiba Kakak mendesak bocah tengik ini untuk segera menikah?Apa dia ingin memberikan semua warisannya pada bocah tengik ini?tanyaTuan Andy dalam hati.
Bagas meraih tangan Nyonya Suyatmi dan menggeleng-geleng. “Jangan bicara seperti itu.Aku tidak akan membiarkan nenek meninggal dengan cepat.” Banyak sekali hal yang ingin dia berikan pada Nyonya Suyatmi. Bagas tahu sampai kapan pun balas budinya tak akan cukup untuk membayar semua kebaikan Nyonya Suyatmi yang tulus, tapi setidaknya dia ingin sekali melihat Nyonya Suyatmi bahagia karena pencapaian-pencapaiannya.
__ADS_1
“Makannya kau harus segera memperkenalkan seorang gadis,” tutur Nyonya Suyatmi, menepuk pelan bahu cucunya itu,“buatlah aku senang.”
Bagas, yang tak kuasa membantah lagi, hanya sanggup mengangguk dengan pasrah. Baiklah,Nek.Tapi mungkin butuh sedikit waktu untuk menemukan wanita yang pantas kuperkenalkan pada Nenek, katanyadalam hati.
Saat Nyonya Suyatmi sedang memotong tumpengnya, datanglah Darmin. “Tuan Muda Bagas, maaf mengganggu, tadi ada seorang wanita yang mengembalikan dompet Anda,” kata Darmin sambil memberikan dompet milik Bagas.
Seorang wanita? pikir Bagas sejenak sambil memeriksa saku celananya. Bagaimana bisa sampai dompet Bagas berada di tangan seorang wanita? Bagas menoleh Darmin.“Lalu dimana dia?” tanya Bagas.
“Dia sudah pergi, Tuan Muda, tapi dia berpesan agar Tuan Muda Bagas lebih berhati-hati lagi jika naik mobil.” Darmin kemudian membungkuk di hadapan Nyonya Suyatmi.“Saya permisi,Nyonya.”
“Iya,” jawab Nyonya Suyatmi.
Jadi si wanita pengasuh itu?Apakah dompetku tadi jatuh dari saku celana?Atau jangan-jangan ... atau jangan-jangan dia malah mencopet dompetku?kata Bagas dalam hati.
“Kakak, apa yang sudah terjadi?Kenapa dompetmu bisa ada di tangan orang lain?” tanya Andin.
”Memangnya kau habis dari mana sampai dompetmubisa jatuh seperti itu?Apa karena kau gunakan untukmembeli kadoku?” tanya Nyonya Suyatmi.
“Tidak.Ini aku pesan sudah sejak jauh-jauh hari.Tenang saja,Nenek,” terang Bagas lalu berkedip dan memeluk Nyonya Suyatmi.
Esok harinya Kusuma mengantar pesanan makan siang ke sebuah kantor pengiriman paket. Di meja administrasi, Kusuma meletakkan tas kain besar. “Permisi,Nyonya, pesanan nasi padang untuk dua puluh orang sudah siap,” kata Kusum apada wanita yang duduk di balik meja administrasi.
Wanita itu hanya mendongak sekilas dari layar komputernya. “Maaf, Nona, kami sudah memesan makanan lain dan kami tidak akan membayar makanan yang Anda antarkan itu,” jawab wanita di meja administrasi.
Mata Kusuma terbeliak. Sudah jauh-jauh dia mengendarai motor ke kantor ini tapi wanita itu mengusirnya tanpa mau membayar? Kusuma menggertakkan giginya sebelum membalas, “Tapikan Anda sudah memesannya!”
“Dan Nona selalu terlambat. ini sudah lewat jam makan siang. Silakan Nona bawa kembali pesanan itu,” ujar wanita itu sambil mendorong tas kain di meja ke arah Kusuma.
__ADS_1
Kusuma mendesah.
“Ayolah!Jika Nyonya tidak menerima pesanan ini, aku akan dipecat.Lagi pula inikan hanya terlambat lima belas menit saja?Manusia pun tidak akan mati jika terlambat makan hanya lima belas menit!” gerutu Kusuma untuk membela dirinya.Selapar apa sih mereka? Ia jadi ingin menjejalkan nasi-nasi itu langsung ke mulut mereka.
Wanita itu menggeleng. “Bagi kami, waktu itu sangat berharga,Nona, jadi jika Nona tidak ingin dipecat, belajarlah untuk menghargai waktu Nona sendiri.Silakan Nona pergi.Aku akan menelpon kantor Nona untuk menjelaskan mengenai masalah ini.”
Kusuma tersentak saat wanita itu langsung meraih gagang telepon kantor di sebelah layar komputer. Saat wanita itu mulai menekan nomor, seorang pria dari belakang Kusuma berkata, “Tutup telponnya.Aku akan mengganti semua kerugiannya.”
“Tapi,Tuan, ini sudah lewat makan siang.” Wanita itu lalu mengernyit.“Dan maaf, tapiTuan ini siapa?”
Kusuma membalik badan. Mulutnya membulat sempurna. “Kau!” jeritnya.
“Aku adalah utusan dari Suyatmi Jaya Grup. Nanti aku yang akan bicara pada bosmu. Silakan kau tutup telponnya sekarang, biar hal ini aku yang mengurusnya,” kata laki-laki itu.
Wanita di meja administrasi mendadak bangun dari kursinya dan setengah membungkuk ke arah laki-laki itu. “Baik,Tuan Bagas.Tolong maafkan aku, aku sungguh tidak tahu.”
Kebetulan sekali Nyonya Suyatmi mengutus Bagas untuk mensurvei perusahaan ekspedisi kecil yang bekerja sama dengan Suyatmi Jaya Grup itu. Nyonya Suyatmi cenderung menyukai bentuk kerja sama dengan perusahaan-perusahaan kecil karena Nyonya Suyatmi berniat membagi kesuksesannya.
Bagas menatap Kusuma. “Nah, sekarang kau bisa kembali ke kantormu dengan tenang,Nona,” katanya.
Kusuma mengembuskan napas lega. “Terima kasih.”
“Oh iya, tunggu sebentar,Nona, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
Langkah Kusuma terhenti oleh seruan Bagas itu. Kusuma meringis. “Maaf,Tuan, tapi aku tidak punya waktu karena aku masih punya setumpuk pekerjaan,” jawab Kusuma merasa tidak enak.
Bagas menatapnya dengan tegas. Rahangnya tampak kaku. “Ini soal dompetku yang tiba-tiba bisa berada padamu.Bisakah kau menjelaskan itu? Karena jika tidak, urusannya akan menjadi panjang.”
__ADS_1
Bersambung... follow IG faghan_mw author ya dan kasih dukungan jika suka dengan cerita nya😊